Indef Soroti Angka Pertumbuhan Ekonomi yang Bergantung pada Stimulus
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memberikan catatan kritis terhadap capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 yang tercatat sebesar 5,29% (yoy). Meski angka pertumbuhan masih berada di atas 5%, Indef menilai kualitas pertumbuhan tersebut 'mencemaskan' karena sangat bergantung pada stimulus fiskal pemerintah.
Direktur Big Data Indef, Eko Listiyanto, menyatakan bahwa perekonomian saat ini sedang berada dalam fase normalisasi setelah momentum Lebaran di kuartal sebelumnya. Namun, ia menyoroti bahwa motor penggerak pertumbuhan bukan berasal dari daya beli natural masyarakat, melainkan dari belanja negara.
"Saya menyebutnya kualitas pertumbuhan yang mencemaskan. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat dari 5,52 persen ke 5,06 persen. Jika tidak ada belanja APBN yang tumbuh kencang hingga 15,97 persen, pertumbuhan konsumsi rumah tangga kita bisa jatuh di bawah 5 persen. Ini menunjukkan daya beli murni masyarakat sebenarnya sedang tertekan," ujar Eko dalam diskusi publik daring, Kamis (6/8/2026).
Eko menambahkan, kecemasan ini diperkuat dengan memburuknya indikator kemiskinan di perdesaan. Meski angka kemiskinan nasional turun tipis, indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan di desa justru meningkat, ditambah dengan melebarnya ketimpangan pengeluaran (Gini Ratio) dari 0,363 menjadi 0,368.
Senada dengan Eko, Peneliti Center of Industry Trade and Investment Indef, Ahmad Heri Firdaus, menyoroti adanya anomali besar pada sektor perdagangan. Sektor ini tumbuh tinggi sebesar 6,39%, namun justru mengalami penurunan jumlah tenaga kerja sebanyak 128.000 orang.
Baca Juga
"Ini aneh, sektornya tumbuh di atas rata-rata nasional, tapi penyerapan tenaga kerjanya malah minus. Ada fenomena jobless growth di sini," kata Heri.
Heri juga mengkritisi efisiensi investasi. Meski realisasi investasi tumbuh 7,1% mencapai Rp 511 triliun, hal itu tidak linear dengan pertumbuhan ekonomi yang hanya di angka 5,29%. Ia juga menyoroti perbedaan data penyerapan tenaga kerja antara BKPM (742 ribu orang dalam 3 bulan) dengan BPS (522 ribu orang dalam 4 bulan).
"Investasi kita masih tidak efisien. Di sisi lain, kualitas penduduk yang bekerja masih rendah, di mana lebih dari separuhnya hanya lulusan SD dan SMP. Ini tantangan besar jika kita ingin mendorong hilirisasi teknologi tinggi," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Center of Digital Economy and SMEs Indef, Izuddin Al Farras Adha, mengkritisi target Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi mendekati 6% pada paruh kedua 2026.
Target Pertumbuhan Semester II-2026 Dipertanyakan
Farras menilai janji tersebut sulit terealisasi karena hilangnya momentum libur nasional dan hari besar keagamaan di sisa tahun ini. Selain itu, stimulus dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) diprediksi melemah seiring dengan tren laju realisasi anggaran yang menurun dan adanya moratorium ekspansi SPPG (Satuan Pelayanan Makanan Bergizi).
"Realisasi anggaran MBG di paruh pertama baru 37,72 persen dari pagu Rp 268 triliun, padahal waktu sudah berjalan 50 persen. Dengan tren laju bulanan yang menurun, dorongan program ini ke sektor akomodasi dan makan-minum akan semakin rendah di paruh kedua," jelas Farras.
Mengenai ekonomi digital, Farras menyebut pertumbuhan transaksi e-commerce sebesar 35% belum bersifat inklusif bagi UMKM. Pertumbuhan transaksi digital lebih banyak dinikmati oleh pelaku usaha besar dan lebih bersifat mendorong aktivitas konsumsi daripada produktivitas UMKM.
"Menteri Keuangan sebaiknya lebih banyak bekerja daripada berbicara memberikan ekspektasi terlalu tinggi. Perlu ada pembenahan komunikasi kebijakan agar antara ucapan dan perbuatan bisa selaras," tutur Farras.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 5,29% secara tahunan, melambat dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar 5,61% secara tahunan.
Konsumsi rumah tangga dan Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Pada kuartal II-2026 ini, dua komponen ini menyumbang sekitar 83,68% terhadap ekonomi.
Meski demikian, terjadi perlambatan kontribusi konsumsi rumah tangga dari 2,95% ke 2,67%, seiring memudarnya dampak positif Ramadan-Lebaran yang menopang mobilitas, transportasi, restoran, dan hotel pada kuartal I-2026.
Sementara itu, kontribusi investasi tumbuh pada kuartal II-2026. Investasi pada kuartal II-2026 berkontribusi sebesar 2,06% naik dari kontribusi kuartal I-2026 yang sebesar 1,79%.
