Harga Perdagangan Besar Deflasi 0,37%, Biaya Konstruksi Tetap Naik
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Indeks Harga Perdagangan Besar nasional mengalami deflasi 0,37% pada Juli 2026 dibandingkan Juni. Penurunan terutama dipengaruhi merosotnya harga hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (03/08/2026), mencatat meskipun terjadi deflasi bulanan, harga perdagangan besar masih mengalami inflasi 5,66% secara tahunan dan 4,55% sepanjang Januari–Juli 2026.
Seksi hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami deflasi 2,25% secara bulanan dengan andil deflasi 0,41%. Secara tahunan, harga di seksi ini masih meningkat 4,38% dengan andil 0,81%.
Penurunan harga pangan di tingkat perdagangan besar sejalan dengan deflasi sejumlah komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan tomat.
Baca Juga
Inflasi Harga Produsen Melonjak 2,83%, Pertambangan Jadi Pendorong Utama
Seksi barang lainnya yang dapat diangkut, kecuali produk logam, mesin, dan perlengkapannya, mengalami deflasi 0,39% dengan andil 0,11%. Meski turun secara bulanan, seksi tersebut mencatat inflasi tahunan tinggi sebesar 8,33% dengan andil 2,26%.
Seksi produk makanan, minuman, dan tembakau serta tekstil, pakaian, dan produk kulit mengalami inflasi bulanan 0,20% dengan andil 0,06%. Secara tahunan, harga kelompok ini meningkat 3,89% dan memberikan andil 1,25%.
Produk logam, mesin, dan perlengkapannya mengalami inflasi 0,44% secara bulanan dan 5,77% secara tahunan. Kelompok tersebut memberikan andil inflasi bulanan 0,09% dan tahunan 1,23%.
Sementara itu, seksi bijih besi dan mineral, listrik, gas, dan air mencatat inflasi bulanan 0,06%. Secara tahunan, harganya melonjak 10,78%, tertinggi di antara kelompok utama.
Perkembangan berbeda terjadi pada kelompok bangunan dan konstruksi. IHPB konstruksi mengalami inflasi 0,63% secara bulanan, 9,37% secara tahunan, dan 7,38% sepanjang tahun berjalan.
Bangunan pekerjaan umum untuk jalan, jembatan, dan pelabuhan menjadi penyumbang utama inflasi bulanan konstruksi. Indeks kelompok tersebut naik 0,84% dan memberikan andil 0,39%.
Harga bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal meningkat 0,50% secara bulanan dan 9,91% secara tahunan. Kelompok ini memberikan andil inflasi bulanan 0,19% dan tahunan 3,72%.
Bangunan pekerjaan umum untuk pertanian mengalami inflasi 0,34% secara bulanan dan 7,76% secara tahunan.
Bangunan dan instalasi listrik, gas, air minum, dan komunikasi mencatat inflasi bulanan 0,45% dan tahunan 8,58%. Adapun bangunan lainnya naik 0,30% secara bulanan dan 7,58% secara tahunan.
Baca Juga
Libur Sekolah dan Libur MBG Jadi Penyebab Deflasi? Ini Kata BPS
Komoditas utama yang mendorong kenaikan biaya konstruksi ialah aspal dengan andil 0,29%, semen 0,09%, baja tulangan atau besi beton 0,06%, serta kerangka dan kusen pintu atau jendela aluminium.
Sebaliknya, kayu gelondongan memberikan andil deflasi 0,02% dan beberapa komoditas lain memberi tekanan penurunan kecil.
Deflasi harga perdagangan besar secara umum dapat membantu meredakan tekanan harga di tingkat konsumen dalam beberapa bulan mendatang. Namun, inflasi konstruksi yang masih tinggi berpotensi meningkatkan biaya pembangunan rumah, jalan, jembatan, pelabuhan, dan proyek infrastruktur lainnya.
Kenaikan biaya bahan bangunan perlu dikelola agar tidak menghambat investasi dan pembangunan infrastruktur. Efisiensi logistik, pasokan bahan baku, dan persaingan usaha menjadi penting untuk menjaga biaya konstruksi tetap terkendali.
