Danantara Didorong Jadikan Laba BUMN sebagai Mesin Dampak Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Menjelang HUT ke-81 RI, transformasi pengelolaan badan usaha milik negara (BUMN) dinilai mulai menunjukkan arah positif, terutama melalui perubahan pendekatan tata kelola aset negara yang lebih berorientasi pada penciptaan nilai. Pengamat ekonomi Satria Aji Imawan menilai, pembeda utama Danantara terletak pada pergeseran dari pendekatan administratif dan kepemilikan menuju portfolio governance dan value creation. Menurutnya, BUMN kini tidak semata dipandang sebagai entitas milik negara, melainkan kumpulan aset strategis yang harus dikelola secara profesional, terukur, produktif, dan berorientasi jangka panjang.
Satria mengatakan, capaian laba gabungan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sebesar Rp39,92 triliun pada kuartal I 2026 merupakan sinyal positif bagi transformasi BUMN. Satria juga menekankan, keberhasilan Danantara seharusnya juga diukur dari kemampuan mengelola aset BUMN secara lebih disiplin, transparan, produktif, dan berkelanjutan sehingga bisa memberi kontribusi lebih luas bagi perekonomian nasional.
Pandangan tersebut sejalan dengan momentum pidato Presiden Prabowo Subianto dalam penyampaian RAPBN 2027 dan Nota Keuangan pada Jumat (14/8), yang menekankan pentingnya transformasi ekonomi serta penguatan kapasitas nasional untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi. Dalam konteks itu, optimalisasi aset negara melalui tata kelola BUMN dinilai menjadi bagian penting untuk memastikan aset publik tidak hanya menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga memberikan dampak lebih luas bagi perekonomian dan masyarakat.
Baca Juga
Rosan Pastikan Danantara Terus Pangkas BUMN hingga Tersisa 200 Perusahaan
Satria menilai, capaian laba BUMN perlu dibaca dalam kerangka yang lebih luas, yakni bagaimana aset negara mampu menciptakan nilai ekonomi dan sosial secara berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan transformasi tidak cukup diukur dari pertumbuhan laba semata, tetapi juga dari sejauh mana kinerja tersebut memperkuat produktivitas aset, memperluas akses pembiayaan, mendorong sektor-sektor prioritas, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Untuk BUMN, yang lebih tepat adalah value maximization for the state and society,” ujarnya saat dihubungi pada Jumat (14/08/2026). Karena itu, laba seharusnya ditempatkan sebagai instrumen, bukan tujuan akhir, untuk memperbesar kapasitas negara dalam menggerakkan sektor riil, memperkuat daya saing nasional, dan memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.
Dalam konteks tersebut, Danantara dinilai perlu menjaga keseimbangan antara disiplin korporasi dan mandat pembangunan melalui pendekatan centralized strategy, decentralized execution. Danantara dapat menetapkan arah besar, termasuk alokasi modal, manajemen risiko, efisiensi, transformasi digital, dan sinergi bisnis. Namun, pelaksanaan operasional tetap perlu berada di masing-masing BUMN agar keputusan dapat menyesuaikan karakter sektor, dinamika pasar, dan kebutuhan masyarakat yang dilayani.
Ke depan, Satria melihat pola tata kelola yang diterapkan pada sektor keuangan dapat menjadi benchmark bagi transformasi BUMN di sektor lain, termasuk energi dan infrastruktur, meski tidak dapat diterapkan secara mutlak. Prinsip yang dapat direplikasi antara lain profesionalisme, performance-based management, optimalisasi aset, disiplin alokasi modal, digitalisasi, transparansi, dan sinergi lintas BUMN.
“Benchmark keberhasilan Danantara bukan hanya ukuran neraca, tapi juga perubahan kualitas tata kelola negara dalam mengelola aset publik,” katanya.
Dengan demikian, target jangka panjang Danantara bukan sekadar menjadikan BUMN lebih besar, melainkan lebih produktif, kompetitif, dan mampu menjadi instrumen pembangunan tanpa kehilangan disiplin korporasi

