Rupiah Menguat 0,35% tetapi Masih di Rp 18.000-an, Investor Cermati Konflik Timur Tengah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak bergerak menguat 0,35% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi Rp 18.065 per dolar AS pada Jumat (10/6/2026).
Selain rupiah, penguatan nilai tukar juga terjadi pada yen Jepang sebesar 0,60%, rupee India 0,18%, ringgit Malaysia 0,27%, dolar Singapura menguat 0,18%, baht Tailan 0,25%, dan yuan China menguat 0,18%.
Baca Juga
IDRX Dorong Pemanfaatan Stablecoin Rupiah Perkuat Ekonomi Kreatif Digital
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro melihat indeks dolar AS (DXY) diperdagangkan di sekitar level 101, relatif tidak berubah dibandingkan dua sesi sebelumnya. Ini terjadi seiring investor terus mencermati implikasi konflik di Timur Tengah terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter.
AS dan Iran terus saling melancarkan serangan, meskipun lonjakan harga minyak mulai mereda setelah sempat melonjak tajam dalam dua sesi sebelumnya.
Risalah rapat Federal Reserve (The Fed) pada Juni menunjukkan para pembuat kebijakan masih terbelah mengenai arah suku bunga, dengan beberapa skenario yang dibahas, sementara hanya sebagian kecil pejabat yang mendukung kenaikan suku bunga.
Pasar masih memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir 2026, dengan probabilitas kenaikan pada pertemuan September berada di sekitar 64%.
Baca Juga
Mata Uang Asia dan Rupiah Bergerak Melemah Terhadap Dolar AS
Sementara dolar AS sedikit melemah terhadap yen Jepang seiring investor menilai kemungkinan adanya intervensi otoritas Jepang untuk menopang mata uangnya. Adapun euro menguat tipis terhadap dolar AS karena meningkatnya ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan kembali menaikkan suku bunga.
Penjualan rumah bekas di AS turun 2,4% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi tingkat tahunan yang telah disesuaikan secara musiman sebesar 4,09 juta unit pada Juni 2026, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan tetap berada di level 4,20 juta unit.
