Yield Obligasi AS Turun, Pasar Antisipasi Perlambatan Ekonomi dan Dampak Tarif
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat melemah di awal pekan, mencerminkan sentimen pasar yang mulai mencermati risiko perlambatan ekonomi serta dampak jangka pendek dari kebijakan tarif.
Baca Juga
Pasar Tenaga Kerja AS Solid, Yield USTreasury 10 Tahun Naik Tajam
Di tengah minimnya pernyataan dari pejabat Federal Reserve akibat memasuki periode blackout, investor memfokuskan perhatian mereka pada data ekonomi yang dirilis Senin serta penjadwalan data utama pekan ini.
Yield Treasury tenor 10 tahun turun lebih dari 4 basis poin ke 4,384%, penurunan yang mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset defensif. Sementara itu, imbal hasil tenor pendek dua tahun turun ke 3,861%, dan obligasi 30 tahun mencatat penurunan serupa ke 4,95%.
Koreksi imbal hasil ini terjadi setelah The Conference Board merilis penurunan Leading Economic Index (LEI) sebesar 0,3% pada Juni ke level 98,8 — lebih dalam dari ekspektasi Dow Jones yang memproyeksikan penurunan 0,2%. Indikator ini kerap dibaca sebagai sinyal awal arah ekonomi dalam enam hingga sembilan bulan ke depan.
“Untuk saat ini, kami tidak memproyeksikan resesi, tetapi laju pertumbuhan akan melambat signifikan pada 2025,” ujar Justyna Zabinska-La Monica, manajer senior indikator siklus bisnis The Conference Board, seperti dikuti[ CNBC. Ia memperkirakan pertumbuhan PDB riil AS hanya 1,6% tahun ini, dengan efek tarif baru mulai terasa di semester kedua saat tekanan harga menggerus daya beli rumah tangga.
Dampak dari kebijakan tarif kembali mencuat setelah Gedung Putih menegaskan bahwa semua negara mitra dagang harus mulai membayar tarif ekspor ke AS mulai 1 Agustus. Menteri Perdagangan Howard Lutnick menyebut tenggat itu sebagai “garis mati”, namun membuka peluang negosiasi lanjutan setelah tanggal tersebut.
Baca Juga
Mendag AS: ‘Deadline’ Tarif 1 Agustus, tapi Negosiasi Masih Terbuka
“Negara-negara tetap bisa berdialog dengan kami setelah 1 Agustus, tetapi mereka tetap harus mulai membayar tarif pada hari itu,” tegas Lutnick.
Pasar kini menanti pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang dijadwalkan Selasa pagi waktu setempat. Di tengah tidak adanya komentar publik lain dari pejabat The Fed karena aturan blackout menjelang pertemuan FOMC pekan depan, arah kebijakan suku bunga akan sangat dipengaruhi oleh data-data ekonomi yang akan dirilis pekan ini. Penjualan rumah eksisting (Rabu), klaim pengangguran (Kamis), dan pesanan barang tahan lama (Jumat) diperkirakan memberi sinyal lanjutan terhadap kekuatan permintaan domestik.
Kombinasi antara tekanan harga akibat tarif dan potensi penurunan belanja konsumen akan menjadi variabel penting dalam proyeksi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga. Meskipun ekspektasi pemangkasan suku bunga tetap ada, pasar obligasi kini memperhitungkan risiko makro yang lebih kompleks dibanding beberapa bulan lalu.

