JAKARTA, investortrust.id - Menjelang masa libur panjang Lebaran, mata uang rupiah tampil impresif dalam perdagangan yang dipantau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Rupiah ditutup perkasa ke level Rp 15.873 per USD dalam penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (5/4/2024). Mata uang Garuda menguat 34 poin dari penutupan hari sebelumnya di posisi Rp 15.907 per USD.
Dilansir dari Yahoo Finance, kurs rupiah melonjak dalam perdagangan di pasar spot antarbank. Rupiah menguat 50 poin ke level Rp 15.839 per USD dibandingkan sebelumnya Rp 15.889 per USD.
Analis Cheril Tanuwijaya menyoroti pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang melemah. "Sebelumnya, pelaku pasar menilai pasar tenaga kerja AS kuat yang didukung data JOLTS Februari 2024, namun rilis data tenaga kerja terkini menunjukkan hal sebaliknya. Pasalnya, klaim pengangguran mingguan yang berakhir pada 30 Maret 2024 naik ke level tertinggi selama 2 bulan," ucapnya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu di Jakarta, Jumat (5/4/2024).
Analis Mega Capital Sekuritas ini mengatakan, survei CME menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed dilakukan di Juni sebesar 25bps. Ini naik ke 62% dari 60% pada hari sebelumnya.
"Sedangkan bank sentral Eropa, ECB, memperkirakan inflasi sedang berada dalam tren turun sehingga target inflasi 2% bisa terjadi lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Asumsi ECB ini dengan mempertimbangkan tanda-tanda pembalikan harga komoditas energi yang berpotensi melemah," paparnya.
Selain itu, kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, kekhawatiran akan memburuknya konflik di Timur Tengah – ketika Iran mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap Israel, membuat selera risiko sebagian besar tetap lemah. Volume perdagangan valas regional juga melemah karena libur pasar Tiongkok.
Posisi Cadangan Devisa
Sementara itu, Bank Indonesia merilis posisi cadangan devisa Indonesia pada Maret 2024 yang melanjutkan tren penurunan. Bank Indonesia (BI) melaporkan, cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2024 mencapai US$ 140,4 miliar, menurun dibandingkan posisi pada akhir Februari 2024 sebesar US$ 144,0 miliar.
Penurunan posisi cadangan devisa tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, antisipasi kebutuhan likuiditas valas korporasi dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah seiring masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.
Posisi cadangan devisa RI tersebut setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
"Meski turun, posisi cadangan devisa tersebut tetap tinggi. Di samping itu, Bank Indonesia juga menilai cadangan devisa yang mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Ibrahim.
Dalam keterangan resminya, Bank Indonesia memandang cadangan devisa akan tetap memadai. Ini didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi nasional yang terjaga, seiring dengan sinergi respons bauran kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.