Purbaya: Utang Indonesia Masih Aman, Rasio Baru 40% dari PDB
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah masih memiliki kemampuan membayar utang. jika melihat ukuran ekonomi yang ada.
“Secara teoritis ya cukup, enggak ada masalah, saya masih kebanyakan duit kan sampai dibagi-bagi. Dari SAL (Saldo Anggaran Lebih) saya pindahkan ke perbankan,” kata Purbaya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Rabu (16/7/2026).
Baca Juga
Ekonom Proyeksikan Posisi Utang Indonesia Bisa Sentuh Rp 10.600 Triliun
Purbaya mengatakan pemerintah menganut standar ketat tentang pengelolaan utang. Batas utang sebesar 60% dari produk domestik bruto (PDB) tetap dianut meskipun sejumlah negara di dunia telah melanggar batas utang tersebut. “Jadi, kita kalau pakai di fiskal itu (batasannya) di bawah 60% (dari PDB). Kita masih 40% jadi masih jauh,” ujar dia.
Purbaya menyontohkan bahwa utang Amerika Serikat (AS) mencapai lebih 100% dari PDB, Singapura mencapai 175% dari PDB, Jepang mencapai 275% dari PDB, dan Jerman mencapai 60% dari PDB. “Jadi tinggi-tinggi. Kita masih amat prudent dari sisi itu,” kata dia.
Dengan pengelolaan utang tersebut, Purbaya menyebut S&P Global menetapkan bahwa peringkat kredit jangka panjang Indonesia tetap BBB dengan outlook tetap stabil.
Posisi utang pemerintah per 31 Desember 2025, yaitu Rp 9.638 triliun. Angka ini berubah menjadi Rp 9.920,42 triliun per 31 Maret 2026 atau 40,75% dari PDB. Angka tersebut ditambah dengan proyeksi penarikan utang baru karena pelebaran defisit APBN 2026.
Meski demikian, Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky memproyeksikan utang Pemerintah Indonesia memproyeksikan posisi akhir utang pada 2026 akan menyentuh Rp 10.600 triliun. Proyeksi ini muncul karena adanya faktor pelemahan kurs. “Pelemahan kurs per 31 Desember 2026 atas 31 Desember 2025 diperkirakan menambah posisi utang hampir Rp 100 triliun,” kata Awalil dalam keterangan resminya, Senin (13/7/2026).
Baca Juga
Utang Luar Negeri Indonesia Rp 7.999 Triliun, Naik Rp 83 Triliun dalam Sebulan
Awalil melihat pemerintah telah memproyeksikan pelebaran defisit APBN 2026 menjadi Rp 734,32 triliun yang terdiri dari pembiayaan utang meningkat menjadi Rp 868,12 triliun dan pembiayaan non-utang sedikit menurun menjadi Rp 133,8 triliun.
Awalil menunjukkan pembiayaan utang melalui Surat Berharga Negara (SBN) justru menurun dari rencana semula. Pembiayaan utang melalui SBN awalnya sebesar Rp 799,53 triliun dan menjadi Rp 736,57 triliun. “Namun, diimbangi peningkatan drastis dari pinjaman luar negeri (neto) yang mencapai Rp 137,5 triliun dari rencana Rp 39,21 triliun,” ujar dia.
