CORE Indonesia Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II-2026 di Angka Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 lebih rendah dari realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang sebesar 5,61%. Pada kuartal II-2026, CORE Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berkisar di angka 4,8-4,9%.
“Kita memperkirakan bahwa laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 adalah 4,8-4,9%” kata Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal dan Moneter, CORE Indonesia, Akhmad Akbar Susamto, di kantornya, Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Dalam paparannya, Akbar menunjukkan bahwa proyeksi tersebut dipengaruhi melebarnya impor barang dan jasa. Pada kuartal II-2026 impor diproyeksi menembus 17-18%, lebih tinggi dari realisasi impor pada kuartal I-2026 yang sebesar 7,18%.
Sementara itu, ekspor barang dan jasa diproyeksikan meningkat dari kuartal sebelumnya. Rentang yang dibuat CORE Indonesia yaitu 7-8%, jauh di angka ekspor kuartal I-2026 yang sebesar 0,9%.
Pada kuartal II-2026, CORE Indonesia memproyeksikan konsumsi rumah tangga mencapai 4,7-4,9%. Kemudian, konsumsi pemerintah sebesar 20-23%. Pembentuk Modal Tetap Bruto atau PMTB mencapai 6,8-7,5%.
“Nah selama setahun ini, Januari-Desember, kami tidak mengubah proyeksi kami. Di tahun lalu kita sudah melakukan proyeksi bahwa pertumbuhan ekonomi akan mencapai 4,9-5,1%” kata dia.
Baca Juga
BI Dorong Transformasi Pembiayaan Produktif untuk Pertumbuhan Ekonomi
Strategic Research Manager CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai pergerakan harga minyak mentah dunia akan menjadi faktor penentu perekonomian Indonesia ke depan. Dari sisi fiskal, dia menyebut bahwa peningkatan harga minyak mentah dunia ke angka US$ 90-100 per barel akan mendorong kenaikan belanja subsidi dan energi.
“Itu akan memengaruhi kenaikan defisit anggaran yang lebih besar,” ujar Yusuf.
Selain itu, Yusuf mengatakan tekanan yang diterima APBN pada semester II-2026 akan meningkat seiring naiknya harga komoditas. Harga komoditas yang naik berpengaruh terhadap restitusi pajak.
“Sehingga itu akan berpotensi menggerus penerimaan pajak secara umum,” kata dia.
Berdasarkan proyeksi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) penerimaan pajak 2026 akan mengalami shortfall. Penerimaan pajak diproyeksi hanya 98% dari target yaitu Rp 2.310,8 triliun.
Purbaya berjanji menjaga penerimaan pajak dengan efisiensi pekerja pajak, perbaikan Coretax, dan prosedur yang dijalankan Direktorat Jenderal Pajak atau DJP.
Untuk efisiensi pekerja, Purbaya menyebut akan terus mengawasi kinerja setiap kantor pajak. Dia akan memberi sanksi bagi kantor pajak yang lamban dalam melayani pengaduan masyarakat.
“Kita akan bertindak cepat. Sekarang saya boleh merumahkan orang, saya akan merumahkan [pegawai pajak] kalau mereka kerja nggak dengan bagus,” ujar Purbaya, saat menyampaikan laporan semester I-2026 dan prognosis semester II-2026 di Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Purbaya menilai rata-rata pegawai pajak sudah bekerja dengan lebih baik saat ini. Hanya saya, peringatan untuk merumahkan mereka tetap diberlakukan.
“Cuma tetap saja kalau ada yang tidak efisien atau agak mbalelo ya kita beresin,” ucap dia.
