Airlangga: Fundamental Ekonomi Tetap Kokoh, Kadin Jadi Jembatan Diplomasi Ekonomi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Pemerintah menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, disrupsi rantai pasok, revolusi kecerdasan buatan (AI), hingga fragmentasi perdagangan dunia. Di saat banyak negara menghadapi perlambatan, Indonesia masih mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5%, inflasi yang terkendali, sektor perbankan yang sehat, serta berbagai program transformasi ekonomi yang terus berjalan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan optimisme tersebut saat menjadi pembicara utama dalam Kadin Diplomatic Economic Breakfast bertema “Beyond Uncertainty: Building Indonesia’s Next Economy” yang digelar di Ruang Graha Sawala, Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (10/07/2026).
Acara yang diinisiasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia itu dihadiri Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia James Riady, sekitar 67 duta besar dan wakil kepala perwakilan diplomatik, para Ketua Kadin Daerah (Kadinda), pimpinan Kadin Indonesia, kamar dagang bilateral, serta pelaku usaha.
Airlangga mengatakan Indonesia memasuki periode ketidakpastian global dengan fondasi ekonomi yang relatif kuat. Pada kuartal I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61%, sementara berbagai lembaga internasional seperti IMF dan OECD masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di sekitar 5% sepanjang tahun ini. “Seluruh indikator menunjukkan ekonomi Indonesia tetap aman dan solid,” ujar Airlangga.
Ia menjelaskan, inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5% ±1%, sementara neraca perdagangan secara kumulatif masih mencatat surplus. Defisit yang sempat terjadi dalam satu bulan terakhir lebih disebabkan kenaikan impor bahan bakar minyak (BBM) akibat lonjakan harga energi global, bukan karena melemahnya daya saing ekspor nasional.
Menurut Airlangga, pemerintah juga terus menjaga daya saing industri nasional melalui berbagai insentif fiskal. Salah satunya adalah rencana pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik bagi industri kimia serta fasilitas bea masuk nol persen selama enam bulan untuk impor LPG sebagai bahan baku industri petrokimia.
Selain itu, pemerintah tetap melanjutkan berbagai program prioritas Presiden Prabowo Subianto, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), pembiayaan perumahan rakyat, Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga berbagai stimulus ekonomi yang dinilai berjalan dengan baik.
Dari sisi sektor keuangan, Airlangga menyebut perbankan nasional tetap berada dalam kondisi sehat. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh dua digit, sementara penyaluran kredit mulai meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.
Baca Juga
Ketum Kadin Anindya Bakrie: IHSG Optimistis Kembali Tembus 9.000 Didukung Faktor Ini
Ketidakpastian Global
Dalam paparannya, Airlangga menilai tantangan ekonomi dunia kini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Persoalan tidak lagi sebatas perang dagang atau konflik geopolitik, tetapi juga menyangkut keamanan energi, teknologi, investasi, hingga transformasi industri global.
Menurut dia, rantai pasok, arus investasi, kebijakan industri, keamanan energi, keamanan pangan, hingga perkembangan AI kini saling berkaitan. “Karena itu diplomasi ekonomi tidak bisa lagi hanya mengandalkan hubungan antarpemerintah. Hubungan government-to-government harus diikuti implementasi business-to-business yang nyata,” tegasnya.
Ia menilai Kadin Indonesia memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara pemerintah, dunia usaha nasional, pemerintah daerah, serta komunitas bisnis internasional agar berbagai kesepakatan tingkat tinggi benar-benar menghasilkan perdagangan, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.
AI Mesin Pertumbuhan Baru
Airlangga menjelaskan pemerintahan Presiden Prabowo tengah membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui tiga agenda besar, yakni kedaulatan pangan, kedaulatan energi, dan transformasi digital. Transformasi digital menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi masa depan karena tidak membutuhkan pembangunan infrastruktur fisik yang panjang sebagaimana sektor konvensional.
Baca Juga
Kadin Indonesia Bidik Peluang Investasi dari OECD dan Uni Eropa
Indonesia, kata dia, juga telah mencapai kemajuan signifikan dalam ketahanan pangan. Produksi beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 35 juta ton, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Indeks Nilai Tukar Petani juga meningkat menjadi sekitar 134,36, menunjukkan kesejahteraan petani yang semakin membaik.
Untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah gejolak global, pemerintah kembali menyalurkan bantuan beras sebesar 10 kilogram per bulan kepada sekitar 22,4 juta keluarga selama tiga bulan. “Kebijakan ini bukan hanya membantu masyarakat, tetapi juga menjaga stabilitas harga pangan dan inflasi,” ujar Airlangga.
Airlangga menilai kecerdasan buatan akan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi dunia dalam dekade mendatang. Ia mengibaratkan AI seperti sebuah mobil sport berkecepatan tinggi. Teknologi tersebut dapat memberikan manfaat luar biasa apabila dikendalikan dengan baik, namun juga bisa menimbulkan risiko besar apabila tidak diatur secara tepat.
Menurut Airlangga, pengembangan AI memerlukan tiga fondasi utama, yakni data, pusat data berkapasitas besar (hyperscale data center), serta semikonduktor. Karena itu Indonesia mulai memperkuat kerja sama internasional, termasuk dengan perusahaan Inggris ARM untuk pengembangan teknologi chip generasi berikutnya.
Indonesia juga aktif mengikuti berbagai forum global mengenai tata kelola AI, termasuk pertemuan BRICS serta World AI Cooperation Organization.
Hilirisasi Jadi Prioritas
Di sektor energi, pemerintah mempercepat transisi menuju energi bersih melalui pengembangan biodiesel, tenaga surya, pembangkit listrik tenaga air, gas alam, hingga energi nuklir skala kecil atau Small Modular Reactor (SMR).
Airlangga mengungkapkan Indonesia baru saja meluncurkan program B50, menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan campuran biodiesel hingga 50%. Menurutnya, implementasi B50 berpotensi menghemat impor sekitar 44 juta barel bahan bakar minyak setiap tahun sekaligus menghemat devisa sekitar US$10 miliar.
Selain itu, pemerintah juga menargetkan pembangunan 100 gigawatt pembangkit listrik tenaga surya dalam dua tahun mendatang guna mendukung pengembangan pusat data (data center), industri AI, kendaraan listrik, serta industri hijau.
Pemerintah juga tengah menyiapkan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir skala kecil bekerja sama dengan berbagai mitra internasional, termasuk Kanada, Jepang, dan Amerika Serikat.
Selain transformasi domestik, pemerintah terus memperluas akses pasar internasional melalui berbagai perjanjian perdagangan bebas.
Airlangga mengatakan Indonesia kini sedang menyelesaikan proses Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang akan menghapus sekitar 90% tarif perdagangan antara Indonesia dan Uni Eropa.
Pemerintah juga terus melanjutkan proses aksesi ke OECD. Hingga saat ini Indonesia telah menyampaikan penilaian terhadap 20 dari 24 sektor dengan tingkat kepatuhan rata-rata sekitar 70%.
Selain itu, Indonesia juga tengah mengupayakan keanggotaan dalam Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).
Hubungan ekonomi dengan berbagai negara juga terus diperkuat, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Uni Ekonomi Eurasia, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, India, Singapura, dan Inggris.
Airlangga mengatakan pemerintah juga mempercepat pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK). Tingkat okupansi sejumlah KEK strategis bahkan telah mendekati 80% hingga 100%, sehingga pemerintah berencana membuka kawasan industri baru di berbagai daerah.
Saatnya Menjual Fakta Indonesia
Sementara itu Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan dunia saat ini dipenuhi berbagai persepsi, opini, bahkan distorsi mengenai kondisi ekonomi global maupun Indonesia. Karena itu diperlukan ruang dialog yang terbuka antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas diplomatik internasional.
Menurut Anindya, forum Kadin Diplomatic Economic Breakfast telah berkembang menjadi platform strategis untuk menyampaikan berbagai fakta mengenai perkembangan ekonomi Indonesia sekaligus memperkuat jejaring bisnis internasional hingga ke 38 provinsi melalui jaringan Kadin daerah.
Ia menegaskan diplomasi ekonomi saat ini harus menghasilkan implementasi nyata berupa perdagangan, investasi, dan kerja sama bisnis.
“Kita melihat banyak suara dan banyak persepsi di luar sana. Tetapi ada fakta-fakta yang perlu kita sampaikan. Indonesia memang belum sempurna, tetapi kita bergerak ke arah yang benar, memiliki fundamental ekonomi yang kuat, serta kepemimpinan yang mampu membawa transformasi ekonomi,” kata Anindya.
Menurutnya, Kadin akan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperluas diplomasi ekonomi Indonesia, mendukung proses aksesi OECD, memperkuat implementasi berbagai perjanjian perdagangan internasional, serta menjembatani hubungan antara pemerintah dengan komunitas bisnis global.
Menutup pidatonya, Airlangga mengajak seluruh mitra internasional untuk terus memperkuat kolaborasi dengan Indonesia.
“Tidak ada satu negara pun yang mampu menghadapi tantangan global sendirian. Kita membutuhkan lebih banyak mitra untuk membangun rantai pasok yang tangguh, mempercepat transisi energi hijau, mengembangkan teknologi, dan menciptakan kemakmuran bersama. Indonesia siap menjadi mitra yang terbuka, stabil, dan dapat dipercaya,” tegas Airlangga.
