Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.916 per Dolar AS, BI Beri Penjelasan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah mengalami pelemahan pada sesi akhir perdagangan Kamis (24/9/2026). Rupiah melemah 0,55% menjadi Rp 17.916 per dolar Amerika Serikat (AS).
Bank Indonesia (BI) menjelaskan tentang perkembangan nilai tukar rupiah pada Kamis (24/9/2026).
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal.
“Kondisi tersebut mendorong yield US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11%, tertinggi sejak 2007,” kata Erwin dalam keterangan resminya, Kamis (24/9/2026).
Erwin mengatakan tekanan juga berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia, sehingga harga minyak Brent kembali di atas US$ 100 per barel.
“Dari domestik, tekanan nilai tukar dipengaruhi kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal-III dan arus keluar portofolio dari aset emerging markets,” ujar dia.
Baca Juga
Erwin menjelaskan bahwa BI akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental dan memastikan mekanisme pasar berjalan baik. Penguatan strategi operasi moneter pro-market juga dilakukan untuk mengelola struktur suku bunga pasar uang.
Efektivitas stabilisasi dan kecukupan likuiditas diperkuat melalui peningkatan insentif Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai kepada BI. Ini dalam rangka pendanaan luar negeri, serta perluasan transaksi underlying yang mencakup arus masuk modal portofolio, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment.
Erwin mengatakan intervensi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar juga terus diperkuat.
Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan penguatan secara quarter-to-date (qtd) sebesar 0,46%. Cadangan devisa meningkat menjadi US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
