Iran Serang Israel, Inilah Prediksi Rupiah hingga Harga Minyak Selasa
JAKARTA, investortrust.id – Setelah libur panjang Lebaran, pada Selasa (16/4/2024) pagi ini, pasar keuangan di Indonesia kembali dibuka. Sejumlah sentimen global dan perkembangan harga komoditas juga menjadi perhatian pelaku pasar.
Analis Phintraco Sekuritas Valdy K memaparkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diperkirakan melemah di hari pertama perdagangan pascalibur panjang Idulfitri 2024. Dari bursa saham global, indeks-indeks Wall Street Amerika Serikat tertekan oleh kekhawatiran penundaan pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed di tahun 2024.
“Sementara, CME FedWatch Tools mencatat peluang pemangkasan suku bunga acuan di FOMC Juni 2024 tinggal tersisa 26,9%, dari pekan sebelumnya di atas 60%. Kondisi ini seiring dengan kecenderungan kenaikan harga komoditas energi, terutama minyak bumi dalam sepekan terakhir,” katanya dalam laporan yang dirilis Selasa (16/4/2024).
Baca Juga
Investor perlu mewaspadai level support IHSG 7.200-7.230 di perdagangan Selasa (16/4/2024). Saham-saham rate-sensitive diperkirakan terdampak sehingga sebaiknya diwaspadai di pekan ini, terutama sektor bank, property & real estate, dan otomotif.
Harga Minyak Potensi US$ 100/Barel
Kenaikan harga minyak mentah itu dipicu isu bahwa Israel mengantisipasi potensi direct attack dari Iran. “Harga minyak Brent yang masih bertahan di atas US$ 90/barel, dengan adanya eskalasi konflik geopolitik, berpotensi terdorong naik hingga ke atas level psikologi US$ 100/barel dalam waktu dekat,” paparnya.
Baca Juga
Fundamental Ekonomi RI Cukup Kuat Redam Dampak Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Sementara itu, menurut Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede sebelumnya, sentimen eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan rilis data ekonomi Amerika Serikat yang solid telah mendorong penguatan dollar index, yakni indeks yang mengukur nilai tukar greenback terhadap mata uang utama seperti euro, yen, pound sterling, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss. Dalam sepekan ini saja, dolar index menguat hingga 1,7% ke level 106,04, yang merupakan level tertinggi sejak November 2023.
"Penguatan dolar AS terhadap mata uang negara maju tersebut, selanjutnya mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang Asia. Karena pasar keuangan domestik libur, maka nilai tukar yang mengalami pergerakan hanya NDF (Non-Deliverable Forward) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," kata Josua kepada Investortrust.id Senin (15/4/2024).
Dari rilis data ekonomi AS pada tanggal 5 April lalu, tingkat pengangguran AS bulan Maret 2024 tercatat turun menjadi 3,8% dari bulan sebelumnya 3,9%. Selain itu Non-Farm Payroll pada bulan Maret 2024 tercatat 303.000 dari bulan sebelumnya 270.000. Sedangkan pada 10 April, rilis inflasi AS Maret 2024 tercatat 3,5% yoy dari bulan sebelumnya 3,2%, dan lebih tinggi dari perkiraan 3,4%.
Pelemahan Rupiah Diprediksi Sementara
Ekonom Bank Permata tersebut menjelaskan, saat ini fundamental ekonomi Indonesia terbilang solid dan cukup kuat. Hal tersebut terindikasi dari pertumbuhan ekonomi yang solid, inflasi yang terkendali, neraca perdagangan yang surplus, dan cadangan devisa yang masih dalam level baik.
"Mengingat yang terjadi saat ini adalah penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia, artinya bukan rupiah satu-satunya mata uang yang melemah terhadap dolar. Oleh sebab itu, pelemahan rupiah saat ini diperkirakan hanya akan sementara," paparnya.
Ia memprediksi ke depan pergerakan rupiah masih didominasi sentimen dari Fed Funds Rate yang masih dipertahankan oleh bank sentral AS, The Fed. Para pelaku pasar memprakirakan Fed Funds Rate akan dipangkas setidaknya pada semester II-2024.
"Oleh sebab itu, di tengah peluang penurunan suku bunga AS pada semester II tahun 2024, dolar AS diperkirakan akan cenderung melemah dari posisi saat ini yang selanjutnya akan berimplikasi pada penguatan mata uang dunia termasuk rupiah terhadap dolar AS. Ini karena pada umumnya penurunan suku bunga AS akan mendorong masuknya aliran modal asing di pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia," kata Josua.

