Inilah Prediksi Rupiah setelah Iran Serang Israel
JAKARTA, investortrust.id - Selama pasar keuangan domestik libur panjang Idulfitri dan cuti bersama Lebaran 2024, terjadi berbagai perkembangan penting di pasar keuangan global. Hal ini terutama peningkatan eskalasi perang di Timur Tengah setelah Iran menyerang Israel, serta penguatan dolar Amerika Serikat yang ditopang rilis data ekonomi solid negara adidaya tersebut.
Ketika pasar keuangan domestik tengah libur, publik dihebohkan dengan kurs rupiah yang menembus Rp 16.000 per USD. Dilansir dari google finance, per 15 April 2025 hingga artikel ini diterbitkan, mata uang Garuda berada di posisi Rp 16.090 per USD.
Padahal, menjelang masa libur panjang pasar keuangan domestik, mata uang rupiah tampil impresif dalam pantauan perdagangan valas antarbank Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Rupiah ditutup perkasa 34 poin ke level Rp 15.873 per USD dalam perdagangan 5 April 2024. Sementara dilansir dari yahoo finance, rupiah menguat 50 poin ke level Rp 15.839 per USD (5/4/2024).
Jelang dibukanya pasar keuangan domestik, sejumlah peristiwa beruntun ikut makin meningkatkan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Pada 10 April lalu, 3 putra dan 4 cucu pemimpin Hawas tewas dirudal oleh Israel di Gaza Strip. Yang terbaru, Iran menyerang Israel dengan mengirimkan misil pada 14 April kemarin, sebagai balasan atas serangan terhadap Konsulat Iran di Damaskus, Suriah, pekan lalu.
Menurut Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede, kedua sentimen ketegangan Timur Tengah dan rilis data ekonomi AS yang solid telah mendorong penguatan dollar index, yakni indeks yang mengukur nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama seperti euro, yen, sterling, dolar Kanada, krona Swedia, dan Franc Swiss. Dalam sepekan ini saja, dolar index menguat hingga 1,7% ke level 106,04, yang merupakan level tertinggi sejak November 2023.
"Penguatan dolar AS terhadap mata uang negara maju tersebut, selanjutnya mendorong penguatan dollar AS terhadap mata uang Asia. Karena pasar keuangan domestik libur, maka nilai tukar yang mengalami pergerakan hanya (Non-Deliverable Forward/NDF) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," kata Josua kepada Investortrust.id. Senin (15/4/2024).
Dari rilis data ekonomi AS pada tanggal 5 April lalu, tingkat pengangguran AS bulan Maret 2024 tercatat turun menjadi 3,8% dari bulan sebelumnya 3,9%. Selain itu Non-Farm Payroll pada bulan Maret 2024 tercatat 303.000 dari bulan sebelumnya 270.000. Lalu pada 10 April, rilis inflasi AS bulan Maret 2024 tercatat 3,5% yoy dari bulan sebelumnya 3,2%, dan lebih tinggi dari perkiraan 3,4%.
Baca Juga
The Fed Mungkin Tunda Pangkas Bunga, Kurs Rupiah Stabil di Rp 15.839/USD
Penjelasan Rupiah Tembus Rp 16.000/USD
Josua menambahkan, NDF tersebut merupakan instrumen keuangan derivatif yang digunakan untuk melindungi pergerakan nilai tukar antara dolar AS dan rupiah. Ia mengatakan, NDF 1 bulan untuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini berkisar 16.148, melemah 1,5% atau 243 poin sepanjang minggu ini.
"Meski demikian, NDF nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tersebut tidak mencerminkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pasar spot. Namun, terdapat potensi pada saat pembukaan kembali pasar keuangan domestik esok hari (16/4/2024), posisi rupiah mengikuti pergerakan NDF," ucapnya.
Dampak Pelemahan Rupiah
Menurut Josua, pelaku usaha impor akan sangat terdampat atas menguatnya dolar terhadap rupiah di perdagangan valas. Namun, para pelaku usaha dapat mengoptimalkan transaksi lindung nilai, sehingga dapat membatasi risiko peningkatan biaya produksi yang ditimbulkan oleh pelemahan nilai tukar.
Ia juga menilai pelemahan nilai tukar pada masyarakat luas cenderung kecil, karena yang memiliki pendapatan dan pengeluaran dalam rupiah tidak memiliki dampak dari pelemahan mata uang Garuda terhadap greenback tersebut.
"Oleh sebab itu, masyarakat juga tidak perlu khawatir dengan dampak dari pelemahan rupiah terhadap daya beli masyarakat dan perekonomian domestik," tandasnya.
Baca Juga
Josua juga menyampaikan, sekalipun nilai tukar NDF rupiah terhadap dolar AS menembus level 16.000, kondisi saat ini berbeda dengan krisis tahun 1998. Saat itu, rupiah anjlok dari Rp 4.000 per USD menjadi Rp 16.000 per USD karena menyebarnya krisis mata uang yang dimulai dari pelemahan bath Thailand.
"Sementara pada saat krisis pandemi 2020 sekalipun rupiah juga melemah hingga menembus level Rp 16.000/USD, namun pelemahan rupiah tersebut tidak permanen," sebutnya.
Ekonom Bank Permata tersebut menjelaskan, saat ini fundamental ekonomi Indonesia terbilang solid dan cukup kuat. Hal tersebut terindikasi dari pertumbuhan ekonomi yang solid, inflasi yang terkendali, neraca perdagangan yang tercatat surplus, dan cadangan devisa yang masih dalam level baik.
"Mengingat yang terjadi saat ini adalah penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia, artinya bukan rupiah satu-satunya mata uang yang melemah terhadap dollar. Oleh sebab itu, pelemahan rupiah saat ini diperkirakan hanya akan sementara," paparnya.
Ia memprediksi ke depan pergerakan rupiah masih akan didominasi oleh Fed Funds Rate yang masih dipertahankan oleh bank sentral AS, The Fed. Para pelaku pasar memprakirakan Fed Funds Rate akan dipangkas setidaknya pada semester II-2024.
"Oleh sebab itu, di tengah peluang penurunan suku bunga AS pada semester II tahun 2024, dolar AS diperkirakan akan cenderung melemah dari posisi saat ini yang selanjutnya akan berimplikasi pada penguatan mata uang dunia termasuk rupiah terhadap dollar AS. Ini karena pada umumnya penurunan suku bunga AS akan mendorong masuknya aliran modal asing di pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia," kata Josua.

