Mengukur Kekuatan Ekonomi dan Militer Iran dan Israel, Siapa Lebih Kuat?
JAKARTA, investortrust.id – Berulangnya agresi militer Israel ke negara-negara tetangga sekeliling, memberikan persepsi bahwa negeri kecil itu tak terkalahkan. Negeri kaum Yahudi itu seperti jumawa, lantaran aksi-aksinya yang meski melanggar Konvensi Wina tetap dibela oleh negara-negara maju yang bersekutu, terutama Amerika Serikat dan Inggris.
Maklum, komunitas Yahudi di seantero dunia memiliki berbagai posisi strategis dan penentu. Mereka adalah penguasa teknologi dan pusat-pusat keuangan di negara maju. Dengan pengaruh yang demikian besar, Israel terus merangsek ke negara-negara tetangga, jika perlu mencaploknya.
Serangan bom Israel di kompleks kedutaan Iran di Damaskus, Suriah yang menewaskan sejumlah pasukan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada 1 April lalu hanyalah sekuel “kenakalan” Israel yang sudah berlangsung puluhan tahun. Wajar jika Iran merespons dengan serangan balasan, mengerahkan 170 drone, 110 rudal balistik, dan 30 rudah jelajah ke Israel pada Sabtu malam, 13 April 2024, meski tindakan itu bakal mengeskalasi konflik Timur Tengah.
Padahal, Timur Tengah sebelumnya sudah memanas akibat invasi Israel ke Jalur Gaza, Palestina, usai serangan kelompok militan Palestina yang dipimpin sayap militer Hamas ke Israel pada Oktober 2023. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut bahwa Israel akan membela diri terhadap serangan Iran, meski negara-negara Barat menyarankan Israel untuk menahan diri.
Konflik kedua seteru ini merupakan babak baru mengingat Iran dan Israel dipandang sebagai dua negara kuat di Timur Tengah. Kedua negara punya masa lalu yang gemilang. Ada Kerajaan Israel yang gemilang di masa Daud dan Salomo. Sedangkan Iran punya Darius Agung, 522-486 SM, yang wilayahnya terbentang darı wilayah İran saat ini hingga Mesir dan Turki. Persia menaklukkan Israel dan membuang elite Israel ke Babel. Pada masa Perang Salib, Sultan Salahaddin darı Persia menguasai Israel.
Jarak geografis Israel-Iran sebenarnya sangat jauh, sekitar 1.800 km yang bisa ditempuh dengan pesawat terbang sekitar 2,5 jam. Karena itulah, aksi serangan Iran menggunakan drone dan rudal balistik pada Sabtu 13 April itu, yang diklaim sebagian bisa ditaklukkan, adalah operasi militer yang dahsyat.
Nah, bagaimana sejatinya peta kekuatan kedua negara, baik itu di bidang militer maupun di bidang ekonomi?
Kekuatan Ekonomi
Parameter utama untuk mengukur kekuatan ekonomi adalah Produk Domestik Bruto (PDB). PDB Iran pada 2022 tercatat sebesar US$ 388,54 miliar, sedangkan Israel lebih tinggi, mencapai US$ 539,84 miliar. Pada 2023, PDB Iran mencapai US$ 413,5 miliar dan Israel sebesar US$ 525 miliar.
Namun dari sisi PDB per kapita, kedua negara sangat timpang. Israel adalah negara maju dengan PDB per kapita sebesar US$ 51.945 pada 2023, sementara Iran hanya negara berpendapatan menengah sebesar US$ 5.508 per kapita per tahun.
Perbedaan mencolok pendapatan per kapita, meski PDB-nya tidak jauh berbeda, terjadi karena jumlah penduduk Iran jauh lebih besar, yakni 88,5 juta jiwa menurut data Bank Dunia pada 2022. Sedangkan populasi Israel hanya sepersepuluhnya, sekitar 9,6 juta jiwa.
Kegemaran Israel berperang ternyata juga membuat fiskalnya berdarah. Tingginya anggaran militer sejak perang melawan Hamas Oktober 2023 membuat anggaran negeri itu defisit 4,2% dari PDB pada 2023. Padahal, pada 2022, APBN Israel masih surplus 0,6% dari PDB.
Tahun ini, Israel mematok belanja negara sebesar US$ 160 miliar, sementara Iran hanya US$ 49,2 miliar untuk tahun anggaran 2024/25.
Utang pemerintah Israel mencapai 60,7% PDB pada akhir 2022, namun cadangan devisa cukup solid, sebesar US$ 213 miliar pada 2023. Utang luar negeri tercatat sebesar US$ 154 miliar pada 2023. Sementara tingkat pengangguran Israel mencapai 3,3% pada Maret 2024.
Gara-gara perang melawan Hamas, PM Benjamin Netanyahu harus mengajukan anggaran tambahan sebesar US$ 15 miliar. Itu menjadi salah satu pemicu minusnya pertumbuhan ekonomi Israel sebesar 19,4% pada kuartal IV-2023. Meski demikian, keseluruhan tahun 2023, ekonomi Israel tumbuh 2%, namun jauh merosot dibandingkan pertumbuhan 2022 sebesar 6,5%.
Permasalahan berbeda dihadapi oleh Iran, yang harus memerangi inflasi karena mencapai 35,8% pada Februari 2024. Menurut Bank Dunia, perekonomian Iran terutama didorong oleh pendapatan minyak dan gas (migas) serta penerimaan pajak. Produksi minyak Iran mencapai 1,1 juta barel per hari. Negeri ini memiliki cadangan gas terbesar kedua di dunia.
Komoditas bahan bakar mineral, minyak, dan produk distilasi menyumbang 48% terhadap keseluruhan nilai ekspor. Kekuatan ekspor Iran lainnya adalah besi, baja, tembaga, dan plastik dengan ekspor utama ke China, Rusia, dan Afrika Selatan.
Sayangnya, pertumbuhan ekonomi Iran terhambat gara-gara masih menghadapi sanksi ekonomi, pembatasan akses terhadap pasar ekspor dan teknologi terkini, serta terbatasnya investasi asing. Tanpa kendala itu, ekonomi Iran bisa melesat, melampaui pertumbuhan ekonomi tahun 2023 yang mencapai 5,1%.
Total nilai utang Pemerintah Iran mencapai 30,6% dari PDB pada 2023, dengan utang luar negeri sebesar US$ 6,2 miliar. Defisit anggaran Iran tercatat 5,5% dari PDB. Tingkat pengangguran di Iran mencapai 7,6%.
Kekuatan Militer
Secara umum, berdasarkan laporan Global Firepower, kekuatan militer Iran lebih unggul dibandingkan Israel. Angkatan bersenjata Iran menempati peringkat ke-14 dari 145 negara yang disurvei. Adapun Israel berada di urutan ke-17, atau tiga peringkat di bawah Iran.
Merujuk The New York Times, perkembangan kekuatan militer Iran tergolong luar biasa meski menghadapi sanksi internasional dan diputus akses persenjataan berteknologi tinggi. Angkatan bersenjata Iran dinilai sebagai salah satu yang terbesar di Timur Tengah.
Iran memiliki 580.000 personel aktif dan 200.000 personel cadangan terlatih di Korps Garda Revolusi Islam. Panglima tertinggi angkatan bersenjata adalah Ayatollah Ali Khamenei. Garda Revolusi juga mengoperasikan Pasukan Quds, unit elite yang bertugas mempersenjatai, melatih, dan mendukung jaringan milisi proksi di seluruh Timur Tengah.
Iran disebut-sebut telah mengembangkan industri militer yang kuat dalam beberapa dekade terakhir, antara lain tercermin pada julukan sebagai basis rudal balistik dan pesawat tak berawak terbesar di Timur Tengah. Swasembada senjata Iran merupakan tekad yang dikumandangkan Khamanei sejak mengambil alih kendali pimpinan negeri itu pada 1989.
Rudal balistik Iran meliputi rudal jelajah dan rudal anti-kapal, serta rudal balistik dengan jarak tempuh hingga 2.000 kilometer, atau lebih dari 1.200 mil. Rudal-rudal ini memiliki kapasitas dan jangkauan untuk mencapai target, termasuk Israel.
Pangkalan dan fasilitas penyimpanan senjata Iran sebagian ditimbun di bunker bawah tanah dan dibentengi dengan pertahanan udara sehingga sulit untuk dihancurkan dengan serangan udara.
Sebagai produsen senjata kaliber internasional, Iran telah menjadi pemasok senjata untuk negara-negara di Asia, Eropa, dan Afrika.
Sedangkan Israel memiliki 169.500 orang di divisi pasukan pertahanan. Dari jumlah itu, 126.000 merupakan tentara. Israel juga memiliki 400.000 tentara cadangan.
Israel memiliki sekitar 1.300 tank dan kendaraan lapis baja, 345 jet tempur dan persenjataan artileri, drone, serta kapal selam canggih. Israel pun memiliki simpanan senjata nuklir.
Kekuatan militer Israel sangat mumpuni karena mendapat sokongan sekutu utamanya, Amerika Serikat. AS bahkan mengalokasikan bantuan anggaran militer sekitar US$ 3,8 miliar per tahun ke Israel lewat kontrak perjanjian 10 tahun yang berakhir pada 2028 nanti.
Di Timur Tengah, Amerika menempatkan dua kapal induk di Mediterania timur, yakni USS Gerald Ford, kapal perang terbesar di dunia, dan USS Eisenhower.
Sistem pertahanan udara Israel dilengkapi teknologi canggih. Beberapa yang terkenal adalah The Arrow, sistem rudal anti-balistik yang difungsikan untuk mencegat rudal jarak jauh, termasuk jenis rudal balistik yang ditembakkan Iran Sabtu pekan lalu.
Sistem pertahanan yang juga canggih adalah David’s Sling, yang didesain untuk mencegat rudal jarak menengah. Kita tentu ingat Patriot, rudal kuno milik Israel buatan Amerika yang digunakan pada Perang Teluk tahun 1991, bertugas untuk mencegat rudal Scud-nya Irak.
Kemudian Iron Dome yang dirancang untuk menembak jatuh roket jarak pendek, dan digunakan dalam perang melawan Hamas dan Hizbullah.
Jika memang Iran dan Israel memiliki kekuatan yang seimbang, apalagi jarak kedua negara ini cukup jauh, maka head to head semestinya tidak akan berlangsung lama. Apalagi kedua negara ini tidak berbatasan langsung, melainkan dipisahkan oleh Yordania dan Irak.
Atas dasar itu, semua negara tentu berharap konflik Iran-Israel segera mereda karena tidak ada satu pun yang diuntungkan oleh situasi yang memicu instabilitas dunia finansial dan perdagangan global ini. (Berbagai sumber)

