Mandiri Institute Sebut Green Economy Bisa Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ekonomi hijau (green economy) dinilai berpotensi menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru bagi ekonomi Indonesia. Tapi, peluang itu membutuhkan strategi pengembangan industri yang mampu meningkatkan skala produksi sekaligus mengejar ketertinggalan teknologi.
Head of Mandiri Institute Andre Simangunsong mengungkapkan, potensi green economy untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sebenarnya sudah terlihat.
Salah satu buktinya adalah kemampuan industri dalam negeri memproduksi panel surya atau solar photovoltaic (PV) yang memiliki pasar ekspor.
“Jawaban simpelnya bisa, tapi easier said than done. Kita gampang bilang bisa tapi ‘how’-nya itu agak menjadi pertanyaan besar,” ujar Andre, dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 bertajuk ‘Menjadikan Ekonomi Hijau sebagai Mesin Pertumbuhan Baru Menuju Indonesia Emas yang Inklusif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan’ yang digelar Investortrust, di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga
Green Economy Jadi Pedang Bermata 2, Mandiri Institute Soroti Risiko CBAM dan Peluang AI
Menurutnya, pengenaan tarif tambahan Amerika Serikat (AS) terhadap produk solar PV Indonesia menjadi salah satu bukti bahwa industri tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh.
“Sebenarnya case dari additional tarif dari US untuk solar PV Indonesia itu sudah sangat evidence pertama dan itu sangat kuat. Ternyata bisa ya kita memproduksi solar PV,” kata Andre.
Persoalannya, lanjut dia, bukan lagi sekadar kemampuan memproduksi solar PV, melainkan bagaimana industri tersebut dapat diperbesar sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun global.
Andre melihat kebutuhan solar PV ke depan akan semakin luas. Permintaan tidak hanya berasal dari pembangkit listrik berskala besar, tapi juga berpotensi berkembang hingga tingkat rumah tangga.
Baca Juga
Kejar Teknologi China
Untuk menjadikan solar PV sebagai bagian dari mesin pertumbuhan ekonomi, Indonesia perlu memiliki peta jalan yang yang jelas untuk mengejar kemampuan teknologi negara produsen utama, khususnya China.
Andre mengatakan, berdasarkan diskusinya dengan salah satu pemain pembangkit listrik, teknologi solar PV China saat ini masih memiliki keunggulan dari sisi efisiensi maupun harga.
“Indonesia memang bisa memproduksi. Tapi secara efisiensi, solar PV dari China itu sekarang ini paling bagus, the best in the world,” ucapnya.
Andre mencontohkan, tingkat konversi solar PV China tersebut telah mencapai sekitar 26%-27%, sementara Indonesia masih berada di bawah 20%. Di lain sisi, produk domestik juga dinilai masih menghadapi tantangan dari sisi harga.
Oleh karena itu, pengembangan industri solar PV nasional perlu diarahkan tak hanya untuk meningkatkan kapasitas produksi, tapi juga memperkuat teknologi agar produk dalam negeri mampu bersaing dari sisi efisiensi dan biaya.
“Jadi, bagaimana kita bisa men-scale up ini dari sisi harga lebih murah, teknologi juga tidak kalah dengan China,” ujar Andre.
Transisi Energi Berisiko Kerek Impor
Tantangan tersebut menjadi semakin penting seiring dengan rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas besar di Indonesia.
Andre mengingatkan, jangan sampai pembangunan energi surya dalam negeri justru menciptakan ketergantungan terhadap produk impor.
“Ini penting sekali jangan sampai nanti kita ngembangin ini, nanti solar PV-nya kita impor. Itu menekan neraca perdagangan,” kata
Menurut Andre, tingginya kebutuhan impor untuk mendukung transisi energi juga dapat memberikan tekanan terhadap neraca pembayaran atau balance of payment (BOP), khususnya ketika nilai tukar rupiah sedang menghadapi tekanan.
Di lain sisi, momentum untuk mempercepat transisi energi dinilai semakin terbuka seiring meningkatnya harga energi berbasis fosil.
Andre menyebut kondisi tersebut sebagai push factor yang dapat mendorong masyarakat dan pelaku usaha beralih ke energi yang lebih efisien dan terbarukan.
“Push factor-nya ini tepat sekali, harga minyak, harga BBM lagi tinggi. Jadi ini adalah momentum yang bagus sekali lagi untuk men-sounding,” ucapnya.
