AS Klaim Iran Kehilangan Kendali Hormuz, Ancaman Kapal Tanker Membayangi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Amerika Serikat (AS) mengklaim Iran telah kehilangan kendali atas Selat Hormuz seiring pulihnya pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Namun, Teheran menyatakan tetap menguasai jalur pelayaran strategis tersebut dan mengancam menutup rute yang dianggap ilegal. Perbedaan klaim itu muncul ketika ekspor minyak mulai meningkat, sementara serangan terhadap kapal tanker masih membayangi keamanan pasokan energi dunia.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan arus minyak telah mendekati tingkat sebelum konflik. Pernyataan tersebut disampaikan kepada wartawan dalam kunjungannya ke Athena, Yunani, Rabu (07/10/2026). “Selat Hormuz terbuka. Minyak yang mengalir keluar sekarang hampir sebanyak sebelum konflik ini dimulai. Jadi, mereka telah kehilangan sepenuhnya kendali atas selat tersebut,” kata Rubio, sebagaimana dilaporkan AFP dan dikutip Arab News.
Rubio juga mengklaim perekonomian Iran mengalami kemerosotan sangat tajam akibat sanksi yang melumpuhkan. Menurut dia, tekanan tersebut membawa ekonomi Iran mendekati kondisi yang sangat buruk. Pernyataan mengenai hilangnya kendali atas Hormuz dan kondisi ekonomi Iran itu merupakan penilaian pemerintah AS, bukan kesimpulan yang telah disepakati semua pihak.
Baca Juga
IEA Siap Lepas Cadangan Bahan Bakar Diesel, Harga Minyak Turun
Iran menyampaikan gambaran berbeda. Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi, penasihat panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran tetap menguasai Selat Hormuz. Ia menyebut pembatasan akan berlanjut sampai tuntutan yang dinilai sah oleh Teheran dipenuhi.
Naqdi juga mengancam menutup jalur pelayaran yang dianggap ilegal, merujuk pada rute di sisi selatan selat dekat pesisir Oman. Menurut klaimnya, sebagian jalur itu dibuat dengan merusak lintasan berbatu dan digunakan kapal kecil untuk mengangkut minyak sebelum memindahkan muatan ke kapal tanker. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Iran masih berupaya mempertahankan pengaruh terhadap lalu lintas energi di kawasan.
Data pengiriman memang menunjukkan pemulihan ekspor minyak, tetapi cakupannya perlu dibedakan dari arus yang secara khusus melewati Hormuz. Berdasarkan data sementara perusahaan pelacak kapal Kpler yang dikutip The National, rata-rata bergerak tujuh hari ekspor minyak mentah kawasan mencapai 18,3 juta barel per hari pada 30 September. Angka itu sedikit melampaui rata-rata sekitar 18 juta barel per hari selama 12 bulan sebelum perang.
Namun, perhitungan tersebut mencakup pengiriman melalui Selat Hormuz, Laut Merah, serta terminal dan kegiatan pemindahan muatan antarkapal di Teluk Oman. Karena itu, pulihnya ekspor minyak kawasan tidak otomatis berarti seluruh lalu lintas Hormuz telah kembali normal atau bebas dari ancaman.
Baca Juga
Dalam analisisnya pada 1 Oktober, Kpler menjelaskan bahwa pemulihan pengiriman mulai berlangsung melalui penyesuaian operasional, termasuk pengawalan kapal, pemindahan muatan antarkapal, dan penggunaan rute alternatif. Perusahaan tersebut mengubah perkiraan dasarnya dari pembukaan kembali yang bergantung pada kesepakatan politik menjadi normalisasi bertahap yang tetap berlangsung di tengah konflik.
Kpler menilai pemulihan semacam itu cenderung tidak merata dan tetap mahal. Pasokan fisik minyak dapat meningkat, tetapi ancaman keamanan menjaga biaya pengangkutan dan risiko pelayaran pada tingkat tinggi. Pembeli bisa kembali memperoleh minyak Timur Tengah tanpa serta-merta menikmati biaya pengiriman seperti sebelum perang.
Kondisi produk olahan minyak juga belum pulih secepat minyak mentah. Menurut analisis Kpler tersebut, arus produk olahan dari kawasan Teluk dan jalur pengalihannya masih sekitar 50% di bawah tingkat sebelum perang. Perbedaan ini penting karena pemulihan ekspor minyak mentah belum tentu langsung mengatasi tekanan pasokan bahan bakar.
Ancaman terhadap pelayaran bahkan meningkat ketika produsen Teluk memperbesar ekspor. Reuters melaporkan, berdasarkan tiga sumber keamanan maritim, sedikitnya 12 serangan terhadap tanker minyak, LNG, dan LPG terjadi di sekitar Hormuz pada periode 28 September–5 Oktober. Sementara itu, Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sembilan insiden pada periode yang sama. Perbedaan jumlah berkaitan dengan proses verifikasi pencatatan.
Baca Juga
Situasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan kapal untuk melintas dan tingkat keamanan pelayaran merupakan dua ukuran berbeda. Bertambahnya pengiriman dapat menolong pasokan global, tetapi selama ancaman berlanjut, pemilik kapal, perusahaan asuransi, dan pembeli energi masih harus memperhitungkan risiko tambahan.
Selat Hormuz mempunyai peran besar karena menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan jalur laut menuju pasar internasional. Sebagai gambaran sebelum konflik saat ini, Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut pada 2024, setara sekitar seperlima konsumsi cairan petroleum dunia. China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi tujuan utama minyak mentah dan kondensat yang melintasinya.
Untuk mengurangi ketergantungan pada selat tersebut, produsen Timur Tengah memperkuat jalur ekspor alternatif. The National melaporkan Uni Emirat Arab mempercepat pembangunan West-East Pipeline untuk meningkatkan kapasitas pengiriman melalui Fujairah, yang berada di luar Selat Hormuz. Ekspansi itu ditargetkan selesai pada 2027. Arab Saudi juga mengalihkan sebagian minyaknya melalui East-West Pipeline menuju pesisir Laut Merah.
Pemulihan turut berlangsung pada fasilitas pengolahan. Managing Director Vitol di Bahrain, Tom Baker, mengatakan dalam forum industri di Fujairah pada Rabu bahwa kapasitas kilang Timur Tengah yang terganggu oleh konflik sedang pulih dengan cepat. Meski demikian, pemulihan kilang tetap membutuhkan dukungan pasokan bahan baku dan jalur pengiriman yang dapat diandalkan.
Dari sisi ekonomi global, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan bahwa tekanan harga energi berpotensi bertahan meskipun perang segera berakhir. Dalam pidatonya di Singapura pada Rabu, ia menyampaikan bahwa berakhirnya konflik di Teluk tidak akan langsung menghilangkan masalah tingginya harga energi.
Bagi negara pengimpor energi, perkembangan itu berarti perbaikan volume pasokan belum tentu segera menurunkan tagihan impor. Biaya angkut, asuransi, dan pemulihan rantai pasok dapat memperlambat penurunan harga yang akhirnya dibayar konsumen maupun industri.
Baca Juga
Absen Panggilan Pertama, KPK Minta Nusron Wahid Kooperatif di Pemeriksaan Berikutnya
Sementara itu, upaya diplomasi masih terkendala persoalan program nuklir Iran. Rubio menegaskan bahwa setiap kesepakatan yang dapat diterima Washington harus memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Ia juga menuduh kepemimpinan Iran menggunakan pendapatan negara untuk mendukung Hezbollah, Hamas, milisi di Irak, dan Houthi, alih-alih memprioritaskan kesejahteraan masyarakatnya.
Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan tuntutan serupa. Dalam wawancara dengan Reuters yang dikutip The National, Vance mengatakan Iran harus mengambil langkah nyata untuk mengurangi kapasitas pengayaan uranium secara berarti. Washington, menurut dia, tidak bersedia menerima jaminan verbal tanpa tindakan yang dapat menunjukkan perubahan.
AS dan Iran telah bertukar proposal untuk mengakhiri perang dan memulihkan pelayaran, tetapi Presiden Donald Trump menolak tawaran terbaru Teheran. Vance menyatakan Washington tetap terbuka terhadap kesepakatan, dengan syarat terdapat konsesi konkret dari Iran.
Di Athena, pembicaraan juga menyentuh kemungkinan dukungan maritim dari negara mitra. Menteri Luar Negeri Yunani George Gerapetritis menyatakan negaranya bersedia bekerja sama dengan AS dan memberikan bantuan maritim di Hormuz apabila terdapat proses perdamaian yang layak.
Bagi pasar energi, ukuran terpenting dari perkembangan Hormuz adalah keberlanjutan pengiriman dengan risiko dan biaya yang menurun. Data ekspor menunjukkan pasokan mulai pulih, tetapi ancaman terhadap tanker dan kebuntuan diplomasi membuat kepastian tersebut belum tercapai. Selama kedua persoalan itu belum teratasi, pulihnya volume minyak masih dapat berjalan berdampingan dengan mahalnya ongkos energi.
