Ekonomi Tumbuh, tapi Mesin Pertumbuhannya Tidak Sama Kuat
“Membaca sinyal triwulan III 2026 sebelum angka PDB diumumkan”.
Oleh: Andri Yudhi Supriadi - Pemerhati Statistik dan Kebijakan Sosial Ekonomi, Alumni Universitas Indonesia
INVESTORTRUST - Ekonomi tidak menunggu angka PDB untuk memberi kabar. Toko merasakan perubahan pembeli, pabrik melihat pesanan, kontraktor menghitung proyek, dan pemerintah mencairkan anggaran. Nowcasting menyatukan sinyal itu sebelum statistik resmi terbit, lalu menguji apakah semuanya mengarah pada cerita yang sama. Data hingga 28 Oktober menunjukkan ekonomi masih tumbuh, tetapi kekuatan tiap mesin berbeda.
Sinyal Ekonomi: Konsumsi Tertahan, Produksi Membaik
Pada triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan, melambat dari 5,61 persen pada triwulan I. Semester pertama tumbuh 5,45 persen. Konsumsi rumah tangga naik 5,06 persen, konsumsi pemerintah 15,97 persen, dan investasi 6,87 persen. Impor tumbuh 8,82 persen, lebih cepat daripada ekspor (4,13 persen), sehingga ekspor neto mengurangi pertumbuhan 0,78 poin persentase (BPS, 5 Agustus 2026). Angka ini menjadi titik awal membaca momentum Juli–September.
Keyakinan konsumen naik dari 116,8 pada Juli menjadi 118,5 pada Agustus, lalu turun tipis ke 118,1 pada September (Gambar 1). Rata-rata triwulan III sebesar 117,8 masih di bawah triwulan II, 120,6. Ekspektasi enam bulan ke depan membaik, tetapi penilaian kondisi saat ini melemah. Rasio tabungan terhadap penghasilan turun menjadi 15,4 persen dari 15,8 persen. Optimisme belum sepenuhnya menjadi rasa nyaman hari ini.
Transaksi menguatkan pembacaan hati-hati itu. Penjualan eceran riil September diperkirakan tumbuh 1,4 persen secara tahunan, setelah 1,1 persen pada Juli dan 1,3 persen pada Agustus, tetapi turun 2,3 persen dibanding bulan sebelumnya. Penjualan grosir mobil Januari–September naik 21 persen dari tahun lalu, meski September melemah 2,7 persen dibanding Agustus. Mandiri Spending Index mencatat belanja tumbuh sekitar 6 persen hingga 23 Agustus, hampir sama dengan triwulan II. Daya beli tidak runtuh, tetapi konsumsi belum berakselerasi. Angka nominal perlu dibaca bersama inflasi; transaksi digital pun tidak mewakili semua rumah tangga.
PMI manufaktur S&P Global melonjak ke 52,4 pada September, dari 49,8 pada Agustus dan 50,2 pada Juli. Pesanan baru, produksi, dan pesanan ekspor membaik. PMI-BI naik menjadi 52,28 pada triwulan III dari 51,43 pada triwulan II. Namun survei belum sama dengan output nyata dan satu bulan kuat belum menjamin tren. Konsumsi semen domestik naik 3 persen secara tahunan pada September dan 7,9 persen sepanjang Januari–September, tetapi volume Semen Indonesia turun 12,3 persen sementara Indocement naik 12,1 persen. Data produksi riil resmi triwulan III belum tersedia.
Perdagangan memberi sinyal campuran. Pada Agustus, ekspor mencapai US$26,61 miliar, naik 6,72 persen dibanding setahun sebelumnya; impor US$23,06 miliar, naik 19,09 persen secara tahunan. Surplus mencapai US$3,55 miliar, jauh di atas US$0,12 miliar pada Juli. Perubahan bulanan membantu menjelaskan lonjakan itu: ekspor naik 1,51 persen, sedangkan impor turun 11,63 persen. Jadi, surplus Agustus bukan semata-mata hasil ekspor yang menguat, tetapi juga penurunan impor dari bulan sebelumnya. Impor Januari–Juli didominasi bahan baku/penolong (71 persen) dan barang modal (20 persen), sementara impor migas Januari–Agustus mencapai sekitar US$29,3 miliar, kira-kira 39 persen di atas tahun lalu. Karena statistik perdagangan memakai dolar nominal, sedangkan PDB memakai harga konstan, surplus yang membesar belum otomatis berarti kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan PDB membaik; tekanan ekspor neto mungkin berlanjut, meski tak sebesar yang tersirat dari angka nominal.
Dunia usaha masih bergerak. Realisasi PMA dan PMDN triwulan III mencapai Rp528,7 triliun (+7,6 persen tahunan); total Januari–September Rp1.539,2 triliun atau 75,4 persen target. Kredit perbankan September tumbuh 13,26 persen, dengan kredit investasi naik 23,20 persen dan modal kerja 11,89 persen. Kredit konsumsi hanya 4,86 persen. Namun, realisasi investasi bukan ukuran yang sama dengan pembentukan modal tetap dalam PDB, sementara fasilitas kredit belum ditarik masih Rp2.562,6 triliun (21,7 persen plafon).
Dorongan Fiskal dan Tekanan Harga
Mesin paling kencang tampaknya anggaran negara. Hingga akhir September, belanja mencapai Rp2.660,5 triliun atau 69,2 persen pagu, 19 persen di atas tahun lalu. Dikurangi realisasi hingga Juni sebesar Rp1.656 triliun, belanja Juli–September diperkirakan Rp1.004,5 triliun—sekitar 21 persen di atas periode sama 2025. Dorongannya tidak merata: belanja pemerintah pusat tumbuh 29,6 persen, sedangkan transfer ke daerah turun 7,1 persen. Belanja juga tidak seluruhnya menjadi nilai tambah domestik karena bunga utang, sebagian subsidi, dan kandungan impor membatasi dampaknya.
Inflasi tahunan naik dari 2,88 persen pada Juli menjadi 3,28 persen pada September, mendekati batas atas sasaran BI. Inflasi pangan bergejolak mencapai 5,03 persen, sementara inflasi inti turun ke 2,84 persen. Rupiah berada di sekitar Rp17.900 per dolar AS pada akhir September dan arus modal portofolio triwulan III mencatat keluar bersih US$80 juta. BI mempertahankan BI-Rate 5,75 persen dan menaikkan Deposit Facility menjadi 5,00 persen pada 21 Oktober. Kebijakan moneter lebih berfokus menjaga rupiah; dampaknya terhadap konsumsi dan kredit baru mungkin terasa pada triwulan IV.
Tabel 1 merangkum gambaran: ekonomi tidak berhenti, tetapi belum berlari. Konsumsi bertahan, manufaktur membaik di akhir triwulan, kredit dan investasi tumbuh, sementara belanja negara memberi dorongan terbesar. Sebaliknya, penjualan ritel masih tipis, ekspor neto berpotensi mengurangi pertumbuhan, dan inflasi pangan serta tekanan rupiah mempersempit ruang kebijakan.
Uji kewajaran membantu membatasi estimasi. PDB triwulan II 2026 atas dasar harga konstan sebesar Rp3.576,2 triliun, sementara PDB triwulan III 2025 Rp3.444,8 triliun. Agar pertumbuhan tahunan triwulan III 2026 sekitar 5,3 persen, ekonomi perlu tumbuh sekitar 1,4 persen dibanding triwulan II, hampir sama dengan laju triwulan III 2025 (1,43 persen). Untuk pertumbuhan tahunan 5,0 persen, pertumbuhan triwulanan sekitar 1,14 persen cukup. Jika hanya 1,0 persen, laju tahunan turun menjadi 4,85 persen (Gambar 2).
Estimasi: 5,0–5,3 Persen
Estimasi awal pertumbuhan triwulan III 2026 saya tempatkan pada 5,0–5,3 persen secara tahunan, dengan titik tengah sekitar 5,2 persen. Ini bukan angka resmi BPS. Konsumsi yang bertahan, stimulus fiskal, kredit investasi, dan perbaikan manufaktur menjadi penopang; ekspor neto dan inflasi pangan menjadi pengurang. Kisaran ini sejalan dengan proyeksi Bank Mandiri untuk pertumbuhan 2026 sebesar 5,34 persen, perkiraan BI 4,9–5,7 persen, serta proyeksi IMF 5,0 persen.
Estimasi tidak saya naikkan di atas 5,3 persen karena penjualan ritel belum kuat dan data produksi, konstruksi, serta konsumsi September belum seluruhnya tersedia. Namun, dorongan fiskal besar dan pemulihan manufaktur membuat angka di bawah 5,0 persen belum menjadi skenario utama.
Apa yang Dapat Mengubah Estimasi?
Estimasi bisa berubah ketika proyeksi digantikan realisasi September, BPS merevisi data, atau impor bahan baku tidak diikuti kenaikan produksi. Efek fiskal bergantung pada kandungan domestik belanja pusat dan lemahnya transfer daerah. Gejolak pasar Oktober—termasuk penurunan IHSG 16 Oktober setelah konsultasi MSCI—lebih relevan bagi sentimen dan rupiah triwulan IV, bukan PDB triwulan III.
Nowcasting bukan angka yang dipertahankan hanya karena sudah ditulis; ia harus berubah mengikuti bukti. Keyakinan konsumen memberi petunjuk, transaksi menunjukkan perilaku, produksi menguji permintaan, investasi memperlihatkan kapasitas, dan fiskal mengukur dorongan ekonomi. Pada triwulan III, anggaran negara, kredit usaha, dan pabrik yang bangkit pada September menjadi mesin terkuat. Dompet rumah tangga bergerak, tetapi belum berlari. ***
Sumber data utama
- BPS, “Ekonomi Indonesia Triwulan II-2026 Tumbuh 5,29 Persen (Y-on-Y)”, 5 Agustus 2026, dikutip Media Indonesia dan Liputan6
- BPS, “Ekonomi Indonesia Triwulan III-2025 Tumbuh 5,04 Persen (Y-on-Y)”, 5 November 2025; komponen pengeluaran dikutip Setneg (BPS)
- BPS, “Ekspor dan Impor Indonesia Juli 2026”, 1 September 2026 (BPS); Agustus 2026, 1 Oktober 2026, dikutip IQPlus/BCA Sekuritas
- BPS, inflasi September 2026, 1 Oktober 2026, dikutip Investortrust dan Fortune Indonesia
- Bank Indonesia, “Survei Konsumen September 2026”, 8 Oktober 2026 (siaran pers; laporan lengkap); rincian kelompok pengeluaran: Investortrust
- Bank Indonesia, “Survei Penjualan Eceran September 2026”, 9 Oktober 2026 (siaran pers); Agustus 2026: Industry.co.id
- Bank Indonesia, Prompt Manufacturing Index (PMI-BI) Triwulan III 2026, 19 Oktober 2026 (siaran pers)
- S&P Global PMI Manufaktur Indonesia September 2026, dikutip Katadata; Juni–Agustus: Trading Economics
- Kementerian Keuangan, realisasi APBN hingga September 2026, dikutip RCTI+ dan Investortrust; semester I 2026: Bisnis.com
- Pembanding APBN 2025: semester I dan September
- Bank Indonesia/OJK, kredit perbankan September 2026, dikutip IDXChannel
- Kementerian Investasi, realisasi investasi triwulan III 2026, dikutip Katadata
- Gaikindo, penjualan mobil Januari–September 2026, dikutip Kontan; konsumsi semen: Kontan
- Bank Indonesia, RDG 20–21 Oktober 2026, dikutip Bisnis.com; riwayat BI-Rate: Bisnis.com
- Bank Indonesia, RDG Agustus 2026: siaran pers; RDG September 2026: KabarBursa
- Arus modal portofolio triwulan III 2026: RCTI+; kurs rupiah akhir September: Databoks
- Proyeksi Bank Mandiri (3 September 2026): Bloomberg Technoz; IMF (9 Juli 2026): Bisnis.com
- IHSG dan rencana konsultasi MSCI, 16 Oktober 2026: Databoks
Catatan: perhitungan penulis meliputi belanja negara triwulan III (realisasi September dikurangi Juni), pembanding Juli–September 2025, impor migas, pangsa komposisi impor, rata-rata IKK triwulanan, dan aritmetika pertumbuhan triwulanan pada Gambar 2.
