Rupiah Ditutup Melonjak di Tengah Surplus Perdagangan 61 Bulan
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar atau kurs rupiah menguat pada penutupan perdagangan Selasa (1/7/2025) sore atau tepat seusai Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 61 bulan beruntun.
Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), kurs rupiah menguat 39 poin (0,24%) ke level Rp 16.192 per dolar AS. Pada perdagangan pasar spot valas, data Bloomberg menunjukkan, kurs rupiah bergerak menguat 38 poin (0,24%) ke level Rp 16.199 per dolar AS hingga pukul 17.00 WIB.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$ 4,3 miliar pada Mei 2025. Angka ini melonjak tajam dibandingkan April 2025 yang hanya mencatatkan surplus US$ 160 juta. Dengan capaian ini, Indonesia telah mencetak surplus perdagangan selama 61 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Baca Juga
Kurs Rupiah Menguat Tipis, Dikerek Sentimen Positif Akhir Perang Dagang AS-China
Selain itu, BPS juga mencatat inflasi pada Juni 2025 sebesar 0,19% (month to month/mtm) dan 1,87% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara inflasi tahun kalender (year to date/ytd) tercatat sebesar 1,38%.
Dari sentimen eksternal, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, perhatian pasar tertuju pada drama di Sidang Senat AS. Adapun Senat Amerika meloloskan secara prosedural "RUU Besar dan Indah".
Rancangan Undang-undang tersebut, yang lolos tipis di Senat pada akhir pekan, mengusulkan perombakan besar-besaran kode pajak, termasuk pengurangan yang didanai pemotongan program Medicaid dan energi hijau.
RUU "Besar yang Indah" itu akan menimbulkan kekhawatiran defisit AS yang membengkak. "One Big Beautiful Bill" Trump kemungkinan akan meningkatkan defisit fiskal sebesar US$ 3,8 triliun.
"Oleh karena itu, Investor khawatir bahwa pemotongan pajak yang agresif dan dipasangkan dengan pengurangan belanja pemerintah, dapat mengikis disiplin fiskal dan memicu inflasi jangka panjang," ungkap Ibrahim dalam laporan tertulis, Selasa (1/7/2025).
Trump pada Senin (30/6/2026) mengecam Jepang dan mengisyaratkan kemungkinan mengakhiri pembicaraan perdagangan dengan Tokyo. Sementara Presiden AS mengkritik praktik impor beras Jepang.
Baca Juga
Secara terpisah, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa sejumlah negara dapat dikenai tarif tinggi meskipun negosiasi perdagangan sedang berlangsung. Negara-negara, seperti Jepang dan India akan menghadapi tarif tambahan AS masing-masing lebih dari 20%.
"Fokus pasar hari ini adalah pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Powell dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh ECB (Bank Sentral Eropa). Pasar akan menganalisis untuk mendapatkan petunjuk kapan The Fed mulai memangkas suku bunga," tutur Ibrahim.

