Rupiah Dibuka Melemah Pasca Putusan FFR oleh The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (30/7/2026). Rupiah melemah 0,05% menjadi Rp 18.064 per dolar AS.
Data Bloomberg menunjukkan bahwa sejumlah mata uang di Asia juga bergerak melemah terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong melemah 0,01%, yen Jepang melemah 0,05%, dan won Korea Selatan melemah 0,36%.
Pelemahan juga terjadi pada dolar Singapura dan baht Tailan. Keduanya melemah masing-masing 0,05% dan 0,09%.
Sementara itu, penguatan terjadi pada yen Jepang dan ringgit Malaysia. Yen menguat 0,08% dan ringgit menguat 0,07%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro memberi catatan tentang keputusan Bank Sentral AS (The Fed) yang mempertahankan suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) di kisaran 3,50%–3,75% pada rapat FOMC Juli 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Dalam keputusannya, The Fed menilai bahwa perekonomian AS masih menunjukkan fundamental yang kuat meskipun ketidakpastian tetap tinggi, sebagian dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Pertumbuhan produktivitas yang solid, investasi bisnis yang kuat, serta pasar tenaga kerja yang tetap tangguh terus menopang aktivitas ekonomi. Sementara itu, inflasi masih berada di atas target 2% The Fed, sehingga stabilitas harga tetap menjadi tujuan utama kebijakan Komite.
Meskipun suku bunga tidak berubah, hasil rapat memberikan sinyal hawkish yang lebih kuat. Keputusan tersebut disetujui melalui voting 9–3, dengan Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan memberikan suara berbeda (dissent) yang mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) secara langsung.
Baca Juga
Rupiah Bergerak Melemah, Pengunduran Gubernur BI Masih Jadi Sentimen
Ini merupakan jumlah suara berbeda terbesar untuk keputusan mempertahankan suku bunga sejak 2016. Fenomena itu mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di antara sejumlah anggota FOMC bahwa tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama dan mungkin memerlukan pengetatan kebijakan tambahan apabila data ekonomi yang masuk tidak menunjukkan perbaikan.
Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen penuh Komite untuk mengembalikan inflasi ke target 2%, dengan menekankan bahwa "tidak ada target inflasi yang lunak (soft inflation target)."
Ia menegaskan bahwa satu laporan CPI yang lebih rendah belum cukup untuk menyimpulkan bahwa inflasi telah berhasil dikendalikan. The Fed membutuhkan bukti yang lebih luas dan berkelanjutan mengenai penurunan inflasi sebelum mempertimbangkan pelonggaran kebijakan.
Warsh juga menekankan bahwa ekspektasi inflasi harus tetap tertambat kuat di level 2%, karena ekspektasi inflasi yang tinggi dapat memengaruhi kenaikan upah, penetapan harga oleh perusahaan, dan tingkat suku bunga jangka panjang.
Warsh menjelaskan bahwa lonjakan tajam imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS sejak rapat FOMC sebelumnya telah memperketat kondisi keuangan secara signifikan, sehingga secara efektif telah memberikan sebagian efek pengetatan moneter melalui mekanisme pasar.
Oleh karena itu, Komite menilai bahwa mempertahankan suku bunga saat ini merupakan langkah yang tepat sembari terus mengevaluasi dampak kumulatif dari kondisi keuangan yang lebih ketat terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Ia juga menegaskan bahwa keputusan mempertahankan suku bunga tidak boleh diartikan sebagai penghentian siklus pengetatan moneter, karena Komite tetap siap memperketat kebijakan lebih lanjut apabila inflasi terbukti lebih persisten dari perkiraan.
