Gubernur BI Jelaskan Pelemahan Rupiah Hingga Rp 18.145 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan posisi nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan pada Oktober dan November 2026. Destry menyebut, rupiah sempat mengalami penguatan di level Rp 17.830 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir September.
“Namun, di bulan Oktober dan November mengalami pelemahan sehingga posisi di 2 November menjadi Rp 18.145 per dolar AS,” kata Destry, saat Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV Tahun 2026, di gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Menurut Destry, pelemahan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, terdapat masalah dari berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter di AS.
“Serta sentimen investor global terhadap aset negara berkembang,” kata dia.
Baca Juga
Ketua KSSK Masih Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 di Rentang 5,4%-5,5% Secara Tahunan
Destry menjelaskan aliran investasi portofolio asing pada kuartal III-2026 mencatat net outflows sebesar US$ 0,08 miliar. Ini terutama disebabkan outflows dari pasar saham.
Pada awal kuartal IV-2026, hingga 23 Oktober 2026, arus modal asing membaik dengan catatan net inflows sebesar US$ 0,04 miliar. Arus modal asing yang masuk ditopang oleh investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Dengan perkembangan tersebut, aliran investasi portofolio asing sepanjang Januari hingga 23 Oktober 2026 tercatat net inflows sebesar US$ 13,23 miliar,” kata dia.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tetap kuat. Tercatat cadangan devisa mencapai US$ 146,3 miliar atau setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dengan pembayaran utang luar negeri.
