Presiden Jadikan Danantara Mesin Industrialisasi, 26 Proyek Hilirisasi Dimulai, 750 BUMN Bakal Ditutup
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Presiden Prabowo Subianto menempatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) sebagai salah satu instrumen utama pemerintah untuk mengubah pengelolaan kekayaan negara. Danantara tidak hanya mendapat mandat mengelola dan membenahi BUMN, tetapi juga mengarahkan keuntungan perusahaan negara menjadi modal untuk hilirisasi, industrialisasi, penguasaan teknologi, penciptaan lapangan kerja, hingga ekspansi Indonesia ke rantai pasok global.
Dalam pidato di hadapan anggota MPR RI pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/08/2026), Prabowo memaparkan dua pekerjaan besar yang sedang dijalankan melalui Danantara. Pertama, merombak struktur BUMN yang dinilainya terlalu gemuk, tidak efisien dan dalam sejumlah kasus tidak produktif. Kedua, mengubah keuntungan BUMN menjadi sumber investasi untuk membangun industri bernilai tambah di dalam negeri.
Sepanjang 2026, Danantara telah memulai pembangunan 26 proyek hilirisasi dalam dua gelombang. Sebanyak 13 proyek menjalani groundbreaking pada 6 Februari 2026, kemudian 13 proyek berikutnya pada 29 April 2026.
Baca Juga
Proyek tersebut mencakup berbagai industri strategis, antara lain pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, pengolahan alumina menjadi aluminium, serta berbagai proyek pengolahan sampah menjadi energi atau waste-to-energy.
DME menjadi salah satu proyek yang disorot karena diarahkan sebagai substitusi LPG. Jika dapat diproduksi secara ekonomis dan dalam volume besar, pengembangan DME diharapkan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
Sementara itu, pengolahan alumina menjadi aluminium dan hilirisasi tembaga serta emas diarahkan untuk memperpanjang rantai nilai mineral di dalam negeri. Indonesia tidak hanya menambang dan menjual bahan baku atau produk antara, tetapi berupaya memprosesnya menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Pengembangan garam industri juga memiliki dimensi substitusi impor karena kebutuhan garam berkualitas tinggi bagi sejumlah industri domestik selama ini tidak seluruhnya dapat dipenuhi produksi dalam negeri. Menurut Prabowo, rangkaian proyek tersebut akan menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja baru.
Dengan demikian, hilirisasi yang dijalankan Danantara tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan nilai komoditas, tetapi juga memperbesar basis industri nasional, menciptakan pekerjaan, memperkuat rantai pasok domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Danantara Masuk Upstreaming
Strategi Danantara bahkan akan bergerak lebih jauh. Prabowo mengatakan pemerintah tidak hanya ingin memperkuat downstreaming atau hilirisasi, tetapi juga upstreaming. Salah satu instrumennya adalah membeli atau berinvestasi pada perusahaan-perusahaan terbaik di dunia.
Tujuannya bukan semata-mata memperoleh kepemilikan perusahaan asing. Akuisisi tersebut akan digunakan sebagai jalan pintas untuk memperoleh teknologi, intellectual property (IP), kemampuan manajemen, pengalaman industri, jaringan distribusi, dan akses pasar internasional.
Baca Juga
Prabowo Soroti Pemulihan Garuda, Saham Garuda (GIAA) Sempat Melonjak 5,56%
“Kita juga akan membeli perusahaan-perusahaan terbaik di dunia untuk kita bisa dapat teknologinya, kita bisa dapat IP-IP-nya, kita bisa dapat manajemen yang terbaik, kita bisa dapat pasarnya, kita bisa dapat pengalaman mereka, sehingga nanti ekonomi kita akan kuat,” ujar Prabowo.
Strategi tersebut menunjukkan ambisi yang lebih besar daripada sekadar mengolah sumber daya alam di dalam negeri. Pemerintah ingin menggunakan kekuatan neraca BUMN dan Danantara untuk membeli kapabilitas yang belum dimiliki Indonesia.
Dengan kata lain, aset yang dibeli tidak semata berupa pabrik atau saham perusahaan, tetapi juga teknologi, paten, sumber daya manusia, jaringan pemasaran dan pengetahuan industri.
Prabowo bahkan mencontohkan kebutuhan teknologi di sektor peternakan. Untuk meningkatkan populasi ternak dan mendukung target swasembada daging, Indonesia menurut dia membutuhkan akses terhadap teknologi reproduksi dan kloning ternak.
Dari BUMN ke Industrialisasi
Jika keseluruhan kebijakan tersebut dirangkai, desain Danantara yang dipaparkan Presiden memiliki alur yang cukup jelas: BUMN disehatkan, entitas tidak produktif dipangkas, biaya ditekan, keuntungan dan dividen ditingkatkan, lalu sebagian kemampuan finansial yang tercipta diarahkan kembali untuk membangun industri baru.
Model tersebut pada dasarnya berusaha mengubah BUMN dari sekadar kumpulan perusahaan negara menjadi sebuah ekosistem modal nasional.
Baca Juga
Perusahaan yang sehat menghasilkan laba. Laba menghasilkan dividen dan kemampuan investasi. Dana investasi kemudian ditempatkan pada proyek hilirisasi, industri substitusi impor, energi, mineral dan proyek strategis lainnya. Pada tahap berikutnya, investasi atau akuisisi perusahaan global digunakan untuk membawa teknologi dan pasar ke Indonesia.
Dengan skema itu, Danantara diharapkan menciptakan siklus baru: aset negara menghasilkan laba, laba membiayai investasi, investasi membangun industri, industri menciptakan pekerjaan dan nilai tambah, kemudian menghasilkan aset dan keuntungan baru bagi negara.
Prabowo menyebut Danantara sebagai dana kedaulatan atau sovereign wealth fund Indonesia. Ketika lembaga tersebut dibentuk, pemerintah menemukan struktur perusahaan negara ternyata jauh lebih besar daripada yang diperkirakan. Menurut Presiden, terdapat 1.074 BUMN beserta anak, cucu, bahkan cicit perusahaan. Prabowo mengaku sebelumnya memperkirakan jumlah perusahaan negara hanya sekitar 300-400 entitas.
“Ketika kita bentuk Danantara, yaitu adalah dana kedaulatan kita, sovereign wealth fund, kita menemukan bahwa ada 1.074 BUMN. Dan BUMN-BUMN itu ada yang punya anak perusahaan dan ada yang punya cucu perusahaan, bahkan ada yang punya cicit perusahaan. Ini luar biasa. Saya mengira BUMN itu adalah 300 atau 400, ternyata ada 1.074,” kata Prabowo.
Dari 1.074 Entitas Menjadi Maksimal 300
Besarnya jumlah perusahaan tersebut kemudian menjadi sasaran restrukturisasi. Presiden menilai terlalu banyak BUMN yang tidak produktif, terus mengalami kerugian, memiliki struktur organisasi berlapis, dan menyerap biaya besar untuk direksi, komisaris serta berbagai pengeluaran korporasi.
Prabowo juga melontarkan kritik keras terhadap tata kelola sebagian perusahaan negara. BUMN, tegas dia, merupakan kekayaan milik seluruh rakyat Indonesia dan karena itu tidak boleh diperlakukan sebagai milik direksi, komisaris ataupun kepentingan politik penguasa. “BUMN adalah milik seluruh rakyat Indonesia. BUMN tidak boleh milik direksi, bukan milik komisaris, bukan pula sumber dana bagi penguasa,” ujarnya.
Baca Juga
Prabowo Puji Danantara Pimpinan Rosan Roeslani, Pantas Raih Bintang Kehormatan
Pemerintah hingga pertengahan Agustus 2026, menurut Prabowo, telah menutup 290 BUMN dan entitas perusahaan negara. Restrukturisasi akan dilanjutkan secara agresif. Pada 31 Desember 2026, pemerintah menargetkan hanya akan mempertahankan paling banyak 300 entitas.
Dengan demikian, lebih dari 750 entitas BUMN dari struktur awal 1.074 perusahaan akan ditutup, digabungkan, atau dirampingkan. Prinsip yang digunakan pemerintah, menurut Prabowo, adalah hanya mempertahankan perusahaan yang produktif dan mampu menghasilkan nilai tambah. “Hanya yang produktif, hanya yang menciptakan nilai tambah untuk rakyat akan kita pertahankan. Ini mungkin adalah restrukturisasi korporasi terbesar di dunia,” katanya.
Penghematan Sudah Rp50 Triliun
Perampingan struktur tersebut mulai menghasilkan penghematan. Prabowo menyebut biaya overhead BUMN telah berkurang lebih dari Rp50 triliun. Penghematan berasal antara lain dari pengurangan biaya gaji direksi dan komisaris, penyewaan gedung dan kendaraan, perjalanan dinas serta berbagai pengeluaran lain yang muncul akibat banyaknya lapisan perusahaan.
“Hanya dari gaji direksi, komisaris, sewa gedung, sewa mobil, perjalanan dinas, kita sudah menghemat Rp50 triliun lebih,” ujar Presiden. Pemerintah menargetkan penghematan tersebut meningkat menjadi lebih dari Rp70 triliun hingga 31 Desember 2026.
Baca Juga
Prabowo: Pembangunan Bangsa Bukan Pekerjaan Presiden Seorang Diri
Prabowo menggambarkan besarnya opportunity cost dari inefisiensi tersebut. Dana puluhan triliun rupiah yang sebelumnya terserap untuk membiayai struktur korporasi dapat digunakan untuk memperbaiki puskesmas, merenovasi sekolah, menyediakan perumahan rakyat ataupun membiayai investasi produktif.
Dalam kesempatan itu, Presiden secara khusus memberikan apresiasi kepada pimpinan dan seluruh jajaran Danantara atas proses restrukturisasi yang telah dilakukan.
Restrukturisasi juga dibarengi dengan pembenahan laporan keuangan perusahaan negara. Prabowo menegaskan pemerintah tidak mau lagi menoleransi “permainan angka” ataupun laporan yang tidak menggambarkan keadaan perusahaan sebenarnya.
Menurut Presiden, setelah pemerintah melakukan koreksi terhadap laporan sejumlah perusahaan, keuntungan BUMN pada 2024 ditetapkan sebesar Rp186 triliun, dengan dividen sebesar Rp85,5 triliun. Pada 2025, keuntungan BUMN kemudian meningkat menjadi Rp326 triliun, melonjak 75,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Prabowo secara khusus menegaskan bahwa laba Rp326 triliun tersebut merupakan keuntungan yang menurut pemerintah telah dibersihkan dari apa yang disebutnya sebagai permainan angka. “Rp326 triliun ini adalah keuntungan tanpa permainan angka,” katanya.
Peningkatan laba juga mengerek setoran dividen. Dividen BUMN naik dari Rp85,5 triliun pada 2024 menjadi Rp142,3 triliun pada 2025, atau meningkat sekitar 67%.
Baca Juga
Namun, Prabowo mengatakan kontribusi BUMN seharusnya tidak hanya dilihat dari dividen bruto. Untuk memperoleh gambaran lebih akurat mengenai manfaat bersih perusahaan negara terhadap keuangan pemerintah, dividen perlu dikurangi Penyertaan Modal Negara (PMN) yang pada tahun yang sama diberikan pemerintah kepada BUMN.
Dengan pendekatan tersebut, kontribusi bersih BUMN pada 2024 mencapai Rp53 triliun. Pada 2025 jumlahnya melonjak menjadi Rp138 triliun, meningkat sekitar 160%.
Untuk 2026, pemerintah memproyeksikan dividen BUMN mencapai Rp200 triliun tanpa PMN. Jika target tersebut tercapai, kontribusi bersih BUMN meningkat dari Rp53 triliun pada 2024 menjadi Rp200 triliun dalam dua tahun. Bagi Prabowo, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pembenahan tata kelola dan efisiensi dapat dengan cepat meningkatkan produktivitas aset negara.
Laba BUMN Diputar Lagi
Perubahan mendasar yang hendak dilakukan melalui Danantara adalah pada penggunaan keuntungan BUMN. Pemerintah tidak ingin seluruh keuntungan perusahaan negara berhenti sebagai angka laba ataupun sekadar menjadi setoran dividen.
Keuntungan tersebut akan diputar kembali menjadi investasi produktif untuk membangun kapasitas industri Indonesia. “Keuntungan BUMN sekarang digunakan untuk mempercepat upaya hilirisasi kita,” kata Prabowo.
Baca Juga
Melalui mekanisme tersebut, Danantara praktis ditempatkan sebagai jembatan antara aset BUMN yang telah dimiliki negara dan penciptaan aset produktif baru. Laba dari perusahaan yang sudah mapan dapat digunakan untuk membangun industri baru, memperbesar kapasitas produksi, mengurangi impor dan memperluas lapangan kerja.
Skala ambisi tersebut sekaligus menempatkan tanggung jawab yang sangat besar di pundak Danantara. Ketika aset dan keuntungan BUMN dikonsolidasikan untuk membiayai investasi jangka panjang, keputusan investasi yang keliru juga berpotensi menghasilkan kerugian dalam jumlah besar.
Karena itu, ukuran keberhasilan Danantara tidak cukup hanya berdasarkan banyaknya proyek yang diumumkan atau di-groundbreaking. Setiap proyek pada akhirnya harus diuji dari kelayakan ekonomi, tingkat pengembalian investasi, arus kas, penciptaan lapangan kerja, penghematan devisa, tambahan ekspor, transfer teknologi dan nilai tambah ekonomi yang benar-benar dihasilkan.
Hal yang sama berlaku terhadap rencana akuisisi perusahaan di luar negeri. Membeli teknologi melalui perusahaan global dapat mempercepat lompatan industri Indonesia, tetapi hanya memberikan manfaat maksimal apabila teknologi, keahlian dan jaringan pasar tersebut benar-benar dapat ditransfer dan dimanfaatkan oleh industri di dalam negeri.
Tata kelola karena itu menjadi fondasi utama. Danantara harus mampu membuktikan bahwa konsolidasi kekayaan negara menghasilkan disiplin investasi yang lebih tinggi, bukan sekadar memindahkan pengelolaan aset dari satu institusi ke institusi lain.
Pesan Prabowo dalam pidato di hadapan MPR memperlihatkan bahwa pemerintah memberikan Danantara mandat yang jauh lebih besar daripada mengelola portofolio investasi. Danantara sedang diposisikan sebagai mesin restrukturisasi BUMN sekaligus mesin industrialisasi Indonesia.
Baca Juga
Seruput Kopi di Sela Pidato, Prabowo: Tenang Aja, Pemilu Masih Lama
Jika restrukturisasi berjalan sesuai target, pada akhir 2026 jumlah entitas BUMN akan menyusut drastis dari 1.074 menjadi maksimal 300, biaya overhead dapat ditekan lebih dari Rp70 triliun, sementara dividen BUMN diproyeksikan mencapai Rp200 triliun tanpa PMN. Pada saat bersamaan, keuntungan perusahaan negara mulai dialihkan menjadi modal bagi proyek-proyek hilirisasi dan investasi teknologi.
Pada akhirnya, keberhasilan strategi tersebut akan ditentukan oleh satu pertanyaan mendasar: apakah Danantara mampu mengubah besarnya kekayaan negara menjadi aset produktif yang menghasilkan return, teknologi, industrialisasi, lapangan kerja dan kesejahteraan dalam jangka panjang.
Sumber: Pidato Presiden RI Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.

