Obligasi Global Perdana Danantara Laris, Permintaan Tembus Rp 81,8 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia sukses mencatatkan debut gemilang di pasar keuangan internasional. Penerbitan obligasi global perdana melalui Danantara Investment Management senilai US$ 1,5 miliar (sekitar Rp 26,7 triliun) pada Juni 2026 lalu mendapat sambutan luar biasa dari investor global.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa total pemesanan (orderbook) yang masuk membeludak hingga mencapai US$ 4,6 miliar atau setara dengan Rp 81,88 triliun. Angka ini hampir tiga kali lipat melebihi nilai obligasi yang ditawarkan ke pasar.
Menurut Pandu, tingginya antusiasme tersebut mencerminkan kepercayaan pasar internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia dan kredibilitas Danantara. Faktor penetapan harga yang kompetitif serta selaras dengan fundamental ekonomi negara menjadi magnet utama bagi investor global.
"Sangat menarik di pertengahan tahun, tetapi yang dapat saya sampaikan tentang obligasi ini adalah harganya sangat sesuai dengan peringkat utang Indonesia," ujar Pandu dalam ajang Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont Hotel, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Berdasarkan data resmi Danantara, instrumen utang global ini diterbitkan dalam dua seri dengan porsi masing-masing sebesar US$ 750 juta .
Baca Juga
Seri pertama merupakan tenor 5 tahun dengan tingkat kupon 5,35% akan jatuh tempo pada 2031. Sementara itu, seri kedua menawarkan tenor 10 tahun dengan kupon 5,95% dan jatuh tempo pada 2036.
Pandu merinci, imbal hasil obligasi Danantara memiliki selisih (spread) yang sangat tipis, yakni sekitar 34 basis poin di atas surat utang pemerintah Indonesia untuk tenor lima tahun, dan 32 basis poin untuk tenor 10 tahun. Tipisnya spread ini membuktikan bahwa instrumen korporasi Danantara dihargai sangat kompetitif dan sejajar dengan obligasi berdaulat (sovereign bonds).
"Selisihnya sekitar 30 basis poin di atas imbal hasil surat utang pemerintah. Untuk tenor obligasi 5 tahun dan 10 tahun, harganya sangat bagus, sangat sesuai dengan suku bunga pemerintah," jelas Pandu.
Dari sisi geografis, sebaran permintaan obligasi ini didominasi oleh investor institusional global. Kawasan Eropa dan Timur Tengah menyumbang sekitar 75% dari total permintaan, sementara investor asal Asia menyumbang porsi 25%. Di sisi lain, tingginya minat juga datang dari pasar Amerika Serikat yang turut berkontribusi signifikan hingga 50% dari total keseluruhan orderbook yang masuk.
"Ada yang mengatakan bahwa orang-orang internasional tidak menganggapnya menarik. Padahal, nilai obligasi yang masuk hampir empat kali lipat lebih besar dari nilai sebenarnya," tegas Pandu.
