Menkeu Suahasil Bahas Investasi Infrastruktur dan Energi dengan JBIC di Thailand
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara melakukan serangkaian pertemuan bilateral dengan Thailand, Singapura, Japan Bank for International Cooperation (JBIC), World Bank, dan International Finance Corporation (IFC), di Bangkok, Thailand.
Dalam pertemuan dengan Gubernur JBIC, Suahasil membahas dukungan bagi proyek infrastruktur dan energi, termasuk pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy) di Legok Nangka, Jawa Barat. Dia juga mendorong penjajakan potensi kerja sama JBIC dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), baik untuk proyek baru maupun proyek yang telah berjalan.
Dalam ketahanan energi, kedua pihak juga membahas peluang kerja sama untuk memperkuat pasokan energi dan mendukung pengembangan proyek yang sejalan dengan prioritas pembangunan Indonesia.
Baca Juga
Suahasil menegaskan komitmen Indonesia untuk mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat dan mendorong pengembangan pasar karbon sebagai bagian dari transisi menuju ekonomi rendah emisi.
Dalam pembahasan mengenai pajak karbon, Suahasil menekankan bahwa instrumen tersebut tidak hanya berkaitan dengan penerimaan negara, tetapi juga diarahkan untuk mendorong perubahan perilaku dunia usaha menuju praktik yang lebih ramah lingkungan.
“Bagi saya, penerapan pajak karbon bukan sekadar mendapatkan lebih banyak penerimaan. Kebijakan ini bertujuan memberikan insentif agar dunia usaha menerapkan praktik yang lebih ramah karbon,” ujar Suahasil, dalam keterangan resminya, Kamis (15/10/2026).
Selain itu, Suahasil membahas berbagai tantangan menjaga kredibilitas fiskal di tengah kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi saat bertemu dengan Wakil Presiden World Bank untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik, Carlos Felipe Jaramillo dan Direktur World Bank untuk Indonesia dan TimorLeste, Carrie Turk,
Pembahasan menyoroti keseimbangan antara target pertumbuhan, keterbatasan sumber daya, dan efektivitas belanja pemerintah. World Bank menyampaikan kesiapan mendukung prioritas pembangunan Indonesia, termasuk pengembangan UMKM melalui strategi yang berfokus pada pembiayaan digital dan inisiatif Agricollect di sektor pertanian. World Bank juga menyampaikan keterlibatannya dalam program kesehatan di Indonesia.
Penguatan dunia usaha dan peningkatan ekspor menjadi fokus pembahasan dengan IFC. Kerja sama dengan Indonesia Eximbank (LPEI) diarahkan pada penghimpunan pendanaan jangka panjang dan mobilisasi dana eksternal untuk mendukung pembiayaan ekspor. Inisiatif ini juga mencakup penguatan rantai pasok domestik bagi pelaku usaha berorientasi ekspor, terutama di sektor pertanian, manufaktur, logistik, jasa, dan perikanan.
Dukungan terhadap pembiayaan ekspor, khususnya bagi usaha yang berorientasi ekspor, diharapkan dapat memperkuat kapasitas pelaku usaha Indonesia untuk menjangkau pasar internasional. Dukungan IFC bagi UMKM turut mencakup perluasan akses pembiayaan melalui PNM, OTO Finance, dan Amartha, serta penguatan digitalisasi layanan keuangan.
Perhatian juga diberikan kepada perempuan pelaku usaha dan masyarakat di wilayah perdesaan. Untuk memperkuat keterlibatannya di Indonesia, IFC menyampaikan rencana memindahkan sejumlah posisi senior dari Singapura ke Jakarta.
Di pasar modal, pembahasan dengan IFC menyoroti perluasan basis investor dan pengembangan instrumen pembiayaan tematik untuk menarik partisipasi modal swasta. Suahasil menegaskan pentingnya menjaga kredibilitas pasar modal agar dapat menjadi sumber pembiayaan yang andal bagi sektor swasta.
Baca Juga
Gandeng Astra, Mendag Ungkap Potensi Ekspor UMKM Desa Capai Rp 69 Miliar
Dalam kesempatan itu, Suahasil juga bertemu dengan Menteri Kedua Keuangan Singapura, Indranee Rajah. Keduanya bertukar pandangan mengenai prospek ekonomi kawasan dan peluang memperkuat kerja sama keuangan di Asia Tenggara.
Pembahasan mencakup pengembangan pasar karbon, pemanfaatan blended finance atau pembiayaan campuran untuk mendukung solusi berbasis alam, serta penguatan konektivitas infrastruktur dan energi, termasuk melalui ASEAN Power Grid.
Kedua pihak juga membahas peluang berbagi pengalaman dalam pemanfaatan kecerdasan buatan dan digitalisasi. Kerja sama regional tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas, memperluas peluang usaha, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
