Suku Bunga Tinggi Diprediksi Berlanjut hingga 2027, Juda Angung Ungkap Strategi Kemenkeu
Poin Penting
|
BOGOR, investortrust.id - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menilai tren suku bunga tinggi atau higher for longer masih akan berlanjut pada 2027. Ini terjadi seiring belum meredanya konflik geopolitik di sejumlah wilayah.
Dengan konflik yang belum menemukan titik penyelesaian di Timur Tengah, Juda menyebut bahwa pergerakan harga minyak dunia masih fluktuatif. Dengan kondisi ini, inflasi di sejumlah negara maju akan meningkat. Kenaikan inflasi inilah yang menyebabkan bank sentral di sejumlah negara menaikkan suku bunga acuannya.
Di Amerika Serikat (AS), utang yang melambung hingga US$ 40 triliun mendorong investor menuntut imbal hasil yang lebih menarik. Mencermati kondisi ini, Juda mengatakan bahwa pemerintah akan terus mengelola pembiayaan untuk menutup defisit APBN.
“Defisit tentu saja harus ada pembiayaan. Strategi utamanya adalah tetap fokus pada pembiayaan dari domestik,” kata Juda, saat media gathering di Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10/2026).
Baca Juga
BI Waspadai 'Higher for Longer' Suku Bunga Global Hingga 2027 gegara Harga Minyak Dunia
Fokus terhadap pembiayaan dari domestik ini memiliki alasan tersendiri. Menurut Juda, dengan fokus ke pembiayaan dalam negeri, SBN tidak mudah rentan dengan kondisi global.
“SBN kita sekarang ini mungkin hanya 13-14% yang dimiliki oleh asing. Ini tentu saja bisa mengurangi kerentanan di pasar uang dan pasar valas kita,” ujar dia.
Juda mengatakan bahwa pemerintah akan terus mengendalikan defisit dan pembiayaan dalam batas yang aman dan berkelanjutan.
“Pembiayaan utang sebagai langkah antisipatif dan active and debt management terus dilakukan agar yield kita tetap menarik dan cost-nya tidak terlalu besar dalam pembiayaan melalui utang,” kata dia.
Selain itu, pemerintah juga akan aktif mengelola kas. Salah satunya, mengoptimalkan Saldo Anggaran Lebih (SAL).
“Optimalisasi SAL sebagai buffer untuk mitigasi ketidakpastian. Untuk mengelola juga likuiditas yang ada di perbankan, tapi at the same time juga pengelolaan cash management,” kata dia.
