Penumpang Pesawat Turun, Kereta Terus Melaju
Poin Penting
|
Penumpang udara domestik September 2026 turun 12,39% secara tahunan. Kereta mencatat pertumbuhan penumpang, sementara angkutan laut menjadi penopang kenaikan pengiriman barang.
JAKARTA, Investortrust.id — Kinerja angkutan Indonesia pada September 2026 bergerak tidak seragam. Jumlah penumpang pesawat domestik dan internasional menurun secara bulanan maupun tahunan, sedangkan angkutan kereta mencatat pertumbuhan. Pada pengiriman barang, angkutan laut meningkat ketika kargo udara domestik dan kereta melemah.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS yang dirilis Senin (02/11/2026), jumlah penumpang angkutan udara domestik pada September mencapai 4,22 juta orang. Jumlah tersebut turun 12,81% dibandingkan Agustus 2026 dan 12,39% dibandingkan September 2025.
Pada Agustus 2026, penumpang udara domestik mencapai sekitar 4,84 juta orang, sedangkan September 2025 sekitar 4,82 juta orang. Dengan demikian, penerbangan domestik mengalami penurunan terbesar di antara moda penumpang yang ditampilkan BPS, baik secara bulanan maupun tahunan.
Di antara lima bandara utama yang disajikan, keberangkatan penumpang domestik melalui Soekarno-Hatta mencapai sekitar 1,15 juta orang. Bandara Juanda mencatat 372,8 ribu orang, Ngurah Rai 325,9 ribu orang, Hasanuddin 208,6 ribu orang, dan Kualanamu 150,8 ribu orang.
Penumpang angkutan udara internasional mencapai 1,74 juta orang pada September 2026, turun 8,99% dibandingkan Agustus dan 2,92% dibandingkan September 2025. Sebagai pembanding, jumlahnya sekitar 1,91 juta orang pada Agustus dan 1,79 juta orang pada September tahun lalu.
Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta menjadi pintu keberangkatan utama penerbangan internasional dalam rincian lima bandara yang ditampilkan. Ngurah Rai mencatat sekitar 826 ribu penumpang dan Soekarno-Hatta 690,9 ribu penumpang. Berikutnya Juanda 95,6 ribu, Kualanamu 88,8 ribu, dan Hasanuddin 6,6 ribu penumpang.
Penurunan juga terjadi pada angkutan laut domestik secara bulanan. Jumlah penumpang September mencapai 2,45 juta orang, turun 10,11% dibandingkan Agustus. Namun, dibandingkan September 2025, jumlah tersebut masih meningkat 2,61%.
Pada angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP), penumpang mencapai 4,23 juta orang. Jumlahnya turun 9,18% dibandingkan Agustus, tetapi naik 7,54% dibandingkan September tahun lalu.
Perkembangan angkutan laut dan penyeberangan menunjukkan bahwa pelemahan dibandingkan bulan sebelumnya tidak selalu berarti penurunan terhadap tahun lalu. Kedua moda tersebut masih mencatat pertumbuhan tahunan.
Angkutan kereta menjadi satu-satunya moda penumpang dalam rilis yang meningkat secara bulanan. Jumlah penumpangnya mencapai 48,55 juta orang, naik 0,47% dibandingkan Agustus 2026 dan 7,83% dibandingkan September 2025.
Pada Agustus, jumlah penumpang kereta sekitar 48,32 juta orang, sedangkan September tahun lalu 45,02 juta orang.
Rincian angkutan kereta menunjukkan layanan Jabodetabek mendominasi dengan sekitar 30,88 juta penumpang. Layanan Jawa non-Jabodetabek mencatat sekitar 8,22 juta penumpang dan layanan non-Jawa sekitar 607 ribu penumpang.
MRT mengangkut sekitar 4,28 juta penumpang, LRT 3,44 juta penumpang, kereta bandara 619 ribu penumpang, dan Kereta Cepat Whoosh 498,6 ribu penumpang.
Besarnya penggunaan layanan perkotaan menunjukkan bahwa jumlah penumpang kereta tidak hanya mencerminkan perjalanan wisata atau antarkota, tetapi juga mobilitas rutin masyarakat. Data penumpang antarjenis moda karena itu perlu dibaca sesuai cakupan layanannya.
Pada angkutan barang, transportasi laut domestik mencatat kinerja paling kuat. Volume barang yang diangkut mencapai 48,19 juta ton pada September 2026, meningkat 1,10% dibandingkan Agustus dan 10,81% dibandingkan September 2025.
Sebagai pembanding, angkutan barang laut domestik pada Agustus mencapai 47,66 juta ton, sedangkan September tahun lalu 43,49 juta ton.
Dalam rincian lima pelabuhan utama, volume barang di Tanjung Perak mencapai sekitar 1,60 juta ton dan Tanjung Priok 1,37 juta ton. Pelabuhan Panjang mencatat sekitar 471,8 ribu ton, Makassar 182,9 ribu ton, dan Balikpapan 96,4 ribu ton.
Sebaliknya, angkutan barang melalui udara domestik mencapai sekitar 0,047 juta ton atau 47 ribu ton. Volumenya turun 4,05% dibandingkan Agustus dan 7,78% dibandingkan September tahun lalu.
Pada lima bandara utama yang ditampilkan, volume kargo domestik melalui Soekarno-Hatta mencapai sekitar 14,7 ribu ton, Sentani 7,5 ribu ton, Juanda 3,3 ribu ton, Hasanuddin 3,1 ribu ton, dan Halim Perdanakusuma 1,1 ribu ton.
Angkutan barang kereta mencapai sekitar 5,97 juta ton, turun 4,65% secara bulanan dan 4,61% secara tahunan. Volume tersebut didominasi angkutan di Sumatera sekitar 5,20 juta ton, sedangkan Jawa non-Jabodetabek sekitar 766,5 ribu ton.
Perbedaan kinerja penumpang dan barang memperlihatkan bahwa aktivitas transportasi tidak bergerak dalam satu arah. Kereta mencatat penguatan mobilitas penumpang, tetapi angkutan barangnya menurun. Sebaliknya, angkutan laut barang tetap tumbuh meskipun jumlah penumpang laut berkurang dibandingkan bulan sebelumnya.
Data tersebut belum cukup untuk menyimpulkan penyebab perubahan atau terjadinya perpindahan penumpang antarmoda. Namun, angkanya memperlihatkan dengan jelas bahwa pertumbuhan transportasi September bertumpu pada penumpang kereta dan pengiriman barang melalui laut, sementara penerbangan menghadapi penurunan permintaan yang tercermin dalam jumlah penumpang.
