Jelang Pertemuan The Fed, Kurs Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 15.654/USD
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada Senin (18/3/2024) pagi. Pelemahan mata uang Garuda ini terjadi menjelang pertemuan The Fed atau Federal Open Market Committee (FOMC), yang dijadwalkan pada 19-20 Maret 2024 waktu Amerika Serikat.
Kurs rupiah terhadap greenback tercatat di level Rp 15.654 per USD hingga pukul 9.32 WIB. Berdasarkan data yang dilansir Yahoo Finance, rupiah melemah 65 poin atau 0,42% dibanding perdagangan terakhir hari sebelumnya.
Baca Juga
IHSG Awal Transaksi Lanjutkan Koreksi, Saham MITI, NICE, dan KARW Perkasa
Sementara itu, berdasarkan data yang diolah Riset Investortrust.id, secara year to date, rupiah melemah terhadap USD. Koreksinya mencapai sekitar 1,76%.
Sementara itu, nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,25% terhadap yuan Cina (offshore) pada pagi ini, menjadi Rp 2.173,40 per yuan. Sedangkan secara ytd terkoreksi 0,22%.
Melemah Setelah Cuti Bersama
Berdasarkan data Jisdor yang dirilis Bank Indonesia, rupiah tergelincir sejak perdagangan kembali dibuka pada Rabu minggu lalu, setelah cuti bersama nasional. Data terakhir yang dirilis 15 Maret lalu mencatat, nilai tukar rupiah Rp 15.624 per USD.
| Pergerakan rupiah berdasarkan data kurs Jisdor. Sumber: BI. |
Baca Juga
Harga Emas Batangan Antam Parkir pada Level Rp 1,19 Juta per Gram
"Pekan ini, fokus pelaku pasar akan tertuju pada FOMC The Fed pada Kamis, 21 Maret 2024 (waktu Indonesia). Berdasarkan survei, 98% pelaku pasar melihat tidak ada perubahan suku bunga Bank Sentral AS, sehingga pasar lebih menantikan proyeksi ekonomi dari The Fed," kata analis Mega Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Senin (18/3/2024).
Selain itu pada Jumat, 22 Maret 2024, merupakan jatuh tempo utang pemerintah Amerika Serikat. Pelaku pasar menanti kembali apakah ada persetujuan kenaikan plafon utang oleh legislatif ataukah akan terjadi shutdown dari layanan pemerintahan di negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.
Dari Asia, lanjut dia, pelaku pasar menanti berbagai rilis data ekonomi Tiongkok di hari Senin 18 Maret 2024. Ini mencakup produksi industri dan penjualan retail yang diperkirakan turun, serta tingkat pengangguran yang diperkirakan tetap di level 5,1%. Pelaku pasar masih mencermati sejauh mana pemulihan ekonomi yang terjadi di Tiongkok, setelah pekan lalu rilis data indeks harga konsumen menunjukkan negara dengan penduduk dan perekonomian terbesar di dunia itu berhasil keluar dari posisi deflasi.
"Pekan ini, pelaku pasar domestik akan menantikan hasil RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) dan proyeksi ekonomi oleh BI pada Rabu mendatang," kata Cheril.

