Surplus 72 Bulan Berakhir, Rupiah Kembali Diuji
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Surplus neraca perdagangan Indonesia yang bertahan 72 bulan akhirnya patah. Pada Mei 2026, neraca perdagangan mencatat defisit US$1,61 miliar, pertama kali sejak April 2020. Data BPS yang dirilis 1 Juli 2026 menunjukkan ekspor Mei 2026 turun menjadi US$23,20 miliar, sedangkan impor mencapai US$24,81 miliar.
Berdasarkan BRI Regular Economic Update: Neraca Perdagangan Mei 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, Jakarta, Kamis (02/07/2026), defisit terjadi karena ekspor terkontraksi tajam, sementara impor masih tumbuh kuat secara tahunan. Ekspor turun 8,30% secara bulanan dan 5,73% secara tahunan. Sebaliknya, impor hanya turun tipis 1,59% secara bulanan, tetapi melonjak 22,16% secara tahunan.
Pukulan terbesar datang dari dua sisi sekaligus: surplus nonmigas menyusut dan defisit migas melebar. Neraca migas defisit US$3,75 miliar pada Mei 2026, lebih dalam dari US$3,44 miliar pada April 2026. Bank Indonesia juga menegaskan defisit Mei dipengaruhi oleh meningkatnya defisit migas di tengah neraca nonmigas yang masih surplus.
Di sisi ekspor nonmigas, pelemahan terutama dipicu penurunan tajam ekspor lemak dan minyak hewani/nabati, termasuk CPO, yang turun US$822,9 juta atau 26,85% secara bulanan. Ekspor besi dan baja, mesin/perlengkapan elektrik, mesin mekanis, serta logam mulia juga melemah. Ini menunjukkan ekspor Indonesia masih rentan terhadap komoditas dan belum cukup kuat ditopang produk manufaktur bernilai tambah tinggi.
Baca Juga
Surplus 72 Bulan Berturut-turut Berakhir, Neraca Perdagangan Indonesia Defisit pada Mei 2026
Faktor lain adalah konsentrasi dagang yang makin besar ke China. Porsi China sebagai tujuan ekspor nonmigas naik menjadi 25,77% pada Mei 2026, sementara porsi AS, India, dan Malaysia menurun. Di sisi impor, China juga tetap menjadi pemasok utama dengan porsi sekitar 41,76% dari impor nonmigas. Ketergantungan ini membuat neraca dagang Indonesia semakin sensitif terhadap perlambatan ekonomi China dan gangguan rantai pasok.
Ke depan, BRI melihat neraca perdagangan masih berpeluang membaik. Ada tiga penopang utama: membaiknya PMI manufaktur sejumlah negara tujuan ekspor seperti China, Jepang, dan Malaysia; turunnya PMI manufaktur Indonesia ke zona kontraksi yang berpotensi menahan impor bahan baku; serta kenaikan harga batu bara, CPO, dan gas alam, di tengah penurunan harga minyak global. PMI manufaktur Indonesia turun ke 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei, menandakan kontraksi aktivitas industri.
Namun, defisit dagang tetap menjadi sinyal kewaspadaan bagi rupiah. Defisit berarti pasokan devisa dari ekspor berkurang, sementara kebutuhan valas untuk impor tetap besar. Dalam kondisi arus modal asing belum stabil, defisit perdagangan dapat menambah tekanan terhadap rupiah, memperbesar kebutuhan lindung nilai importir, dan mendorong Bank Indonesia tetap menjaga stabilitas melalui intervensi pasar serta suku bunga.
Dengan kata lain, defisit Mei 2026 bukan sekadar angka bulanan. Ia adalah peringatan bahwa surplus panjang Indonesia selama enam tahun lebih banyak ditopang komoditas, bukan transformasi daya saing industri. Jika ekspor bernilai tambah tidak diperkuat dan impor energi tetap tinggi, rupiah akan terus hidup di bawah bayang-bayang tekanan neraca eksternal. (PD)
