Bapanas Tepis Anggapan Harga Beras di Petani Jatuh Akibat Impor
JAKARTA, Investortrust.id - Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi menampik anggapan bahwa harga jual beras di tingkat petani jatuh di bawah harga pasar, sebagai imbas dari kebijakan impor beras.
Hal ini disampaikan Arief Prasetyo Adi saat mendampingi Presiden Joko Widodo memastikan bantuan pangan beras di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terlaksana dengan baik, Rabu (31/1/2024). Mengutip data dari Badan Statistik Pusat (BPS), Arief menyebut justru Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) di Desember 2023 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
"Jadi kalau ada yang menyampaikan harga di tingkat petani jatuh di bawah, tidak benar. Hari ini confirmed, harga di tingkat petani, NTPP itu harga terbaik itu, di tahun ini. Harga di petani tinggi, gabah di atas Rp 7.000, ada yang Rp 8.000," kata Arief dilansir laman Setpres RI..
Baca Juga
"Kemudian di hilir karena harga gabah itu Rp 7.000, secara mudah kalau harga Rp 7.000-8000 maka secara mudah harga berasnya itu dua kali lipat. Kalau Rp 8.000 berarti Rp 16.000, kalau Rp 7.000 berarti Rp 14.000, sehingga Bapak Presiden memerintahkan saya dan Dirut Bulog untuk melakukan bantuan pangan, tentunya untuk 22 juta KPM," sambungnya.
"Jadi bantuan pangan beras dilaksanakan bukan karena Januari Februari Maret ini jelang Pemilu, tidak begitu. Ini dari tahun lalu pun juga sudah ada dan ini akan terus dikerjakan, sampai nanti akan terus dikerjakan karena saudara-saudara kita yang 22 juta KPM, ini memang sangat memerlukan," tandasnya.
Kepala NFA Arief Prasetyo Adi berharap dampak perekonomian terkait penguatan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog bisa berimplikasi positif di dalam negeri. Langkah importasi, kata Arief, terpaksa dilakukan agar pemerintah tetap punya CBP yang secured.

