Dampak Ekonomi Erupsi Gunung Berapi
“Erupsi gunung berapi adalah semacam alarm bahwa seberapa pun kuatnya ekonomi dibangun dan infrastruktur disiapkan, semua tetap tunduk pada hukum alam yang tidak bisa dihentikan.”
Oleh: Bagong Suyanto - Guru Besar Sosiologi Ekonomi dan Ketua Badan Pertimbangan Fakultas (BPF), FISIP Universitas Airlangga
INVESTORTRUST - Di tengah tekanan ekonomi global, pelemahan rupiah dan kondisi geopolitik yang tak kunjung usai, kita mengalami tambahan tekanan dari dalam. Bencana alam, khususnya erupsi sejumlah gunung berapi belakangan ini menjadi salah satu ujian terberat bagi daya tahan ekonomi Indonesia. Bisa dibayangkan apa efek domino yang terjadi ketika sejumlah gunung berapi pada saat bersamaan erupsi, menyemburkan lava dan abu vulkanik yang menyebar ke mana-mana.
Ini bukan sekadar peristiwa bencana vulkanik. Efek yang ditimbulkan akibat erupsi gunung berapi bukan hanya penyelamatan jiwa dan melakukan evakuasi, tetapi juga menyebabkan ancaman lain yang tidak kalah merusak, yakni stagnasi aktivitas ekonomi yang dampaknya menyerang berbagai sendi kehidupan.
Bisa dibayangkan, berapa kerugian yang terjadi ketika delapan bandara udara terpaksa ditutup, 1.588 penerbangan tertunda dan sekitar 170 ribu penumpang pesawat batal terbang pada hari Minggu 6 September 2026 kemarin akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Hanya karena penutupan satu bandara saja, berapa banyak kerugian yang terjadi?
Dampak ekonomi dari erupsi gunung berapi tidak pernah bersifat lokal. Erupsi dan letusannya gunung berapi mungkin terjadi di sebuah wilayah saja, tetapi dampak dan gelombang kejut ekonominya mampu memutus rantai pasok global, meruntuhkan industri pariwisata, dan mengubah lanskap fiskal sebuah negara. Ketika terjadi bencana, bisa dipastikan dana APBN akan terkuras cukup signifikan untuk menyelamatkan para pengungsi dan membangun kembali infrastruktur yang rusak. Belum termasuk recovery aktivitas ekonomi yang sempat terhenti karena imbas terjadinya bencana.
Dampak Ekonomi Bencana
Bencana erupsi gunung berapi agak berbeda dampaknya bila dibandingkan dengan bencana alam yang lain, seperti gempa bumi atau banjir bandang. Gempa bumi dan banjir bandang, dampaknya umumnya agak terbatas, hanya terjadi di daerah sekitar terjadinya bencana.
Sementara itu, untuk erupsi gunung berapi dampaknya bisa jauh lebih luas. Abu vulkanik yang dilontarkan gunung berapi bisa terbang ke mana-mana –tergantung arah angin. Penerbangan pesawat terbang terganggu. Sektor pertanian di berbagai wilayah bisa saja gagal panen karena tertimbun abu vulkanik. Aktivitas ekonomi juga tersendat karena masyarakat terkena imbas penyebaran abu vulkanik.
Pengalaman telah banyak membuktikan bahwa erupsi gunung berapi selalu merugikan para petani. Sektor pertanian dan peternakan biasanya menjadi korban pertama yang paling menderita. Ladang-ladang subur yang berada di lereng gunung—yang sering kali menjadi lumbung pangan daerah— dan lahan pertanian di radius daerah yang terkena semburan abu vulkanik seketika berubah menjadi padang abu yang gersang. Sudah tentu petani tidak akan dapat memanen tanamannya.
Tanaman yang sedang dalam masa pertumbuhan gagal panen, hewan ternak mati akibat menghirup gas beracun, dan tidak sedikit infrastruktur irigasi yang hancur. Bagi para petani dan masyarakat lokal, ini bukan sekadar kehilangan pendapatan satu musim, melainkan kehilangan aset produksi utama mereka. Akibat bencana jangan kaget jika banyak penduduk desa yang menjadi orang miskin baru dan makin miskin karena mengalami bencana yang merugikan perkembangan usahanya.
Selain sektor pertanian, sektor penerbangan dan transportasi adalah yang paling rentan terhadap gangguan abu vulkanik. Abu vulkanik mengandung partikel kaca murni dan silika yang dapat meleleh di dalam mesin jet, dan berisiko menyebabkan mesin pesawat mati mendadak. Sebagian dari kita mungkin masih ingat bagaimana penutupan wilayah udara Eropa akibat erupsi Gunung Eyjafjallajökull di Islandia pada tahun 2010 yang melumpuhkan penerbangan global dan memicu kerugian miliaran dolar bagi maskapai penerbangan di seluruh dunia.
Letusan gunung berapi bawah gletser ini menyemburkan miliaran partikel abu silika halus ke atmosfer. Tertiup oleh angin jet stream, awan abu vulkanik raksasa tersebut menyelimuti sebagian besar wilayah udara Eropa Barat dan Utara. Akibatnya, otoritas penerbangan terpaksa menutup wilayah udara internasional dan melarang penerbangan selama berhari-hari. Di Eropa, lebih dari 107.000 penerbangan dibatalkan, yang mencakup sekitar 48% dari total lalu lintas udara global selama periode tersebut. Sekitar 10 juta penumpang di seluruh dunia dilaporkan telantar karena tidak bisa terbang ke, dari, atau transit di Eropa. Akibat erupsi gunung berap Istonia di Islandia itu menjadi gangguan penerbangan terbesar sejak Perang Dunia II, dan menyebabkan maskapai penerbangan merugi hingga 1,3 miliar Euro.
Di Indonesia, meski dampak erupsi gunung berapi yang terjadi tidak sedahsyat yang terjadi di Istonia. Tetapi, erupsi Gunung Merapi yang terjadi di tahun 2010 juga menimbulkan rentetan dampak ekonomi yang signifikan. Estimasi kerugian yang dihitung oleh Bappeda Kabupaten Sleman per tanggal 14 November 2010 akibat erupsi Gunung Merapi mencapai Rp 3,385 triliun. Angka ini belum termasuk kerugian di subsektor perikanan, wisata Kaliurang, infrastruktur, dan bangunan SD-SMP.
Menurut ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) Cabang Yogyakarta, kerugian akibat erupsi Gunung Merapi mencapai 5 triliun rupiah. Erupsi Merapi menyebabkan banyak masyarakat di wilayah bencana masih harus mengungsi. Jumlah pengungsi di seluruh wilayah DIY tercatat sebanyak 152.075 orang, sedangkan di Kabupaten Sleman sejumlah 111.569 orang. Data Kantor Bank Indonesia Cabang Yogyakarta (18/11) menunjukkan debitur UMKM sebanyak 3.655 berpotensi macet dengan besaran nominal mencapai Rp 106,4 miliar.
Memang saat ini erupsi sejumlah gunung berapi yang ada masih dalam skala yang belum benar-benar mencemaskan. Tetapi, yang pasti akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dan sejumlah gunung yang lain, sektor pariwisata niscaya mengalami tekanan yang signifikan. Destinasi wisata yang berada di sekitar zona bahaya langsung kehilangan daya tariknya. Bahkan, wilayah yang jaraknya ratusan kilometer pun sering kali terkena dampak psikologis berupa pembatalan massal oleh wisatawan asing yang khawatir akan keselamatan mereka. Pemulihan citra pariwisata pasca-bencana membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan sisa abu di jalanan.
Resiliensi Ekonomi
Langkah fundamental yang seharusnya dikembangkan menyikapi ancaman erupsi gunung berapi adalah bagaimana mengembangkan diversifikasi ekonomi daerah berbasis risiko. Pemerintah daerah di zona rawan bencana tidak boleh menggantungkan seluruh pertumbuhan ekonominya hanya pada satu sektor yang rentan, seperti pertanian monokultur atau pariwisata alam. Industri pengolahan skala kecil, ekonomi digital, dan sektor jasa yang tidak bergantung pada lokasi fisik lereng gunung harus ditumbuhkan sebagai bantalan ekonomi ketika bencana melanda.
Erupsi gunung berapi adalah semacam alarm bahwa seberapa pun kuatnya ekonomi dibangun dan infrastruktur disiapkan, semua tetap tunduk pada hukum alam yang tidak bisa dihentikan. Pengalaman telah banyak mengajarkan bahwa kerugian ekonomi akibat bencana erupsi gunung berapi selalu melahirkan kerugian dan penderitaan. Namun, dengan kebijakan fiskal yang adaptif, pemanfaatan teknologi mitigasi, dan penguatan jaring pengaman keuangan masyarakat, kita dapat mengurangi dampak terjadinya bencana yang awalnya merupakan titik kehancuran menjadi momentum untuk merumuskan dan mengembangkan proses pemulihan yang lebih resilien. Bagaimana pendapat Anda? (*)
