Kebijakan BI dan Kemenkeu Tarik Dana Masuk hingga US$ 3,9 Miliar di Kuartal II-2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menerapkan sejumlah kebijakan moneter dan fiskal dengen tujuan untuk menarik aliran modal asing masuk ke Tanah Air di tengah situasi perekonomian global yang menantang. Salah satunya dengan meningkatkan imbal hasil instrumen keuangan domestik.
“Imbal hasil instrumen keuangan domestik dapat mendorong aliran masuk modal asing pada kuartal II-2026 yang secara neto tercatat sebesar US$ 3,9 miliar (hingga 15 Juni 2026),” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, saat pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (18/6/2026).
Masuknya aliran modal asing pada kuartal II-2026 ini lebih besar dibandingkan hasil kuartal I-2026. Pasalnya pada kuartal I-2026, masih terjadi aliran modal keluar secara neto sebesar US$ 0,8 miliar.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menjelaskan aliran modal asing ke SBN tercatat sebesar Rp 4,9 triliun dan SRBI sebesar Rp 55,3 triliun per 17 Juni 2026.
Baca Juga
MSCI Tunda Kepercayaan, “Capital Inflow” Belum Ada, Pasar Saham Indonesia Tertekan
“Artinya, dengan inflow yang masuk cukup banyak akan memasok tambahan valuta asing di pasar kita dan itu setidaknya menjawab mengapa rupiah kita alhamdulillah dalam beberapa hari ini terjadi penguatan,” kata dia.
Jumlah modal asing yang masuk ini dipengaruhi karena naiknya rate imbal hasil SRBI tenor 12 bulan yang mencapai 7,59%.
“(Imbal hasil) SBN (Surat Berharga Negara) juga sempat menyentuh di atas 7% walaupun hari ini kembali ke kisaran 7% - 7,02%. Tapi dampaknya adalah sebagaimana tujuan utama kami mendatangkan inflows, untuk mendatangkan valuta asing,” ucap dia.
Meski demikian, BI memberikan catatan tentang penguatan neraca pembayaran Indonesia (NPI) guna mendukung ketahanan eksternal. Sebab, angka surplus perdagangan pada April 2026 turun menjadi US$ 0,1 miliar. Angka ini terkontraksi dalam setelah pada Maret 2026, masih mengalami surplus perdagangan sebesar US$ 3,3 miliar.
Selain itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 juga turun menjadi US$ 144,9 miliar atau setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
BI memperkirakan kinerja transaksi berjalan 2026 tetap sehat dalam kisaran defisit 1,3-0,5% dari PDB.
