GREAT Institute Sebut Langkah Prabowo Ini Runtuhkan Kendali Kapitalisme Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Aktivis senior Syahganda Nainggolan tidak ketinggalan menyorot dinamika yang belakangan terjadi di tubuh Bank Indonesia (BI). Ia meyakini dinamika itu tidak lepas dari langkah strategis Presiden Prabowo Subianto.
Syahganda mengaitkan tindakan Presiden dengan penegasan kembali hakikat negara sebagai satu-satunya representasi kedaulatan rakyat. Menurutnya, posisi Presiden Republik Indonesia harus berada di atas institusi apa pun di dalam negeri, termasuk Bank Sentral.
"Bapak Prabowo memastikan bahwa negara adalah satu-satunya representasi kedaulatan rakyat, dengan menunjukkan superioritas Presiden Republik Indonesia lebih tinggi daripada Gubernur Bank Sentral yang terjadi dua hari lalu," ujar Syahganda pada acara GREAT Seminar di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Intervensi negara terhadap Bank Sentral tersebut, kata dia, mengakhiri era pendiktean lembaga keuangan asing yang telah mencengkeram tatanan ekonomi nasional selama hampir tiga dekade.
Syahganda menegaskan pengembalian BI ke dalam kontrol dan kedaulatan negara secara otomatis melemahkan pengaruh kekuatan global dalam mengendalikan arus serta kebijakan uang di Indonesia.
Ia mengingatkan, sejak Indonesia menandatangani kesepakatan dengan International Monetary Fund (IMF) pada krisis moneter akhir 1990-an, negara dipaksa melepaskan kendalinya atas Bank Sentral demi memenuhi agenda globalisme dan pasar bebas.
"Hampir 30 tahun lalu, ketika IMF mendikte Indonesia untuk tunduk pada globalisme dan rezim pasar bebas, negara melepaskan kontrolnya atas Bank Sentral. Hampir selama itu juga asumsi, model, dan regulasi pembangunan harus kompatibel pada kepentingan IMF, World Bank, dan kapitalis-kapitalis global," papar Syahganda.
Ia menambahkan arah kebijakan ekonomi nasional diharapkan tidak lagi terseret oleh dikte dan regulasi yang melayani kepentingan lembaga donor atau kapitalis internasional.
Baca Juga
Disinggung Jadi Calon Gubernur BI, Purbaya: Saya Calon Abadi
Bukan Sekadar Sumitronomics, Melainkan Prabowonomics
Lebih jauh, Ketua Dewan Direktur GREAT Institute itu menyinggung berbagai analisis publik yang kerap menyederhanakan gagasan ekonomi Presiden Prabowo dengan konsep Sumitronomics—konsep ekonomi pasar sosial berorientasi sosialistik yang diusung oleh mendiang ayahandanya, Sumitro Djojohadikusumo.
Menurut Syahganda, pemikiran dan tindakan strategis yang ditunjukkan Presiden saat ini melampaui teori-teori ekonomi klasik tersebut.
"Banyak pengamat mencoba membedah pikiran Bapak Prabowo dalam kerangka Sumitronomics, yakni ayahnya sendiri, yang sosialistik mirip model ekonomi pasar sosial di Barat. Namun menurut saya, Prabowonomics adalah sebuah paradigma yang melintasi berbagai dimensi pemikiran yang mencakup ekonomi, politik, dan lainnya," terang Syahganda.
Perry Warjiyo sebelumnya secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI). Hal itu disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam keterangan pers di gedung BI, Senin (27/7/2026).
Prasetyo Hadi mengatakan surat pengunduran diri Perry, disampaikan ke Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Minggu (26/7/2026).
"Bahwa per kemarin, secara resmi kami menerima resmi surat pengunduran diri dari Gubernur Bank Indonesia ke Bapak Presiden," kata Prasetyo Hadi, Senin (27/7/2026).
