Bahlil Ungkap Cara Cari Duit untuk Tutup Subsidi BBM di APBN 2026
JAKARTA, investortrust.id- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memaparkan upaya mencari pendanaan untuk menutup defisit APBN 2026. Hal ini sebagai konsekuensi karena pemerintah tak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite.
“Saya enggak setuju kalau dikatakan bahwa kenaikan atau menahan harga subsidi BBM itu adalah membebani uang negara,” kata Bahlil saat seminar nasional Kajian Tengah Tahun Intitute for Development of Economics and Finance (Indef), di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Baca Juga
Bahlil Targetkan E20 Meluncur 2028, Bisa Pangkas Impor Bensin 4 Juta KL
Bahlil menjelaskan gambaran kebutuhan anggaran subsidi BBM. Dengan Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$ 70 per barel, anggaran subsidi BBM yang dibutuhkan mencapai Rp 150-200 triliun. Kebutuhan anggaran subsidi BBM itu turut naik ketika ICP-nya mencapai US$ 100 per barel.
“Negara memutuskan, atas arahan Bapak Presiden, ICP-nya sampai dengan US$ 100 (per barel) itu berarti kita menambah (anggaran) subsidi kurang lebih sekitar Rp 230-250 triliun,” ujar dia.
Meski kebutuhan anggaran mengalami kenaikan, ketika ICP mengalami kenaikan negara turut mendapat pemasukan tambahan. Bahlil menggambarkan ketika ICP US$ 70 per barel, pendapatan negara yang diperoleh sebesar US$ 10,8 miliar.
“Kalau ICP-nya menjadi US$ 100 (per barel), pendapatan kita US$ 17,6 miliar. Kalau ICP kita di US$ 90 (per barel), pendapatan negara US$ 14,3 miliar,” kata dia.
Baca Juga
Mahasiswa Protes BBM Langka sampai MBG, Pimpinan DPR Langsung Telepon Bahlil hingga Kepala BGN
Menurut Bahlil, ICP yang mencapai US$ 100 per barel akan menambah pendapatan sekitar US$ 7 miliar. Dengan kurs sekitar Rp 17.500 per dolar AS, Bahlil mengkalkulasi pendapatan negara mencapai Rp 120-125 triliun.
“Itu artinya apa? Dari Rp 250 triliun (anggaran subsidi), kita sudah dapat 50% dari peningkatan pendapatan lifting,” ujar dia.
Bahlil mengaku tak berhenti memutar otak. Dia menyebut mendapatkan dana tambahan untuk menutup anggaran subsidi.
“Kita naikkan beberapa royalti nikel, batu bara, dan beberapa sektor lain. Kita bisa dapat uang sekitar Rp 30-35 triliun,” ujar dia.
Dengan dua langkah tersebut, pendapatan negara mencapai sekitar Rp 150-160 triliun. Artinya, terdapat kekurangan anggaran sekitar Rp 80-90 triliun anggaran yang perlu ditutup APBN 2026. Upaya untuk menutup anggaran tersebut dilakukan dengan efisiensi.
“Ini sebenarnya kuncinya,” ujar dia
