Realisasi Belanja Negara Turun 4,7% per Oktober 2023
JAKARTA, Investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani mengatakan realisasi belanja pemerintah hingga Oktober 2023 mencapai Rp 2.240,8 triliun atau 73,2% dari pagu. Angka ini mencerminkan penurunan 4,7% year on year (yoy).
“Ini artinya total belanja dari tahun lalu turun 4,7% year on year (yoy). Dari posisi akhir Oktober 2023,” kata Sri Mulyani saat paparan ABPN Kita, Jumat (24/11/2023).
Sri Mulyani mengatakan APBN telah mengeluarkan anggaran belanja untuk pemerintah pusat sebesar Rp 1.572,2 triliun atau 70% dari pagu. Belanja tersebut untuk belanja pegawai, barang, modal, dan bansos K/L sebesar Rp768,7 triliun.
Baca Juga
“Terutama belanja pelaksanaan pemilu, pembangunan IKN, penyelesaian infrastruktur prioritas, dan belanja bansos,” kata dia.
Sementara itu, Sri Mulyani menyebut belanja non-K/L pemerintah mengucurkan Rp 803,6 triliun, atau 64,5% dari pagu. Dia mengatakan biaya tersebut untuk merealisasikan subsidi dan kompensasi BBM dan listrik, program prakerja, dan pemenuhan subsidi pupuk.
“Dan untuk pembayaran pensiun,” kata dia.
Sri Mulyani mengatakan dengan total belanja ini, belanja pemerintah pusat dibanding tahun lalu mengalami penurunan sebesar 5,9%. Untuk itu, Bendahara Negara akan menyisir belanja K/L dan non-K/L jelang akhir tahun.
Baca Juga
Pemerintah dan DPR Bahas Postur RUU APBN 2024, Ini Dia Hasilnya
“Untuk melihat apakah mereka bisa merealisir seluruh alokasi yang sudah di pagu-kan dalam APBN,” ucap dia.
Berdasarkan manfaat langsung ke masyarakat, Sri Mulyani menyebut belanja pemerintah pusat secara mencapai Rp 899,1 triliun. Belanja terdiri dari tiga sektor perlindungan sosial, petani, dan UMKM; pendidikan, dan infrastruktur.
Realisasi yang terbesar berupa pembangunan infrastruktur sebesar Rp 129,7 triliun, subsidi dan kompensasi BBM sebesar Rp 97,2 triliun, dan subsidi listrik sebesar Rp 83,4 triliun.
Sementara itu, untuk belanja melalui pemerintah daerah, pemerintah pusat telah mentransfer Rp 668,5 triliun kepada seluruh pemda. “Ini agak lebih rendah 1,6% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 679,2 triliun,” ucap dia. (CR-7)

