Melambat, Pertumbuhan Kredit Kuartal I 2026 Meski Masih dalam Zona Ekspansif
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Pertumbuhan penyaluran kredit baru perbankan pada kuartal I-2026 melambat tajam, meski masih berada dalam zona ekspansi. Perlambatan terutama terlihat pada kredit modal kerja (KMK) dan kredit investasi (KI). Nilai SBT KMK turun 52,2 poin dari kuartal IV-2025, sedangkan SBT KI turun 50,0 poin. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan untuk aktivitas operasional dan ekspansi usaha masih tertahan pada awal tahun.
Berdasarkan BRI Weekly Economic Update W5 April 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, Jakarta, Selasa (05/05/2026), perlambatan tersebut merujuk pada hasil Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru turun menjadi 38,7% pada kuartal I-2026, dari 88,9% pada kuartal IV-2025.
Penurunan sebesar 50,2 poin itu menandakan bahwa kredit baru masih tumbuh, tetapi kecepatannya jauh lebih lambat dibandingkan akhir tahun lalu. Secara historis, perlambatan kredit pada awal tahun lazim terjadi karena aktivitas usaha, kebutuhan modal kerja, dan ekspansi korporasi biasanya belum bergerak penuh. Namun, penurunan SBT kali ini dinilai cukup dalam dibandingkan pola tahun-tahun sebelumnya, sehingga mencerminkan meningkatnya kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kredit baru.
Baca Juga
Prabowo Perintahkan Bunga Kredit Bank Himbara Maksimal 5% per Tahun
SBT, atau saldo bersih tertimbang, adalah indikator yang menggambarkan arah dan kekuatan pertumbuhan suatu aktivitas berdasarkan hasil survei. Dalam konteks perbankan, angka ini dihitung dari selisih antara responden yang menyatakan penyaluran kredit meningkat dan menurun, dengan pembobotan tertentu. Karena itu, SBT positif tetap menunjukkan adanya pertumbuhan kredit, tetapi penurunan dari 88,9% ke 38,7% mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan kredit baru melemah secara signifikan.
KMK dan KI Melambat
Perlambatan terutama terlihat pada KMK dan KI. Nilai SBT KMK turun 52,2 poin dari kuartal IV-2025, sedangkan SBT KI turun 50,0 poin. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan untuk aktivitas operasional dan ekspansi usaha masih tertahan pada awal tahun.
Perlambatan KMK mengindikasikan permintaan pembiayaan untuk kegiatan produksi, distribusi, dan persediaan barang belum kembali kuat. Sementara itu, pelemahan kredit investasi menunjukkan pelaku usaha masih berhati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi jangka panjang di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan.
Sebaliknya, kredit konsumsi menunjukkan peningkatan dibandingkan kuartal sebelumnya. Nilai SBT kredit konsumsi naik 38,6 poin dari kuartal IV-2025. Meski demikian, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kredit konsumsi tetap menunjukkan perlambatan. Hal ini memperlihatkan bahwa intermediasi perbankan untuk menopang konsumsi rumah tangga masih berjalan, tetapi dengan pola yang lebih selektif.
Kredit Konsumsi
Akselerasi kredit konsumsi terutama ditopang oleh segmen pembiayaan yang lebih fleksibel, seperti kredit multiguna dan kredit tanpa agunan (KTA). Nilai SBT kredit multiguna meningkat 30,5 poin, sedangkan KTA naik 10,1 poin.
Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi rumah tangga ke instrumen pembiayaan yang lebih fleksibel di tengah situasi ekonomi yang masih penuh ketidakpastian. Rumah tangga tampaknya lebih memilih kredit yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan dibandingkan pembiayaan dengan tujuan yang sangat spesifik dan berkomitmen jangka panjang.
Kredit kendaraan bermotor juga menunjukkan perbaikan, dengan kenaikan SBT sebesar 15,5 poin. Peningkatan ini mencerminkan permintaan barang tahan lama yang masih terjaga, terutama karena adanya momentum Ramadan dan Idul Fitri 1447 H yang biasanya mendorong kebutuhan mobilitas dan konsumsi rumah tangga.
Namun, tidak semua segmen konsumsi bergerak positif. Penyaluran kartu kredit justru melambat, dengan penurunan SBT sebesar 23,8 poin. Penurunan ini mengindikasikan sikap rumah tangga yang lebih selektif dalam berbelanja. Kredit perumahan juga masih menunjukkan perlambatan, menandakan bahwa pembiayaan dengan komitmen jangka panjang belum sepenuhnya diminati di tengah ketidakpastian ekonomi.
Baca Juga
BRI (BBRI) Belum Revisi Target Bisnis 2026, Optimistis Kredit Tumbuh hingga 9%
Sektor Jasa Melambat
Secara sektoral, penyaluran kredit baru terakselerasi secara selektif pada sejumlah sektor utama. Peningkatan terbesar terjadi pada sektor real estate dan jasa perusahaan, dengan kenaikan SBT sebesar 73,3 poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan kredit di sektor real estate mengindikasikan peningkatan aktivitas pengembang atau developer. Hal ini sejalan dengan agenda prioritas pemerintah dalam mendorong pembangunan perumahan. Perbankan juga terlihat mulai memberikan ruang pembiayaan yang lebih longgar untuk sektor properti, terutama melalui KPR/KPA.
Sebaliknya, sejumlah sektor lain, terutama bidang jasa, mengalami perlambatan. Penurunan terdalam terjadi pada sektor listrik, gas, dan air, dengan penurunan nilai SBT sebesar 40,6 poin. Perlambatan kredit pada sektor ini berpotensi dipengaruhi oleh karakter pembiayaan yang berbasis proyek dan tidak berulang, sehingga realisasi kredit cenderung fluktuatif antarperiode.
Perkembangan sektoral ini menegaskan pentingnya strategi pembiayaan yang lebih terarah dan terukur. Di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi dan pemulihan domestik yang belum merata, alokasi kredit perlu diarahkan ke sektor-sektor yang resilien, produktif, dan memiliki prospek pertumbuhan berkelanjutan.
Kredit UMKM Ikut Melambat
Perlambatan kredit baru juga terjadi secara luas berdasarkan golongan debitur. Nilai SBT penyaluran kredit baru menurun pada seluruh kelompok, baik UMKM maupun non-UMKM.
Penurunan paling menonjol terjadi pada kredit UMKM. SBT kredit UMKM KUR turun 32,1 poin, sedangkan UMKM non-KUR turun 29,1 poin dibandingkan kuartal IV-2025. Sementara itu, kredit non-UMKM juga melambat, dengan penurunan SBT sebesar 9,3 poin menjadi 44,5%.
Perlambatan kredit UMKM, terutama pada skema KUR, perlu menjadi perhatian karena UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Kondisi ini dapat mencerminkan dua hal sekaligus: melemahnya permintaan pembiayaan dari pelaku UMKM, atau meningkatnya selektivitas perbankan dalam menyalurkan kredit ke segmen tersebut.
Dari sisi orientasi penggunaan, perlambatan paling signifikan terjadi pada kredit impor. Nilai SBT kredit impor turun 39,2 poin ke level 40,4%. Perlambatan ini mencerminkan penyesuaian permintaan pembiayaan impor pada awal tahun, seiring dinamika permintaan domestik yang masih terbatas.
Baca Juga
OJK Sebut Transmisi Suku Bunga Butuh Waktu, Fokus Bangun Ekosistem Kredit yang Sehat
Sebaliknya, kredit ekspor meningkat moderat. Nilai SBT kredit ekspor naik 8,6 poin ke angka 38,7%, mengindikasikan bahwa perbankan masih mendukung aktivitas ekspor di tengah risiko global yang tetap tinggi.
Standar Kredit Mengetat
Selain perlambatan penyaluran, survei BI juga menunjukkan standar penyaluran kredit perbankan mengetat pada kuartal I-2026. Hal ini tercermin dari kenaikan Lending Standard Index (LSI) ke zona pengetatan, atau LSI di atas nol, setelah sebelumnya berada di zona pelonggaran pada kuartal IV-2025 dan periode yang sama tahun lalu.
LSI yang berada di zona pengetatan pada hampir seluruh segmen pembiayaan menunjukkan bahwa perbankan semakin berhati-hati dalam menjaga kualitas portofolio kredit. Menurut survei BI, kehati-hatian tersebut tercermin dari pengetatan sejumlah aspek kebijakan kredit, antara lain jangka waktu kredit dan persyaratan administrasi.
Meski demikian, kredit properti, khususnya KPR/KPA, menunjukkan pergeseran ke zona longgar. Hal ini mencerminkan peran perbankan dalam mendukung pembiayaan sektor properti, sejalan dengan program strategis nasional terkait pengembangan perumahan.
Rupiah Tertekan
Perlambatan kredit terjadi ketika kondisi pasar finansial domestik juga menghadapi tekanan eksternal yang cukup kuat. Dalam laporan yang sama, BRI mencatat bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait konflik AS-Iran dan disrupsi jalur energi di Selat Hormuz, ikut meningkatkan volatilitas pasar global dan menekan aset keuangan negara berkembang.
Di pasar valuta asing, rupiah melemah 0,85% secara mingguan ke level Rp17.353 per dolar AS pada pekan kelima April 2026. Pelemahan ini terjadi meskipun indeks dolar AS atau DXY turun 0,38% secara mingguan ke level 98,16. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen risk-off terhadap aset emerging markets, bukan semata-mata penguatan dolar AS.
Tekanan juga terlihat di pasar saham. IHSG melemah 2,42% secara mingguan ke level 6.957 pada pekan kelima April 2026. Mayoritas sektor mengalami koreksi, kecuali sektor keuangan. Investor asing mencatatkan peningkatan net portfolio outflow di pasar saham Indonesia menjadi US$0,41 miliar, dari US$0,17 miliar pada pekan sebelumnya. Sejak awal tahun 2026, IHSG tercatat melemah 19,55%.
Di pasar surat utang, yield Surat Berharga Negara (SBN) meningkat pada seluruh tenor, dengan kenaikan signifikan pada tenor satu tahun. Kenaikan yield jangka pendek tersebut mengindikasikan meningkatnya tekanan likuiditas dan premi risiko. Sementara itu, aliran dana asing ke pasar obligasi masih terbatas, mencerminkan sikap investor global yang tetap selektif terhadap aset domestik.
Baca Juga
BI: Kredit Perbankan Tumbuh 9,49%, Undisbursed Loan Masih Besar di Angka Rp 2.527,46 Triliun
Bank Indonesia terus melanjutkan operasi moneter untuk menjaga stabilitas rupiah. Salah satunya melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kenaikan yield SRBI pada seluruh tenor mampu menarik dana asing masuk, dengan net inflow investor asing ke SRBI mencapai Rp12,51 triliun pada pekan kelima April 2026, berbalik dari net outflow Rp4,15 triliun pada pekan sebelumnya. Namun, tekanan eksternal yang masih tinggi membuat ruang penguatan rupiah tetap terbatas.
Risiko Eksternal
BRI juga mencatat bahwa harga minyak Brent naik 2,8% secara mingguan ke level US$108,2 per barel pada pekan kelima April 2026. Kenaikan harga minyak dipicu oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang tetap tinggi setelah kegagalan negosiasi perdamaian AS-Iran.
Kenaikan harga energi global berpotensi menambah tekanan inflasi dan mempersempit ruang pelonggaran moneter. Di tingkat global, The Fed masih mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,75% setelah rapat FOMC 28–29 April 2026. Pasar juga memperkirakan suku bunga AS akan tetap tinggi sepanjang 2026, sehingga likuiditas global masih ketat dan arus modal ke emerging markets berpotensi tertahan.
Bagi perbankan nasional, kombinasi perlambatan kredit, pengetatan standar pinjaman, pelemahan rupiah, kenaikan yield, dan volatilitas pasar global menjadi sinyal penting untuk memperkuat manajemen risiko. Bank perlu tetap menjaga intermediasi, tetapi dengan pendekatan yang lebih selektif, terutama pada sektor-sektor yang memiliki daya tahan tinggi dan prospek pertumbuhan yang jelas.
Dengan demikian, perlambatan kredit kuartal I-2026 bukan sekadar fenomena musiman awal tahun, melainkan juga cerminan meningkatnya kehati-hatian perbankan di tengah ketidakpastian ekonomi. Kredit masih tumbuh, tetapi arah pertumbuhannya semakin selektif. Di tengah tekanan eksternal dan pasar finansial yang bergejolak, tugas utama perbankan adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi, kualitas aset, dan stabilitas sistem keuangan.

