Filosofi "SEMANGKA" dan "Jembatan Kabanaran" Diadu di Uji Kompetensi Calon Deputi Gubernur BI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Komisi XI DPR menggelar fit and proper test untuk posisi deputi gubernur Bank Indonesia (BI). Dua nama yang maju dalam uji kelayakan dan kepatutan tersebut yaitu Solikin M. Juhro dan M. Anwar Bashori.
Solikhin mengusung tiga misi penting sebagai deputi gubernur BI yaitu stabilitas yang dinamis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan ekonomi yang inklusif. Ketiga misi tersebut diterjemahkan dalam delapan strategi bernama SEMANGKA.
Filosofi SEMANGKA sendiri merupakan kependekan dari sejumlah unsur terdiri atas unsur S untuk stabilitas dinamis untuk pertumbuhan berkelanjutan. E untuk efektivitas kebijakan moneter dan operasi moneter yang pro market. M untuk makroprudensial adaptif, inovatif, dan pro-growth. A untuk akselerasi pendalaman pasar keuangan. N untuk navigasi ekonomi keuangan inklusif, termasuk syariah. G untuk gerak cepat digitalisasi sistem pembayaran. K untuk kelembagaan BI yang kredibel dan bertata kelola. Dan A untuk aksi bersama dan sinergi kebijakan nasional.
Untuk menjalankan strategi ini, Solikhin menggunakan trilema berkelanjutan yaitu stabilitas, pertumbuhan ekonomi, dan inklusivitas.
“Stabilitas memungkinkan pertumbuhan (ekonomi) dan pertumbuhan (ekonomi) memperluas kesempatan kerja. Dan inklusivitas memperkuat basis ekonomi dan sosial. Basis ekonomi yang semakin kuat, pada akhirnya kembali memperkokoh stabilitas. Jadi, ketiganya saling mempekuat satu sama lain,” ujar dia.
Baca Juga
Destry Damayanti Jalani Fit and Proper Test Calon Gubernur BI, Bawa Tema Sinergi Merah Putih
Sementara itu, Anwar menggunakan pendekatan Jembatan Kabanaran. Jembatan di Bantul, DI Yogyakarta ini diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 19 November 2025.
Anwar mengatakan BI dapat menjadi jembatan bagi tantangan hari ini dan peluang pada masa depan, sekaligus membuka jalan bagi transformasi yang inklusif.
Dalam paparannya, Anwar menyatakan bahwa kebijakan yang ditempuh BI harus bisa bersinergi dengan kebijakan pemerintah. Sinergi ini menjadi pondasi penting untuk membangun kepercayaan.
“Sehingga mampu menciptakan pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja,” ucap dia.
Anwar menjelaskan kepercayaan sebagai modal pertumbuhan ekonomi. Menggunakan profil current account deficit, Anwar memaparkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan terefleksi pada current account deficit.
“Current account deficit sebenarnya adalah memiliki arti saving domestik kita tidak cukup membiayai industri kita. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus mengandalkan pembiayaan eksternal,” jelas dia.
Baca Juga
Komisi XI Gelar 'Fit and Proper Test' Calon Gubernur BI Usai Masa Reses
Pembiayaan eksternal inilah yang membutuhkan kepercayaan. Dengan kepercayaan yang ada foreign direct investment (FDI), public investment, dan investasi lain untuk mengisi ruang kosong.
Untuk itu, strategi yang dipaparkan Anwar yaitu pengembangan ekonomi di tingkat daerah dan membangun ekonomi kerakyatan yang inklusif. Dia ingin mendorong peran dari UMKM di Indonesia karena kontribusinya terhadap ekspor masih sekitar 15%.
“Sehingga peningkatan daya saing dan peran di pasar global harus didorong supaya peran UMKM membantu pertumbuhan inklusif dan mendorong perbaikan current account deficit kita,” ujar dia.
