Kemenkeu Siapkan 3 Antisipasi Efek Perlambatan Global
JAKARTA, Investortrust.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan menyiapkan tiga langkah antisipatif terhadap dampak perlambatan ekonomi global. Antisipasi ini untuk menjaga pergerakan surplus neraca perdagangan tetap tumbuh.
“Pemerintah akan terus memantau dampak perlambatan global terhadap ekspor nasional, serta menyiapkan langkah antisipasi melalui dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi SDA, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, dalam keterangan resminya, Jumat (17/11/2023).
Febrio mengatakan neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2023 mencatatkan surplus sebesar US$ 3,48 miliar month to month (mtm).
Baca Juga
BI: Sektor Keuangan RI Punya Ketahanan Hadapi Buruknya Ekonomi Global
Meskipun demikian, surplus Oktober 2023 ini turun US$ 2,12 miliar dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun 2022 (year on year/yoy).
“Meski mengalami penurunan, neraca perdagangan Indonesia yang masih surplus di Oktober ini mencerminkan daya tahan Indonesia di tengah risiko global yang masih eskalatif," ujar dia.
Febrio mengatakan, peningkatan risiko ekonomi global akan terus diwaspadai dengan terus memantau dan menyiapkan berbagai opsi bantalan kebijakan untuk meredam gejolak global dan menjaga stabilitas dan kinerja ekonomi.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor Indonesia pada Oktober 2023 tercatat US$ 22,15 miliar, turun sebesar 10,43% (yoy), terutama karena high base effect tahun lalu serta menurunnya harga komoditas tahun ini. Penurunan tersebut terjadi pada semua sektor, yaitu sektor industri pengolahan (5,03%, yoy), pertambangan (28,57%, yoy), dan pertanian (21,58%, yoy).
Meskipun dari sisi nilai mengalami penurunan, namun volume ekspor mengalami kenaikan sebesar 7,16% (yoy). Febrio menyebut kenaikan ini sebagai indikasi bahwa permintaan dari negara-negara mitra masih cukup kuat.
Secara kumulatif, ekspor Indonesia selama periode Januari – Oktober 2023 mencapai US$ 214,41 miliar.
Baca Juga
Ekonomi Global Masih Diselimuti Ketidakpastian, Sri Mulyani Ingatkan Ini...
Febrio mengatakan kinerja perdagangan yang melambat tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga terjadi di negara-negara mitra dagang Indonesia. Meskipun perekonomian Amerika Serikat (AS) dalam tren menguat, impor AS dari global secara keseluruhan masih terkontraksi.
Penurunan impor AS ini terutama karena tren penguatan ekonomi Paman Sam yang lebih banyak ditopang oleh sektor jasa domestik. Nilai ekspor Indonesia ke AS terkontraksi sebesar -0,51% (mtm).
Demikian pula perlambatan aktivitas ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Kondisi ekonomi di kawasan menyebabkan ekspor ke Singapura dan Malaysia terkontraksi masing-masing sebesar 4,73% dan 2,28% (mtm). Namun, ekspor ke China masih tumbuh sebesar 11,96% (mtm) di tengah perlambatan ekonomi negara itu.
Impor Indonesia pada Oktober 2023 mencatatkan nilai sebesar US$ 18,67 miliar atau turun 2,42% (yoy). Penyebab utama turunnya kinerja impor tersebut adalah penurunan impor bahan baku/penolong sebesar 6,08% (yoy).
Sementara impor barang konsumsi dan barang modal tumbuh masing-masing sebesar sebesar 3,83% dan 11,08% (yoy). Secara kumulatif, impor Indonesia pada periode Januari – Oktober 2023 mencapai US$ 183,19 miliar.
Surplus neraca perdagangan Indonesia telah berlangsung selama 42 bulan secara berturut-turut. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan selama periode Januari – Oktober 2023 mencapai US$ 31,22 miliar. (CR-7)

