Pakar Sebut Tren Pertumbuhan Ekonomi Bisa Ditingkatkan via Wiraswastawan Produsen
JAKARTA, Investortrust.id - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara, Prof Sawidji Widoatmojo mengatakan, tren pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan dapat didorong dengan beralih ke sumber daya manusia (SDM), lebih tepatnya ‘Wiraswastawan Produsen’. Hal ini disampaikannya dalam seminar Pengukuhan Guru Besar Tetap Universitas Tarumanagara di Jakarta Barat.
“Dengan tren pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan 5% per tahunnya akan sulit mewujudkan Indonesia Emas 2045. Maka dari itu, perlu adanya pembaruan keunggulan komparatif dengan beralih dari sumber daya alam (SDA) ke sumber daya manusia (SDM). Spesifiknya di wiraswastawan produsen bukan trader,” ujar Sawidji, Rabu (6/3/2024).
Ia turut menyampaikan, wiraswastawan Indonesia masih memiliki kecenderungan memilih sebagai trader/reseller/pedagang ketimbang menjadi produsen.
“Data menunjukkan dari total perusahaan yang melakukan penjualan di loka pasar hanya 6,28% yang merupakan produsen produk. Sedangkan, 93,72% bertindak sebagai reseller (trader). Data ini diperkuat dengan semakin menurunnya kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Pada 1997 ketika ekonomi indonesia dalam kondisi puncak, peran sektor industri dalam PDB adalah 24,84%. Angka ini terus menurun dan tinggal 18,67% pada tahun 2023,” papar Sawidji.
Baca Juga
Dari sisi lain, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah wiraswastawan produsen masih sangat rendah. Dari 900 perusahaan yang terdaftar di BEI hanya 339 perusahaan yang merupakan perusahaan manufaktur atau sekitar 1/3 saja. Sedangkan, 2/3-nya didominasi oleh jasa dan trader.
Adapun beberapa syarat yang ditawarkan Sawidji untuk mewujudkan keunggulan di bidang kewiraswastaan ini seperti pemenuhan karakteristik produk domestik hingga proteksi kepada wiraswastawan produsen.
“Pertama harus memenuhi karakteristik ekonomi Indonesia yang didominasi oleh ekonomi domestik, data BPS (badan pusat statistik) 2019 saat pandemi Covid-19 mencatat konsumsi rumah tangga yang menyumbang 56,62% terhadap PDB,” imbuhnya.
Syarat kedua yang ditawarkan adalah produk yang dipilih secara relevan dengan keunggulan komparatif dan memiliki elastisitas permintaan rendah.
“Studi lengkap United Nations Conference and Trade Development menunjukkan pada saat pandemi Covid-19 hanya 2 komoditi yang mencatat pertumbuhan (ekonomi) yaitu pertanian & makanan serta energi. Dengan demikian, pilihan produk yang diproduksi adalah industri pertanian, makanan dan energi,” lanjut Sawidji.
Syarat ketiga, memperhatikan nilai budaya seiring kuatnya konsumsi domestik. “Maka perlu diperhatikan pilihan produk-produk yang berkaitan dengan budaya lokal seperti Produk Seni dan Pariwisata. Produk makanan juga harus memenuhi syarat ini karena makanan berkaitan erat dengan produk budaya,” tutur Sawidji.
Sawidji menyampaikan, setelah persyaratan tersebut sudah terpenuhi maka langkah berikutnya adalah pembagian tugas dari Pemerintah dan Perguruan Tinggi untuk mewujudkan wiraswastawan produsen yang berkelanjutan (sustain).
“Yang terpenting adalah Proteksi, menjamin adanya ‘fair trade competition’ dan perlindungan hak cipta dari Pemerintah. Sedangkan, Perguruan Tinggi memiliki peran dalam mencetak inovator-inovator dan wiraswastawan untuk mewujudkan keberlanjutan Kewiraswastaan Produsen ini,” jelasnya. (CR-3)

