Selain Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah, Ini Alasan BI Kembali Naikkan Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut meski perang yang terjadi di Timur Tengah tetap mereda, sejumlah bank sentral mulai menaikkan suku bunga kebijakannya. Ini dilakukan untuk merespon naiknya tekanan karena inflasi global efek perang yang diperkirakan mencapai sekitar 4,4%.
Baru-baru ini, the Fed mempertahankan suku bunga acuannya, Fed Fund Rate (FFR) pada level 3,75%. Tetapi, ke depan, terdapat kemungkinan naiknya FFR seiring prospek inflasi AS yang lebih tinggi.
“Imbal hasil US Treasury tetap tinggi mencapai 4,49% untuk tenor 10 tahun dan 4,18% untuk tenor 2 tahun pada tanggal 17 Juni 2026 didorong defisit fiskal AS yang membesar,” ujar Perry, saat pengumuman hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI, Kamis (18/6/2026).
Sementara itu, indeks dolar AS terhadap negara-negara lain (DXY) dan negara berkembang (ADXY) tetap kuat. Akibatnya, preferensi penempatan investor global ke negara emerging markets belum menguat.
“Dan beralih ke aset aman (safe-haven assets) di negara maju,” kata dia.
Baca Juga
BI Kembali Naikkan BI Rate ke 5,75%, Suku Bunga Acuan Naik 100 Bps dalam Dua Bulan
Berbagai alasan inilah yang turut mendasari kenaikan kembali suku bunga acuan BI, atau BI Rate, sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% pada Juni 2026.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menjelaskan kenaikan BI Rate untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Karena memang stabilitas itu memang menjadi fokus kami pada saat ini. Khususnya pada stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Destry.
Destry melihat kenaikan BI Rate tersebut diikuti dengan kenaikan rate imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Posisi imbal hasil SRBI 12 bulan mencapai 7,59%.
“Dan untuk SBN [Surat Berharga Negara] juga sempat menyentuh di atas 7% walaupun hari ini kembali ke 7%, 7,02%. Tapi dampaknya adalah bahwa tujuan utama kami mendatangkan inflows untuk mendatangkan valuta asing,” ucap dia.
Destry menyebut aliran modal asing ke SBN sebesar Rp 4,9 triliun dan SRBI sebesar Rp 55,3 triliun per 17 Juni 2026.
“Artinya, dengan inflow yang masuk cukup banyak akan memasok tambahan valuta asing di pasar kita dan itu setidaknya menjawab mengapa rupiah kita alhamdulillah dalam beberapa hari ini terjadi penguatan,” kata dia.
Destry memberi sinyal, langkah-langkah semacam ini akan terus dilakukan bank sentral. Harapannya aliran modal asing yang masuk terus bertambah.
Ekonom Bank Danamon, Hosiana Evalita Situmorang menjelaskan kenaikan suku bunga ketiga berturut-turut selama sejak Mei 2026 menegaskan fokus BI terhadap stabilitas rupiah di tengah pengetatan moneter global.
“Yang mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang, seiring kemungkinan the Fed menaikan FFR pada 2026,” kata Hosiana dalam keterangan resminya kepada investortrust.id.
Perubahan kebijakan ini mencerminkan upaya BI untuk memperkuat nilai tukar rupiah dari level saat ini untuk meredam inflasi impor.
“Gubernur Perry Warjiyo menyatakan keyakinannya bahwa rupiah akan terus menguat didukung oleh selisih imbal hasil yang menarik serta pertumbuhan ekonomi domestik yang tangguh,” kata dia.
