Standard Chartered Proyeksi Digitalisasi Dongkrak Perdagangan Global pada 2031
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Standard Chartered Indonesia menilai percepatan digitalisasi perdagangan berpotensi meningkatkan nilai perdagangan global sebesar US$2,8 triliun pada 2031, atau 6,9% di atas proyeksi dasar. Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), dokumen digital, dan otomatisasi dinilai dapat meningkatkan efisiensi perdagangan lintas negara sekaligus membuka peluang bisnis baru.
CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro mengatakan, perkembangan teknologi dan perubahan ekonomi global turut memperluas peran treasury perusahaan, mulai dari pengelolaan likuiditas dan modal kerja hingga mitigasi risiko di tengah perubahan rantai pasok.
“Laporan Future of Trade 2026 dari Standard Chartered menunjukkan bahwa percepatan digitalisasi perdagangan berpotensi meningkatkan nilai perdagangan global sebesar US$2,8 triliun, atau 6,9% di atas proyeksi dasar, pada tahun 2031,” ujar Donny dalam Indonesia Treasury Leadership Forum 2026 di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Menurut dia, perusahaan perlu memanfaatkan perkembangan teknologi sekaligus memperkuat ketahanan operasional untuk menghadapi perubahan ekonomi dan rantai pasok global.
Donny juga menyoroti pertumbuhan transaksi pembayaran digital di Indonesia. Mengutip data Bank Indonesia, volume transaksi pembayaran digital pada Agustus 2026 mencapai 6,11 miliar transaksi, tumbuh lebih dari 40% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dia menilai perkembangan AI dan mata uang digital berpotensi mengubah proses transaksi keuangan perusahaan menjadi lebih otomatis, terintegrasi, dan efisien.
“Ke depan, kecerdasan buatan (AI) dan mata uang digital berpotensi mengubah cara perusahaan melakukan transaksi keuangan, sehingga transaksi tidak hanya menjadi lebih cepat, tetapi juga semakin otomatis, cerdas, dan terhubung,” katanya.
Baca Juga
Indonesia Dinilai Tetap Menarik di Tengah Dinamika Perdagangan Global
Investasi Hilirisasi
Di sisi lain, perubahan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan strategi diversifikasi produksi mendorong perusahaan meninjau kembali rantai pasok global. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam jaringan perdagangan internasional.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang disampaikan dalam forum tersebut, realisasi investasi Indonesia pada 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7% secara tahunan. Sementara itu, investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun, meningkat 43,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sekaligus CEO Sintesa Group Shinta Kamdani mengatakan, dunia usaha perlu memperhatikan tiga faktor untuk menghadapi perubahan ekonomi global, yakni peluang, daya saing, dan konektivitas.
Menurut Shinta, peluang dapat diperoleh melalui perluasan pasar, adaptasi terhadap perubahan rantai pasok, serta pemanfaatan teknologi. Sementara itu, daya saing perlu diperkuat melalui peningkatan produktivitas, pengelolaan biaya, dan kepastian iklim usaha.
Adapun konektivitas mencakup penguatan rantai pasok, logistik, akses pembiayaan, dan sistem pembayaran, baik di dalam negeri maupun lintas negara.
“Peluang saja tidak cukup. Dunia usaha membutuhkan daya saing untuk memanfaatkan peluang tersebut, serta konektivitas untuk mengubahnya menjadi nilai ekonomi,” ujar Shinta.
Baca Juga
Pembayaran Digital dan Ketahanan Operasional
Berbagai perubahan tersebut menjadi pembahasan dalam Indonesia Treasury Leadership Forum 2026 yang diselenggarakan Standard Chartered Indonesia dengan tema The Blueprint for Tomorrow: From Today’s Disruption to Tomorrow’s Opportunity.
Forum tahunan tersebut mempertemukan regulator, pelaku industri, pemimpin korporasi, dan ahli untuk membahas dampak perkembangan teknologi serta perubahan ekonomi global terhadap pengelolaan treasury perusahaan. Tahun ini menjadi penyelenggaraan kedua forum tersebut di Indonesia.
Salah satu sesi membahas perkembangan pembayaran real time, AI, aset digital, dan konektivitas sistem pembayaran. Diskusi juga menyoroti pentingnya keamanan siber, pencegahan penipuan, dan ketahanan operasional seiring meningkatnya kecepatan serta keterhubungan sistem transaksi.
Standard Chartered Indonesia sebelumnya meluncurkan layanan Payouts as a Service yang memungkinkan nasabah korporasi mengotomatisasi pembayaran dalam skala besar dan berulang berdasarkan parameter bisnis yang ditentukan.
Dalam forum tersebut, Standard Chartered juga menyoroti kebutuhan perusahaan untuk memperkuat pengelolaan likuiditas, modal kerja, dan risiko agar mampu beradaptasi dengan perubahan rantai pasok dan menangkap peluang perdagangan global.
