Mirae Asset: Ketahanan Sektor Eksternal Jadi Penentu Sentimen Pasar Semester II-2026, BBCA Tetap Top Pick
JAKARTA, investortrust.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai ketahanan sektor eksternal Indonesia akan menjadi faktor utama yang menentukan arah sentimen pasar pada semester II-2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, investor diperkirakan akan semakin selektif dengan memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kuat.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan kemampuan emiten menjaga kinerja di tengah dinamika ekonomi dan suku bunga yang masih tinggi menjadi salah satu pertimbangan utama investor.
"Kami melihat investor akan semakin memperhatikan kualitas fundamental perusahaan. Di tengah kondisi makro yang masih berkembang, emiten dengan likuiditas yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta kemampuan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan akan memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan emiten yang lebih sensitif terhadap perubahan kondisi pasar," ujar Rully, Senin (6/7/2026).
Baca Juga
Semester II-2026 Masih Menantang, Samuel Sekuritas Sarankan Strategi Investasi Defensif
Atas dasar tersebut, Mirae Asset tetap menempatkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai rekomendasi utama di sektor perbankan. BBCA dinilai memiliki fundamental yang lebih kuat dibandingkan bank-bank besar lainnya.
Penilaian tersebut didukung oleh potensi ekspansi net interest margin (NIM), likuiditas yang memadai dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 74,1%, serta kualitas aset yang tetap terjaga, tercermin dari gross non-performing loan (NPL) sebesar 1,8% dan cost of credit yang stabil di level 6 basis poin.
"Dalam kondisi likuiditas perbankan yang masih relatif ketat, kami melihat BBCA berada pada posisi yang lebih baik dibandingkan bank-bank besar lainnya. Fundamental tersebut menjadi salah satu alasan kami tetap menempatkan BBCA sebagai top pick di sektor perbankan," kata Rully.
Ia menambahkan, di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi makro, investor perlu menyeimbangkan analisis terhadap faktor eksternal dengan kualitas fundamental emiten agar mampu menghadapi volatilitas pasar secara lebih optimal.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Tebar Dividen Rp2,08 Triliun, Investor Catat Cum Date 8 Juli 2026
Sementara itu, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri mengatakan, perhatian pasar kini mulai bergeser pada kemampuan Indonesia menjaga ketahanan sektor eksternal.
Menurut dia, perubahan fokus tersebut terjadi setelah neraca perdagangan Mei 2026 mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar, mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sekaligus menjadi defisit bulanan terbesar sejak April 2019.
Novani menilai defisit neraca perdagangan tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap sektor eksternal Indonesia di tengah perlambatan perdagangan global, normalisasi harga komoditas, dan tingginya impor migas.
Baca Juga
Saham Perbankan Menarik! BRI Danareksa Tetapkan BBCA dan BTPS Jadi Pilihan Teratas
Kondisi itu juga terjadi ketika transaksi berjalan masih mencatat defisit dan cadangan devisa terus menurun. "Berakhirnya surplus perdagangan selama 72 bulan menunjukkan bantalan eksternal Indonesia mulai menyempit. Dampaknya, ketergantungan terhadap arus modal portofolio untuk menjaga stabilitas eksternal menjadi semakin besar," ujar Novani.
Ia menambahkan, perhatian pasar ke depan tidak lagi hanya tertuju pada kembalinya surplus perdagangan, tetapi juga pada ketahanan sektor eksternal Indonesia secara keseluruhan. "Pemulihan permintaan global, pergerakan harga komoditas, tingginya kebutuhan impor energi, serta efektivitas implementasi kebijakan DHE akan menjadi faktor utama yang menentukan ketahanan sektor eksternal, stabilitas rupiah, dan sentimen pasar," jelas Novani.
Menurutnya, Bank Indonesia diperkirakan akan tetap mempertahankan kebijakan yang berorientasi pada stabilitas selama surplus perdagangan masih terbatas, transaksi berjalan masih defisit, dan tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda.
