Mirae Asset Pangkas Proyeksi Ekonomi RI 2026 Jadi 4,8%, tapi Investasi Tetap Terbuka
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Mirae Asset Sekuritas Indonesia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8% pada 2026 dan 4,9% pada 2027, dari proyeksi sebelumnya masing-masing 5,0% dan 5,1%.
Pengubahan tersebut mengikuti pelemahan permintaan domestik, kondisi eksternal yang kurang kondusif, serta kebijakan moneter global yang masih ketat. Sementara, inflasi diperkirakan mencapai 4,0% pada 2026 sebelum kembali ke kisaran sasaran Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5%–3,5% pada 2027.
Baca Juga
AI Diprediksi Jadi Mesin Pertumbuhan 'Data Center' Indonesia
Meski demikian, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai peluang investasi tetap terbuka. Stabilitas nilai tukar rupiah, musim laporan keuangan emiten kuartal II-2026, serta kepastian arah kebijakan dinilai dapat menopang pemulihan pasar secara bertahap pada paruh kedua tahun ini.
"Setelah fase rebound, arah pasar saham Indonesia pada semester II-2026 akan ditentukan oleh kondisi makroekonomi global, valuasi saham yang semakin menarik, serta tetap terjaganya status Indonesia sebagai emerging market dalam indeks MSCI," kata dia dalam Media Day: Juli 2026 - Beyond the Rebound: What's Driving Markets in 2H2026, Selasa (21/7/2026).
Menurut Rully, mulai pulihnya minat investor asing terhadap saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi salah satu sinyal positif bagi pasar saham Indonesia.
Namun, setelah fase technical rebound, perhatian investor akan semakin tertuju pada kualitas fundamental ekonomi, arah kebijakan moneter global, serta kemampuan emiten menjaga pertumbuhan kinerja.
“Perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada momentum rebound, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi dan prospek kinerja emiten di tengah tantangan makro yang masih berlangsung,” ujar Rully
Baca Juga
Perkuat Konektivitas RI-India, Prabowo Dukung Pembangunan Pelabuhan di Kepulauan Andaman dan Nikobar
Berdasarkan analisisnya, tantangan utama pasar pada semester II-2026 masih berasal dari kebijakan moneter global. Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga acuan masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember 2026 sehingga kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) diperkirakan masih berlanjut.
“Kondisi higher for longer membuat likuiditas dolar AS semakin ketat sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah perlambatan ekonomi dan potensi twin deficit, ruang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga juga semakin terbatas,” jelasnya.
