Bank Sentral Inggris Putuskan Suku Bunga Tetap 5,25%
JAKARTA, Investortrust.id - Bank sentral Inggris, Bank of England (BoE) memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga pada 5,25% pada pertemuan yang digelar Kamis (21/9/2023), mengakhiri rangkaian 14 kali kenaikan cost borrowing berturut-turut.
Komite Kebijakan Moneter BoE (MPC) sebelumnya diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk yang ke-15 kalinya. Namun sentimen pasar berubah ketika data menunjukkan penurunan tak terduga tingkat inflasi pada hari Rabu (20/9/2023).
Pada akhirnya, MPC memberikan suara lima banding empat untuk mempertahankan suku bunga. Empat anggota MPC memang memilih untuk menaikkan suku bunga menjadi 5,5%
Baca Juga
Keputusan ini adalah kali pertama Bank of England berhenti meningkatkan suku bunga sejak November 2021.
Melansir data statistik yang dilansir pemerintah Inggris, Indeks Harga Konsumen turun menjadi 6,7% pada bulan Agustus, setelah sebelumnya mencapai 6,8% pada bulan Juli, dan berada pada level terendah sejak Februari tahun lalu.
Baca Juga
The Fed Pertahankan Suku Bunga, Indikasikan Masih Ada Kenaikan Tahun Ini
"Inflasi telah turun banyak dalam beberapa bulan terakhir, dan kami percaya bahwa akan terus turun. Itu adalah kabar baik," kata Gubernur Bank Sentral Inggris, Andrew Bailey seperti dilansir thenationalnews.com. "Namun, tidak ada ruang untuk rasa puas diri. Kami perlu memastikan bahwa inflasi kembali normal, dan kami akan terus mengambil keputusan yang diperlukan untuk mencapai hal tersebut," imbuhnya.
Dalam suratnya kepada pemerintah Inggris, Bailey mencantumkan beberapa faktor yang mengarahkan keputusan para pembuat kebijakan. Inflasi harga makanan tampaknya telah mencapai puncaknya, kenaikan harga barang konsumen inti mulai melandai, dan tekanan biaya eksternal telah mereda.
Namun, ada juga bahaya yang perlu dipertimbangkan. Menurut Bailey, inflasi jasa diperkirakan akan tetap tinggi, pertumbuhan penghasilan mingguan berada di atas tingkat inflasi sebesar 8,1%, dan harga minyak berada dalam tren kenaikan.
Bailey mengatakan bahwa kebijakan moneter perlu cukup ketat untuk mencapai target inflasi utama sebesar 2%, sambil mencatat potensi ancaman dari "efek putaran kedua dari guncangan biaya eksternal terhadap inflasi dalam upah dan harga domestik".
"Peminjam dan pemegang hipotek akan merasa lega, tetapi Bank of England masih memiliki beberapa keputusan sulit di depan," kata Russ Mould, direktur investasi di AJ Bell, kepada The National.
"Perekonomian sebenarnya tidak tumbuh, dan indeks manajer pembelian mungkin akan memperingatkan tentang perlambatan di masa mendatang, sementara kenaikan harga minyak, kenaikan harga sewa, dan penurunan sterling yang baru (yang meningkatkan biaya impor) semuanya dapat memicu inflasi jika mereka berkelanjutan," kata Mould.

