Rupiah Hari Ini Menguat 0,46%, Pasar Soroti Data Tenaga Kerja AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (10/8/2026). Rupiah menguat 0,46% ke posisi Rp 17.814 per dolar AS, pada pukul 09.11 WIB.
Bloomberg mencatat sejumlah mata uang di Asia yang bergerak menguat, di antaranya ringgit Malaysia, peso Filipina, dan baht Tailan. Ringgit menguat 0,07%, peso menguat 0,26%, dan baht menguat 0,18%.
Baca Juga
Rupiah Butuh Pasokan Modal Asing US$ 11 Miliar di Semester II-2026, Ini Alasannya
Sementara itu, yen Jepang melemah 0,33% diikuti pelemahan won Korea Selatan sebesar 0,57%, dan dolar Singapura sebesar 0,09%.
Chief Analyst Doo Financial Future, Lukman Leong menyebut penguatan rupiah terhadap dolar AS karena data pekerjaan AS atau nonfarm payroll (NFP) pada Jumat (7/8/2026). Data pekerjaan tersebut jauh lebih lemah dari harapam.
"Memicu menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh the Fed," kata Lukman.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmkro mencatat NFP secara tak terduga turun 23.000 pada Juli, sementara revisi turun yang signifikan terhadap data dua bulan sebelumnya menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja.
"Tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,1%, meskipun tingkat partisipasi angkatan kerja terus menurun," kata dia.
Data tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa kondisi ketenagakerjaan memburuk di tengah tekanan harga yang masih bertahan serta ketidakpastian terkait konflik Iran, sekaligus meningkatkan kemungkinan bahwa The Fed dapat menunda pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Andry menjelaskan investor mengurangi spekulasi terhadap kenaikan suku bunga pada September.
Baca Juga
Situasi Timur Tengah jadi Penentu
Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa negosiasi antara Iran dan Oman mengenai Selat Hormuz “terus berjalan”, meskipun belum ada kesepakatan yang difinalisasi.
Negosiasi antara Iran, AS, dan negara-negara GCC terkait akses ke Selat Hormuz akan terus menjadi faktor penentu harga energi serta prospek suku bunga bagi perekonomian global.
Lukman melihat kembali kisruhnya geopolitik di Timur Tengah bisa membatasi penguatan rupiah.

