KSSK Ingatkan Suku Bunga The Fed Masih akan “Higher for Longer"
JAKARTA, Investortrust.id – Kendati Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserves (The Fed) menahan tingkat suku bunganya di level 5,25-5,50% pada pertemuan FOMC kemarin, Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang juga Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut bahwa The fed masoh berpotensi menerapkan tingkat suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama, atau diistilahkan higher for longer.
Menurut Sri Mulyani, ekonomi global masih bergerak melambat dengan ketidakpastian yang tinggi, disertai divergensi atau perbedaan pertumbuhan antar nnegara yang semakin melebar. Sehingga Dana Moneter Internasional (IMF) pun memprediksi di tahun 2023 pertumbuhan tercatat sebesar 3%, dan akan melambat pada tahun 2024 menjadi 2,9%.
Baca Juga
Ekonomi di Amerika Serikat pada tahun ini, kata Sri Mulyani, masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat ditopang konsumsi rumah tangga dan sektor jasa. DI sisi lain perekonomian ChIna justru melambat akibat perlemahan konsumsi dan krisis di sektor properti.
“Tekanan inflasi diperkirakan masih tinggi, akibat kenaikan harga energi dan pangan akibat eskalasi konflik geopolitik, dan terjadinya fragmentasi ekonomi dan fenomena el Nino. Untuk mengendalikan inflasi, suku bunga kebijakan moneter di negara-negara lain seperti FFR diperkirakan masih akan tetap berada di level yang tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, higher for longer,” ujar Sri Mulyani.
Baca Juga
Masih menurut Sri Mulyani, kenaikan suku bunga global diperkirakan akan diikuti dengan kenaikan yield obligasi tenor jangka panjang di negara-negara maju, khususnya obligasi negara AS. Kenaikan yield merupakan akibat peningkatan kebutuhan pembiayaan pemerintah AS (lewat penerbitan SBN lebih besar, red), dan adanya premi risiko jangka panjang, atau term premia.
Perkembangan ini tentunya telah memicu aliran modal asing keluar dari emerging market ke ngeara-negara maju dan mendorong penguatan signifikan mata uang dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia.

