Rupiah Bergerak Melemah di Awal Oktober 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (1/10/2026). Rupiah melemah 0,15% ke posisi Rp 17.921 per dolar AS.
Beberapa mata uang di kawasan Asia bergerak melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,44%, won Korea Selatan dan dolar Singapura melemah 0,16%, ringgit Malaysia melemah 0,14%, peso Filipima melemah 0,15%, dan baht Tailan melemah 0,17%.
Meski begitu, dua mata uang di kawasan ini masih menguat. Yuan China menguat 0,02% dan rupee India mengua 0,16%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menyebut bahwa indeks dolar AS atau DXY masih berada pada level tinggi di sekitar 101,47, didukung oleh tingginya imbal hasil AS dan aktivitas ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, meskipun penguatannya terbatas oleh inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi.
Inflasi AS pada Agustus 2026 tetap berada di bawah ekspektasi, dengan PCE headline naik 0,3% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan. Sementara itu, PCE inti naik 0,2% secara bulanan dan 3,0% secara tahunan.
Namun, pertumbuhan ekonomi AS dan data pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan membuat imbal hasil tenor panjang tetap tinggi.
Baca Juga
BI Optimistis Rupiah Menguat pada Kuartal IV, Kebutuhan Valas Importir Mereda
Estimasi final menunjukkan pertumbuhan PDB AS pada kuartal II-2026 direvisi naik menjadi 2,2% secara tahunan, dari sebelumnya 1,5%. Sementara itu, jumlah tenaga kerja sektor swasta menurut ADP meningkat 90 ribu pada September, di atas konsensus 70 ribu.
Imbal hasil US Treasury 10 tahun meningkat ke sekitar 5,29%, setelah sempat menyentuh 5,30%, sementara imbal hasil US Treasury 2 tahun bertahan di sekitar 4,89%.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS awalnya turun setelah rilis data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, tetapi kembali naik setelah data PDB dan ketenagakerjaan yang lebih kuat memperkuat ekspektasi bahwa aktivitas ekonomi AS masih resilien.
Kekhawatiran yang terus berlanjut terhadap defisit fiskal serta tingginya pasokan penerbitan Treasury juga masih memberikan tekanan terhadap obligasi berdurasi panjang.
Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali mereda, dengan probabilitas kenaikan 25 bps pada pertemuan FOMC 27–28 Oktober turun menjadi sekitar 37%, dari sebelumnya sekitar 52%.
Dengan demikian, prospek kebijakan moneter masih sangat bergantung pada data, sementara pasar kini mengalihkan perhatian ke laporan ketenagakerjaan AS September yang akan dirilis Jumat.
Harga minyak mentah Brent naik 0,89% menjadi US$ 103,50 per barel, membalikkan sebagian penurunan sebelumnya seiring mandeknya negosiasi AS–Iran dan semakin ketatnya persediaan bahan bakar AS yang kembali memunculkan kekhawatiran mengenai pasokan. Meski demikian, membaiknya arus pasokan minyak mentah masih menjadi penahan terhadap kenaikan harga minyak yang lebih tinggi.
