4 Ekonom Ini Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 5-5,28% di Kuartal III-2026, Ini Pendorongnya
JAKARTA, investortrust.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 diperkirakan tetap bertahan di level 5%, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya. Sejumlah ekonom memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia berada di kisaran 5%-5,28% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 pada Kamis (5/11/2026). Sebelumnya, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada kuartal II-2026 dan 5,61% pada kuartal I-2026.
Ekonom Bank Danamon Prediksi 5%
Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 mencapai sekitar 5% YoY. Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 5,29%.
Menurut Faiz, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Namun, konsumsi rumah tangga diperkirakan sedikit lebih moderat, sedangkan kebutuhan impor yang tinggi membatasi kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi.
Indikator konsumsi memang menunjukkan pemulihan, tetapi masih terbatas dan belum merata. Penjualan ritel tercatat tumbuh 1,1% pada Juli 2026 dan 1,3% pada Agustus 2026. Sementara itu, pertumbuhan penjualan ritel September diperkirakan mencapai 1,4%. Di sisi lain, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun dari 109,4 pada Agustus menjadi 107,5 pada September 2026. Meski demikian, indeks tersebut masih berada di zona optimistis.
Faiz menilai investasi dan belanja pemerintah menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2026. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit investasi yang mencapai 23,2% secara tahunan pada September 2026 dan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang berada di level ekspansi 52,4.
Selain itu, belanja negara hingga September 2026 tumbuh 19%. "Jadi, perkiraan perlambatan ke sekitar 5,0% mencerminkan konsumsi yang lebih tertahan dan kontribusi ekspor neto yang terbatas, sementara investasi dan fiskal tetap menjadi penyangga pertumbuhan," kata Faiz.
Ekonom Bank Permata Targetkan 5,23%
Sementara itu, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,23% YoY pada kuartal III-2026. Proyeksi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal II-2026 sebesar 5,29% dan kuartal I-2026 sebesar 5,61%.
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang sembilan bulan pertama 2026 diperkirakan mencapai 5,37%. Josua menilai perekonomian Indonesia masih memiliki ketahanan yang cukup baik di tengah tekanan eksternal. Namun, pertumbuhan tersebut belum menunjukkan akselerasi yang merata.
Menurut dia, persoalan utama bukan sekadar kemampuan ekonomi untuk tumbuh di atas 5%, melainkan sejauh mana pertumbuhan tersebut ditopang peningkatan pendapatan riil masyarakat, penciptaan lapangan kerja formal, serta pemulihan sektor-sektor padat karya.
LPEM UI Ekspektasi 5,28%
Proyeksi yang sedikit lebih tinggi disampaikan Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky.
LPEM FEB UI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 berada di rentang 5,25%-5,29% YoY, dengan titik proyeksi sebesar 5,28%. Namun, LPEM FEB UI menilai pertumbuhan ekonomi yang dirasakan masyarakat jauh lebih rendah, yakni diperkirakan hanya berada di kisaran 4,72%-4,76% YoY.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah pelemahan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Meski masih berada di zona optimistis, rata-rata IKK kuartal III-2026 tercatat sebesar 117,8 atau turun 2,8 poin dibandingkan rata-rata kuartal II-2026 sebesar 120,6. Angka tersebut juga lebih rendah 7,2 poin dibandingkan rata-rata kuartal I-2026.
Pada September 2026, rumah tangga menjadi kurang optimistis terhadap kondisi pendapatan saat ini dan ketersediaan lapangan kerja. Hal ini tercermin dari Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) yang turun menjadi 114,6. Sementara itu, Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) sedikit membaik.
Prasasti Targetkan 5,2%
Sementara itu, Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 mencapai sekitar 5,2% YoY. Pemulihan ekspor manufaktur menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan konsumsi rumah tangga dan meningkatnya risiko eksternal.
Prasasti juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada di kisaran 5,2%-5,4%. Batas atas proyeksi tersebut sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi pemerintah dalam APBN 2026 sebesar 5,4%.
Dari sisi domestik, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi meskipun momentumnya mulai melemah. Penjualan eceran riil kembali tumbuh 1,3% setelah mengalami kontraksi pada kuartal II-2026. Namun, pertumbuhan transaksi kartu dan uang elektronik melambat. Tingkat keyakinan konsumen juga mengalami penurunan meskipun masih berada di zona optimistis.
Prasasti mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang relatif solid pada kuartal III-2026 belum sepenuhnya mencerminkan tekanan yang berpotensi muncul pada periode berikutnya. Dampak kenaikan harga minyak, fenomena El Niño, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diperkirakan baru terasa lebih kuat pada kuartal IV-2026.
