Ekonomi Kuartal II-2026 Tumbuh 5,29%, Ekonom Sebut Potensi Moderasi di Semester II
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 5,29% secara tahunan, melambat dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar 5,61% secara tahunan.
Konsumsi rumah tangga dan Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Pada kuartal II-2026 ini, dua komponen ini menyumbang sekitar 83,68% terhadap ekonomi.
Meski demikian, terjadi perlambatan kontribusi konsumsi rumah tangga dari 2,95% ke 2,67%, seiring memudarnya dampak positif Ramadan-Lebaran yang menopang mobilitas, transportasi, restoran, dan hotel pada kuartal I-2026.
Sementara itu, kontribusi investasi tumbuh pada kuartal II-2026. Investasi pada kuartal II-2026 berkontribusi sebesar 2,06% naik dari kontribusi kuartal I-2026 yang sebesar 1,79%.
Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz menyebut naiknya kontribusi investasi pada kuartal II-2026 menjadi faktor utama yang menahan perlambatan ekonomi.
Faiz mengatakan kinerja tersebut didorong oleh kombinasi investasi publik yang terkait dengan program prioritas nasional dan pembangunan infrastruktur, serta investasi swasta di sektor manufaktur, industri hilirisasi, mesin, infrastruktur digital, kecerdasan buatan (AI), dan pusat data.
“Ini sejalan dengan terus meningkatnya impor barang modal serta realisasi investasi kuartal II-2026 yang mencapai sekitar Rp 512 triliun, yang tetap positif meskipun kondisi investasi domestik sedikit melemah,” kata Faiz, Rabu (5/8/2026).
Baca Juga
Faiz mencatat, kinerja pada kuartal II-2026 melambat seiring normalisasi faktor musiman dan stimulus fiskal. Selain kinerja investasi dan konsumsi rumah tangga, aktivitas kontruksi dan menurunnya tekanan dari ekspor neto mampu menjaga perekonomian.
“Dengan demikian, komposisi pertumbuhan semakin didorong oleh investasi, di mana belanja modal pemerintah dan swasta mengompensasi melambatnya konsumsi pemerintah,” kata dia.
Faiz menjelaskan bahwa moderasi pertumbuhan akan mulai terlihat pada semester II-2026. Ini akan terjadi seiring melambatnya implementasi fiskal terhadap program prioritas nasional.
Kuartal II 2026 Diwarnai Tekanan Global
Ketua Umum, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan bahwa kuartal II-2026 bergerak dalam tekanan akibat konflik di Selat Hormuz dan efek pelemahan nilai tukar.
Shinta menjelaskan pasar domestik juga sempat mengalami perlambatan permintaan karena kenaikan harga BBM.
“Jadi aktivitas ekonomi di sektor riil, sepanjang kuartal II-2026 cukup berat sehingga kurang mendukung adanya ekspansi kegiatan usaha,” kata Shinta.
Dengan kondisi tersebut, Shinta yakin masih ada sektor industri yang ekspansif. Akan tetapi, jumlahnya tak banyak dan bukan menjadi tren industri arus utama.
“Karena disrupsi-disrupsi yang terjadi di sisi demand pasar maupun di sisi komponen supply, serta biaya produksi,” ujar dia.
Kondisi ini pun sebetulnya tercermin dlm PMI Manufaktur keluaran S&P yg baru menunjukkan perbaikan kondisi per Juli dg kondisi ekspansi yang relatif sederhana.
“Ini artinya, kalaupun ada pertumbuhan kondisi ekonomi di kuartal II-2026, pertumbuhan tersebut sifatnya baru dan relatif “fragile” sehingga perlu dijaga momentumnya agar ke depannya pertumbuhan lebih solid dan eksponensial,” kata dia.
