Pendekatan Kapabilitas Amartya Sen untuk Mengukur Kualitas Hidup Manusia
JAKARTA, Investortrust.id - Mengukur kebahagiaan dan kualitas hidup manusia kerap menggunakan nilai ekonomistik seperti Produk Domestik Bruto (PDB) dan pendapatan per kapita. Kini, dua variabel ini dianggap beberapa ekonom dan peneliti ilmu sosial tak lagi memadai sebagai indikator.
Ekonom Amerika Serikat (AS) Jeffrey Sachs berpendapat, variabel kebahagiaan berupa pendapatan tentu berpengaruh, tapi bukan satu-satunya yang harus dijadikan ukuran. Dia menyebut ada tiga variabel lain yakni kesetaraan sosial-ekonomi, kepercayaan sosial, dan tata kelola politik yang dapat menjadi pertimbangan.
Gagasan untuk memperbaiki variabel inilah yang menjadi bahan pembahasan dua peneliti Universitas Paramadina, Sunaryo dan Pipip A. Rifai Hasan, dalam Konsep Kualitas Hidup dalam Kerangka Kapabilitas. Sunaryo mengaku dirinya menggunakan landasan gagasan yang disampaikan ekonom India, Amartya Sen.
Baca Juga
Optimistis Tren Pertumbuhan Ekonomi Berlanjut, Peneliti Indef Ini Beberkan Tiga Alasan
“Saya sendiri terinspirasi dari Amartya Sen. Salah satu teori yang menurut saya penting adalah capability approach,” kata Sunaryo dalam peluncuran buku yang digelar Paramadina Institute of Ethics and Civilization, di Kampus Universitas Paramadina, Jakarta, Senin (12/2/2024).
Sunaryo mengatakan, salah satu tantangan untuk mengetahui kebahagiaan dilakukan lewat pengukuran. Dia menyebut dalam gagasan Amartya Sen, dalam pengukuran itu justru unik karena memuat “nilai yang tak bisa diukur”.
“Sementara dalam ekonomi seringkali kita butuh indikator yang diperbandingkan antara satu negara dengan negara yang lain, atau antara satu orang dengan orang yang lain,” ucap dia.
Meski demikian, dalam kerangka pikir, capability approach penting untuk melihat nilai dan status kehidupan manusia secara utuh. Amartya Sen, kata dia, memiliki tiga unsur dalam capability approach yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas manusia, di antaranya kemampuan untuk meraih (the ability of achieve), perhatian pada nilai (value), dan proses penalaran kritis (critical scrutiny).
“Pada dasarnya ini mengkritik penerapan resource and utility. Jadi kita seringkali mengukur value hanya pada resource and utility,” kata dia.
Sunaryo mengatakan hingga gagasan ini muncul, belum ada ukuran yang baku mengenai proses pengukurannya. Namun demikian, gagasan ini tetap bisa menjadi landasan untuk mengembangkan indeks kebahagiaan manusia di masa mendatang.
“Ini semacam ethic framework yang menilai secara moral kondisi perkembangan atau pembangunan manusia,” ujar dia.
Dia berharap, gagasan ini dapat dikolaborasikan bersama ekonom untuk membentuk pengukuran kebahagiaan manusia Indonesia.
Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Amich Alhumami Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mengatakan, gagasan pengukuran kebahagiaan memiliki elemen kunci, misalnya, emotional well being. Dia menyebut pengukuran kesehatan mental ini dapat dilihat dari kondisi kehidupan masyarakat yang semakin tertekan.
“Nah, karena itu juga penting untuk melihat keseimbangan antara dunia kerja dan dunia keluarga, serta kehidupan sosial. Istilahnya itu working family life balance,” kata Amich kepada Investortrust.id.

