Diperkirakan Melambat, Pertumbuhan Kredit Kuartal III 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Laju penyaluran kredit baru perbankan diperkirakan melambat pada kuartal III 2026 setelah meningkat tajam pada kuartal sebelumnya. Perlambatan terjadi ketika pertumbuhan likuiditas dalam perekonomian mulai termoderasi, persaingan memperebutkan dana pihak ketiga semakin ketat, dan suku bunga tetap berada pada level tinggi.
Berdasarkan laporan BRI Weekly Economic Update W4 Juli 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, dan diterbitkan di Jakarta pada Senin (27/07/2026), saldo bersih tertimbang atau SBT penyaluran kredit baru diperkirakan turun menjadi 84,7% pada kuartal III 2026 dari 93,1% pada kuartal II 2026.
Meski turun 8,4 poin persentase secara kuartalan, tingkat penyaluran kredit baru tersebut masih tergolong tinggi, bahkan sedikit melampaui periode yang sama tahun sebelumnya. Karena itu, perlambatan tersebut belum mengindikasikan kontraksi kredit, melainkan lebih mencerminkan normalisasi setelah lonjakan penyaluran pada kuartal kedua.
“Penurunan tersebut relatif sejalan dengan pola musiman historis setelah penguatan pada kuartal kedua. Moderasi kuartal III lebih mencerminkan normalisasi waktu penyaluran daripada pembalikan tajam appetite kredit perbankan,” tulis tim ekonom BRI dalam laporan tersebut.
Namun, kehati-hatian bank terlihat dari terus diturunkannya perkiraan pertumbuhan kredit sepanjang 2026. Responden Survei Perbankan Bank Indonesia kini memperkirakan kredit tahun ini hanya tumbuh 7,51%, lebih rendah dibandingkan perkiraan 8,06% pada kuartal sebelumnya serta realisasi pertumbuhan kredit 2025 sebesar 9,69%.
Perbedaan antara penyaluran kredit jangka pendek yang masih kuat dan proyeksi pertumbuhan tahunan yang melemah menunjukkan bank semakin selektif dalam memilih sektor, debitur, dan tujuan pembiayaan. Perbankan berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit, kecukupan likuiditas, biaya dana, serta kualitas aset.
Kredit Baru Kuartal II Melonjak
Pada kuartal II 2026, penyaluran kredit baru melonjak menjadi 93,1% SBT dari hanya 38,7% SBT pada kuartal I 2026. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan posisi kuartal II 2025 sebesar 85,2% SBT.
Penguatan terjadi pada seluruh jenis penggunaan kredit. Kredit modal kerja mencatat SBT tertinggi sebesar 94,3%, meningkat dari 83,7% pada periode yang sama tahun lalu. Kredit investasi menyusul dengan SBT 93,5%, naik signifikan dari 77,5%, sedangkan kredit konsumsi meningkat menjadi 88,3% dari 57,8%.
Kenaikan kredit investasi yang lebih besar dibandingkan kredit modal kerja mengindikasikan pembiayaan mulai bergerak dari sekadar memenuhi kebutuhan operasional menuju penambahan kapasitas produksi dan ekspansi usaha. Kredit konsumsi mencatat kenaikan tahunan paling besar. Namun, tingkat SBT-nya masih lebih rendah dibandingkan kredit produktif. Perkembangan tersebut menunjukkan permintaan pembiayaan rumah tangga mulai pulih dari basis yang rendah, sekaligus membuka ruang pertumbuhan kredit ritel dengan tetap memperhatikan kemampuan membayar debitur.
Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit baru meningkat pada delapan dari 13 sektor yang disurvei. Konstruksi mencatat penguatan terbesar dengan SBT 83,0%, diikuti transportasi dan informasi-komunikasi sebesar 73,4%, real estate 70,1%, pendidikan 66,4%, serta administrasi pemerintahan 73,8%.
Peningkatan juga terjadi pada sektor akomodasi, makanan, dan minuman sebesar 52,6%, kesehatan 49,8%, serta utilitas 54,5%. Pola ini memperlihatkan permintaan pembiayaan yang relatif kuat pada sektor infrastruktur, konektivitas, layanan publik, properti, dan jasa.
Sebaliknya, momentum kredit baru melemah pada sektor manufaktur, perdagangan, keuangan, pertambangan, dan pertanian. SBT kredit baru manufaktur turun menjadi 45,6%, perdagangan 44,6%, keuangan 37,9%, pertambangan 24,1%, dan pertanian 31,9%.
Kendati melambat, seluruh indeks sektoral masih berada di zona positif. Artinya, penyaluran kredit tetap mengalami ekspansi, tetapi berlangsung semakin selektif dan belum merata pada seluruh lapangan usaha.
Standar Kredit UMKM Masih Ketat
Di tengah perkiraan perlambatan penyaluran, standar pemberian kredit secara keseluruhan justru diproyeksikan lebih longgar pada kuartal III 2026. Lending Standard Index atau LSI kredit total diperkirakan turun dari positif 0,08 pada kuartal II menjadi negatif 0,05 pada kuartal III.
Dalam indikator ini, LSI negatif menunjukkan standar pemberian kredit cenderung lebih longgar. Pelonggaran diperkirakan terjadi pada kredit investasi, kredit modal kerja, kredit pemilikan rumah dan apartemen, serta kredit konsumsi lainnya.
LSI kredit investasi diperkirakan turun dari 0,11 menjadi minus 0,06, sedangkan kredit modal kerja berubah dari 1,92 menjadi minus 2,25. LSI KPR dan KPA turun dari 1,03 menjadi minus 2,22, sementara kredit konsumsi lainnya berubah dari 0,87 menjadi minus 2,15.
Namun, pelonggaran belum berlangsung merata. Standar kredit UMKM masih cenderung lebih ketat. Kondisi tersebut menunjukkan bank tetap berhati-hati menghadapi risiko debitur UMKM, sehingga persetujuan kredit akan semakin mempertimbangkan kualitas arus kas, jaminan, rekam jejak pembayaran, dan prospek usaha.
Perebutan Dana Kian Ketat
Dari sisi pendanaan, penghimpunan dana pihak ketiga atau DPK diperkirakan tetap ekspansif, tetapi momentumnya melambat pada kuartal III 2026. SBT penghimpunan DPK diproyeksikan turun tipis dari 87,8% pada kuartal II menjadi 87,5%.
Perlambatan terutama berasal dari deposito. SBT deposito diperkirakan turun menjadi 41,0% pada kuartal III dari 44,2% pada kuartal sebelumnya. Penurunannya jauh lebih tajam apabila dibandingkan dengan posisi kuartal III 2025 yang mencapai 72,7%.
Sementara itu, penghimpunan giro diperkirakan turun dari 76,4% menjadi 71,6%. Sebaliknya, tabungan diproyeksikan meningkat dari 80,4% menjadi 82,5%, sehingga struktur pendanaan perbankan berpotensi semakin bertumpu pada dana murah.
Meski penguatan tabungan dapat membantu menahan biaya dana, persaingan memperoleh dana masyarakat diperkirakan tetap ketat. Tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dan Surat Berharga Negara membuat deposan memiliki alternatif investasi yang menawarkan imbal hasil relatif menarik.
Pada akhir pekan keempat Juli 2026, imbal hasil SRBI tenor enam bulan tercatat sekitar 7,20%, tenor sembilan bulan 7,42%, dan tenor 12 bulan 7,64%. Tingkat imbal hasil tersebut berada di atas BI-Rate dan meningkatkan kompetisi antara bank, instrumen moneter BI, serta obligasi pemerintah dalam memperebutkan likuiditas.
Kondisi itu berpotensi mempertahankan biaya dana atau cost of fund perbankan pada level tinggi. Bank perlu memperkuat penghimpunan dana murah atau current account saving account melalui pengembangan ekosistem transaksi, payroll, layanan digital, dan peningkatan retensi nasabah.
Penentuan bunga deposito juga harus dilakukan secara selektif. Langkah agresif menaikkan bunga simpanan memang dapat memperkuat likuiditas, tetapi berisiko menekan margin bunga bersih atau net interest margin apabila tidak diimbangi penyesuaian suku bunga kredit dan peningkatan efisiensi.
NPL Masih Terkendali
Di tengah ekspansi kredit, kualitas aset perbankan masih relatif terjaga. Berdasarkan data terakhir yang dirangkum Office of Chief Economist Group BRI, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan secara bruto berada di sekitar 2,17% pada Mei 2026.
Posisi tersebut menunjukkan risiko kredit masih terkendali. Namun, penurunan proyeksi pertumbuhan kredit dan kehati-hatian bank terhadap sejumlah sektor mengindikasikan perbankan tetap mencermati potensi kenaikan risiko debitur di tengah biaya pendanaan yang mahal, perlambatan aktivitas manufaktur, pelemahan perdagangan, dan tekanan daya beli.
Bank diperkirakan lebih mengutamakan sektor serta debitur yang mempunyai arus kas kuat, prospek usaha resilien, dan kemampuan membayar yang jelas. Strategi ini penting agar pelonggaran standar kredit tidak diikuti penurunan kualitas underwriting.
Risiko kredit juga perlu dicermati pada segmen UMKM, manufaktur, perdagangan, pertambangan, serta sektor-sektor yang terdampak pelemahan ekspor, penurunan permintaan domestik, dan volatilitas harga komoditas.
Pertumbuhan M0 hingga M2 Melambat
Ketatnya persaingan dana terjadi ketika pertumbuhan uang beredar dalam perekonomian mulai melambat. Uang primer atau M0 adjusted tumbuh 13,8% secara tahunan pada Juni 2026, sedikit melambat dari 14,2% pada Mei.
M0 adjusted menggambarkan kondisi likuiditas dasar setelah pengaruh insentif likuiditas Bank Indonesia dinetralkan. Perlambatan tersebut menunjukkan likuiditas domestik masih terjaga, tetapi laju pertumbuhannya mulai termoderasi.
Pada saat yang sama, uang beredar dalam arti sempit atau M1 tumbuh 9,8% secara tahunan, melambat tajam dibandingkan pertumbuhan 15,3% pada Mei. Nilai M1 juga turun dari Rp6.025,0 triliun menjadi Rp5.937,5 triliun.
Perlambatan M1 terutama disebabkan normalisasi pertumbuhan giro rupiah menjadi 10,4% dari 23,9%. Giro rupiah turun secara nominal dari Rp2.232,4 triliun menjadi Rp2.114,3 triliun.
Uang kartal di luar bank umum dan BPR tumbuh 15,9%, sedikit lebih rendah daripada 16,6% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu tumbuh 6,8%, melambat dari 8,3%.
Perlambatan M1 mengindikasikan aktivitas transaksi masyarakat dan dunia usaha relatif termoderasi. Kondisi ini sejalan dengan melemahnya sejumlah indikator konsumsi, perdagangan, dan manufaktur.
Berbeda dengan M1, uang kuasi tumbuh lebih tinggi, dari 6,0% pada Mei menjadi 6,9% pada Juni. Nilainya meningkat dari Rp4.319,3 triliun menjadi Rp4.409,3 triliun.
Pertumbuhan uang kuasi ditopang oleh simpanan berjangka rupiah dan valuta asing yang meningkat 6,0%, dibandingkan hanya 3,3% pada Mei. Nilai simpanan berjangka naik dari Rp3.129,7 triliun menjadi Rp3.243,1 triliun.
Perkembangan tersebut memperlihatkan pergeseran preferensi masyarakat dari dana transaksi menuju instrumen simpanan yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. Di sisi lain, pertumbuhan giro valuta asing melambat menjadi 6,0% dari 10,5%, sedangkan tabungan lainnya melambat menjadi 18,9% dari 22,2%.
Secara keseluruhan, uang beredar dalam arti luas atau M2 tumbuh 8,7% secara tahunan pada Juni 2026, melambat dari 10,8% pada Mei. Nilai M2 hanya meningkat tipis dari Rp10.415,9 triliun menjadi Rp10.432,8 triliun.
Perlambatan M2 terutama dipengaruhi kontraksi aktiva luar negeri bersih sebesar 3,2% secara tahunan, berbalik dari pertumbuhan 5,2% pada Mei. Aktiva luar negeri bersih turun dari Rp2.056,3 triliun menjadi Rp1.901,5 triliun.
Aktiva dalam negeri bersih masih tumbuh dua digit sebesar 11,8%, meskipun sedikit melambat dari 12,2%. Sementara itu, pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat melambat tajam dari 37,4% menjadi 10,1%.
Perkembangan tersebut mengindikasikan dorongan likuiditas dari ekspansi fiskal mulai tertahan. Bagi perbankan, moderasi M0, M1, dan M2 menjadi sinyal bahwa ekspansi kredit harus disertai pengelolaan aset dan liabilitas yang semakin disiplin.
BI-Rate Bertahan 5,75%
Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur 22 Juli 2026 mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Keputusan tersebut berada di luar konsensus pasar yang sebelumnya memperkirakan kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00%.
BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga, nilai tukar rupiah, dan ekspektasi inflasi di tengah ketidakpastian global yang tetap tinggi.
Inflasi Indonesia pada Juni 2026 tercatat 3,34% secara tahunan, naik dari 3,08% pada Mei dan lebih tinggi daripada konsensus sebesar 3,20%. Meski meningkat, inflasi masih berada dalam rentang sasaran BI sebesar 2,5% plus-minus 1%.
Bank Indonesia tetap mempertahankan dukungan terhadap pertumbuhan melalui kebijakan makroprudensial pro-growth. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9% hingga 5,7%, sedangkan pertumbuhan kredit diproyeksikan 8% hingga 12%.
BI juga melanjutkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial. Nilai insentif KLM yang telah diterima bank hingga pekan pertama Juli 2026 mencapai Rp431,9 triliun.
Mulai September 2026, BI akan menerapkan skema baru KLM untuk pendalaman pasar uang. Bank dapat memperoleh insentif maksimal 2% dari DPK apabila menjaga rasio kepemilikan surat berharga pada tingkat optimal yang ditetapkan BI.
Namun, operasi moneter BI masih berada dalam posisi menyerap likuiditas atau net absorption, dengan posisi balance operasi moneter sekitar minus Rp1.671 triliun. Kebijakan tersebut mencerminkan upaya menjaga stabilitas rupiah tanpa mengabaikan kecukupan likuiditas sistem keuangan.
Belum Sepenuhnya Kuat
Sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan pemulihan yang belum merata. PMI Manufaktur S&P Global Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei. Posisi di bawah angka 50 menunjukkan aktivitas manufaktur mengalami kontraksi. Pelemahan tersebut konsisten dengan melambatnya penyaluran kredit baru ke sektor manufaktur dan masih tertahannya permintaan produksi.
Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia pada kuartal II 2026 juga turun menjadi 51,43% dari 52,03%. Meski masih berada dalam zona ekspansi, penurunannya menunjukkan momentum aktivitas manufaktur melemah.
Di sisi lain, Saldo Bersih Tertimbang kegiatan dunia usaha meningkat menjadi 12,97% pada kuartal II dari 10,11% pada kuartal sebelumnya. Hal itu memperlihatkan aktivitas usaha secara keseluruhan masih tumbuh, kendati tidak merata antar sektor.
Indeks Keyakinan Konsumen turun menjadi 117,8 pada Juni dari 120,9 pada Mei. Meskipun masih berada di atas 100 atau zona optimistis, penurunan tersebut menandakan keyakinan rumah tangga terhadap kondisi ekonomi mulai melemah.
Penjualan ritel pada Mei 2026 terkontraksi 3,9% secara tahunan, lebih dalam dibandingkan kontraksi 3,7% pada April. Neraca perdagangan Mei juga mencatat defisit US$1,61 miliar, berbalik dari surplus US$89,1 juta pada bulan sebelumnya.
Inflasi yang meningkat, pelemahan penjualan ritel, dan kontraksi manufaktur menjadi alasan bank semakin berhati-hati dalam menetapkan target kredit. Di sisi lain, cadangan devisa masih meningkat menjadi US$145,6 miliar pada Juni dari US$144,9 miliar, memberikan bantalan terhadap volatilitas eksternal.
Tekanan Global dan Harga Minyak
Prospek kredit domestik juga dibayangi kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Konflik Amerika Serikat dan Iran serta gangguan pelayaran di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb meningkatkan risiko terhadap pasokan energi dunia.
Harga minyak Brent melonjak 9,9% dalam sepekan menjadi US$96,78 per barel pada 24 Juli 2026. Brent sempat menembus US$100,69 per barel sehari sebelumnya, untuk pertama kalinya sejak 22 Mei 2026.
Trafik tanker di Selat Hormuz kembali mendekati nol, sedangkan trafik di Bab el-Mandeb turun dari sekitar 14 menjadi 10 kapal per hari. Gangguan tersebut meningkatkan risiko pada jalur strategis yang menyalurkan sekitar 7% minyak dunia.
Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan inflasi global, menahan penurunan suku bunga, dan mempertahankan biaya pendanaan pada level tinggi. Bagi perbankan, kondisi ini dapat meningkatkan cost of fund, risiko pasar, serta risiko penurunan nilai portofolio obligasi.
The Fed Tetap Hawkish
Sikap kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat masih cenderung hawkish. Sebanyak 15 dari 18 anggota Federal Reserve berada dalam kategori netral-hawkish pada pekan keempat Juli 2026.
Pasar memperkirakan The Fed mempertahankan Fed Funds Rate di level 3,75% pada pertemuan Juli 2026. Namun, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,00% pada September meningkat menjadi 57,3%.
Fed Fund Futures juga memperkirakan suku bunga AS bertahan di sekitar 4,00% hingga akhir 2027. Skenario higher for longer tersebut dapat menjaga imbal hasil obligasi global tetap tinggi, memperketat likuiditas internasional, dan menahan aliran modal ke negara berkembang.
Prospek ekonomi AS sendiri menunjukkan sinyal campuran. Leading Economic Index turun 0,2% secara bulanan pada Juni, sedangkan secara kuartalan berada di level 99,2, sedikit lebih rendah dari 99,3 pada kuartal sebelumnya.
Namun, kontraksi LEI secara tahunan membaik menjadi minus 1,5% dari minus 3,2%. PMI Manufaktur AS pada Juli masih ekspansif sebesar 53,8, PMI Jasa meningkat menjadi 53,6, dan PMI Komposit mencapai 53,6.
Klaim awal pengangguran turun menjadi 187.000, menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II 2026 diperkirakan mencapai 2,3% secara annualized, lebih tinggi dibandingkan 2,1% pada kuartal sebelumnya.
China Masih Lemah
Perekonomian China memasuki kuartal III 2026 dalam kondisi lemah. Permintaan domestik dan aktivitas produksi masih tertekan, sementara ketahanan ekspor belum cukup kuat mengimbangi perlambatan ekonomi.
Penjualan rumah baru di 50 kota turun sekitar 15% secara tahunan per 10 Juli 2026. Penjualan peralatan rumah tangga turun sekitar 20%, sedangkan penjualan mobil melemah sekitar 18%.
Persediaan baja meningkat 45% secara tahunan, mencerminkan rendahnya penyerapan dari sektor konstruksi. Tingkat operasional kilang minyak juga masih sekitar 12 poin di bawah level 2024.
PMI Manufaktur China pada Juli diperkirakan turun menjadi 50,1 dari 50,3. PMI Non-Manufaktur diproyeksikan melemah menjadi 50,0 dari 50,2, menunjukkan momentum industri dan jasa semakin terbatas.
Bank Sentral China mempertahankan Loan Prime Rate satu tahun di level 3,00% dan LPR lima tahun sebesar 3,50% pada Juli. Namun, lemahnya permintaan domestik meningkatkan kebutuhan stimulus lanjutan dan membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter ke depan.
Tarif AS Menambah Risiko
Risiko perdagangan global juga meningkat setelah Amerika Serikat menerapkan tarif Section 301 sebesar 10% hingga 12,5% terhadap 60 mitra dagang mulai 24 Juli 2026. Kebijakan tersebut menggantikan tarif sementara Section 122 yang telah berakhir.
Indonesia termasuk dalam kelompok 17 negara yang dikenai tarif 10%. Kebijakan itu meningkatkan rata-rata tarif efektif AS dari 10,13% menjadi sekitar 10,58%.
Tekanan tarif masih dapat meningkat karena AS melanjutkan investigasi Section 301 terhadap 16 negara, termasuk Indonesia, China, Uni Eropa, India, dan Vietnam. Hasil investigasi berpotensi memunculkan tarif tambahan yang lebih spesifik.
Bagi Indonesia, tarif tersebut dapat menekan kinerja ekspor ke pasar AS, memperlemah aktivitas manufaktur berorientasi ekspor, dan meningkatkan kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit ke sektor yang memiliki eksposur perdagangan internasional besar.
Keyakinan Konsumen Global Membaik
Di tengah berbagai tekanan tersebut, Indeks Keyakinan Konsumen global meningkat menjadi 49,0 pada Juli 2026 dari 47,9 pada Juni. Penguatan berlangsung selama tiga bulan berturut-turut dan terjadi pada seluruh komponen.
Indeks kondisi ekonomi saat ini meningkat 1,5 poin, persepsi investasi naik 1,4 poin, ekspektasi masa depan naik 0,7 poin, dan persepsi pasar tenaga kerja meningkat 0,7 poin.
Sebanyak 14 dari 30 negara memiliki tingkat keyakinan konsumen yang tinggi dan meningkat, sedangkan sepuluh negara berada dalam kelompok tingkat keyakinan rendah tetapi membaik. Perkembangan itu menunjukkan pemulihan sentimen konsumen global semakin meluas.
Namun, perbaikan keyakinan konsumen belum sepenuhnya menghapus risiko yang berasal dari konflik geopolitik, harga minyak, suku bunga global, tarif perdagangan, dan perlambatan ekonomi China.
Ekspansi Kredit Harus Lebih Selektif
Office of Chief Economist Group BRI menilai perbankan perlu memperkuat pengelolaan risiko pasar dan memastikan likuiditas tetap memadai di tengah volatilitas pasar keuangan global.
Cost of fund diperkirakan tetap tinggi karena kebijakan moneter global dan domestik masih ketat. Perbankan harus mengoptimalkan CASA dan meningkatkan efisiensi struktur pendanaan agar ekspansi kredit tidak terlalu menekan margin bunga bersih.
Moderasi uang beredar dan meningkatnya preferensi terhadap instrumen berimbal hasil tinggi juga menunjukkan persaingan memperoleh dana akan berlanjut. Karena itu, pengelolaan aset dan liabilitas harus diperkuat untuk menjaga ketahanan likuiditas.
Bank masih memiliki ruang meningkatkan kredit produktif, terutama kepada sektor yang memiliki prospek pertumbuhan, arus kas kuat, serta sumber pembayaran yang jelas. Namun, ekspansi tidak dapat lagi hanya berorientasi pada volume.
Di tengah likuiditas yang tumbuh lebih lambat, perebutan dana yang semakin ketat, dan risiko global yang tetap tinggi, tantangan utama perbankan bukan sekadar menyalurkan kredit lebih besar, melainkan memastikan setiap rupiah kredit benar-benar menggerakkan kegiatan produktif tanpa mengorbankan kualitas aset dan ketahanan likuiditas.
