Pendidikan, Geopolitik, dan Pertaruhan Daya Saing Bangsa
Poin Penting
|
Oleh: Khulfi M. Khalwani *)
INVESTORTRUST -- Beberapa waktu lalu, seorang dosen senior yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Kehutanan bercerita sepulang dari kunjungan akademik ke Tiongkok.
Bagian ceritanya yang paling membekas dalam ingatan saya bukanlah gedung-gedung pencakar langit, jaringan kereta cepat, ataupun kemajuan teknologi di Tiongkok sana. Karena saya pun pernah melihatnya.
Yang justru membuat saya tertegun adalah cerita tentang suasana pendidikan di sana. Menurutnya, pada malam hari ruang-ruang belajar masih dipenuhi para pelajar. Sebagian dari mereka masih mengikuti sesi belajar mandiri hingga larut malam. Disiplin belajar yang tinggi dan etos kompetisi yang kuat tampak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda di sana.
Dalam hati saya, terlontar sebuah pertanyaan sederhana namun mengusik pikiran. Bagaimana Indonesia akan bersaing apabila negara lain sedang menyiapkan generasi mudanya dengan keseriusan seperti itu?
Tentunya kemajuan Tiongkok tidak dapat dijelaskan hanya dengan fakta bahwa para siswanya belajar hingga malam. Dari penelusuran saya, bahkan dalam beberapa tahun terakhir pemerintah Tiongkok justru berupaya mengurangi tekanan akademik yang berlebihan melalui berbagai reformasi pendidikan.
Namun bagi saya cerita tersebut menyimpan pesan yang lebih dalam. Yang sesungguhnya terlihat bukanlah panjangnya jam belajar, melainkan kuatnya orientasi sebuah bangsa dalam mempersiapkan sumber daya manusianya.
Di balik ruang-ruang kelas yang masih menyala pada malam hari, terdapat sebuah kesadaran kolektif bahwa masa depan negara ditentukan oleh kualitas manusia yang berhasil mereka bentuk hari ini.
Renungan itulah yang kembali muncul ketika mencermati fenomena meningkatnya jumlah mahasiswa Tiongkok yang memilih negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sebagai tujuan studi.
Dahulu jutaan pelajar Tiongkok berbondong-bondong menuju Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Eropa Barat sebagai kiblat pendidikan internasional. Gelar dari universitas Barat dianggap sebagai simbol mobilitas sosial, prestise, sekaligus tiket memasuki elite global. Kini arah angin mulai berubah.
Sebuah kajian yang dipublikasi oleh Tan dan Li (2026) menunjukkan bahwa semakin banyak mahasiswa Tiongkok memilih Hong Kong, Singapura, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan negara-negara ASEAN sebagai tujuan pendidikan.
Faktor biaya, keamanan, kedekatan budaya, ketidakpastian geopolitik di Barat, hingga kalkulasi karier membuat Asia menjadi tujuan baru mobilitas pendidikan internasional.
Fenomena ini sekilas tampak sebagai isu pendidikan biasa. Namun jika dicermati lebih dalam, terdapat pertanyaan yang jauh lebih strategis. Mengapa semakin banyak anak muda Tiongkok ingin memahami Indonesia?
Dan yang lebih penting, apakah generasi muda Indonesia sedang mempersiapkan dirinya dengan keseriusan yang sama untuk memahami dunia yang sedang berubah di hadapan mereka?
Hal ini menarik, karena fenomena meningkatnya mahasiswa Tiongkok yang memilih Asia Tenggara sebagai tujuan studi bisa kita pahami sebagai salah satu gejala dari perubahan geopolitik global saat ini. Fenomena ini bukan sekadar perubahan destinasi, melainkan dapat kita pahami sebagai perubahan orientasi peradaban.
Sejarah menunjukkan pada abad ke-19, negara-negara besar berlomba menguasai lautan. Berbagai ekspedisi perintis dilakukan untuk membuka jalur perdagangan dan atau juga tanah jajahan.
Beranjak pada abad ke-20, negara-negara berlomba menguasai industri, sebagai konsekuensi dari gelombang Revolusi Industri yang mengubah sumber kekuatan dari tanah dan wilayah menjadi mesin, pabrik, serta kapasitas produksi.
Namun pada abad ke-21, perebutan pengaruh sepertinya tidak lagi hanya terjadi di laut atau pabrik. Melainkan juga berlangsung di ruang kelas, laboratorium, pusat bahasa, dan kampus-kampus yang tampak tenang.
Tanpa disadari, di sanalah masa depan sedang diperebutkan. Indonesia pun perlahan masuk ke dalam orbit tersebut.
Berbagai Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), kerja sama universitas, pertukaran mahasiswa, hingga lembaga konsultan pendidikan yang secara khusus menyalurkan pelajar Tiongkok ke Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi dipandang sebagai negara transit, tetapi mulai diposisikan sebagai ruang belajar yang penting.
Pertanyaannya bukan mengapa mereka datang. Pertanyaannya adalah mengapa mereka merasa perlu memahami Indonesia.
Indonesia sebagai Objek Pembelajaran Strategis
Banyak orang Indonesia masih memandang Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang fungsi utamanya terbatas pada ruang domestik. Padahal dari perspektif strategis, bahasa adalah pintu masuk menuju pengetahuan yang lebih dalam tentang sebuah bangsa.
Ketika banyak mahasiswa Tiongkok belajar bahasa Indonesia, sesungguhnya mereka tidak hanya mempelajari tata bahasa atau kosakata. Dapat dipahami juga bahwa mereka sedang mempelajari cara masyarakat Indonesia berpikir, berkomunikasi, bernegosiasi, membangun kepercayaan, menyelesaikan konflik, dan menjalankan birokrasi. Secara sederhana, mereka sedang mempelajari Indonesia.
Dalam teori kekuatan nasional modern, kemampuan memahami negara lain merupakan bentuk modal strategis. Negara yang memahami karakter sosial, budaya, ekonomi, dan psikologi bangsa lain akan memiliki keunggulan dalam diplomasi, investasi, perdagangan, bahkan dalam persaingan geopolitik.
Oleh karena itu, meningkatnya minat warga negara Tiongkok terhadap bahasa Indonesia harus dibaca sebagai sinyal bahwa Indonesia memiliki nilai strategis yang semakin tinggi dalam perhitungan masa depan Asia.
Hal ini sejalan dengan meningkatnya investasi Tiongkok di sektor nikel, energi, manufaktur, infrastruktur, ekonomi digital, hingga proyek-proyek yang terkait dengan Belt and Road Initiative. Untuk semua itu, mereka membutuhkan orang-orang yang memahami Indonesia secara mendalam. Dan mereka sedang menyiapkannya.
Pendidikan sebagai Pertahanan yang Senyap
Terkadang, masyarakat umum sering memahami pertahanan negara sebagai sistem peralatan dan pasukan bersenjata. Padahal ancaman terhadap kedaulatan negara pada abad ke-21 semakin jarang datang dalam bentuk invasi fisik.
Ancaman dapat hadir melalui ketergantungan teknologi, dominasi informasi, ketimpangan kapasitas sumber daya manusia, hingga ketergantungan terhadap tenaga ahli asing. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa pendidikan sesungguhnya merupakan bentuk pertahanan negara yang paling sunyi.
Tidak ada suara ledakan. Tidak ada sirene. Tidak ada pasukan yang bergerak. Namun hasilnya dapat menentukan posisi suatu bangsa puluhan tahun ke depan.
Ketika semakin banyak mahasiswa asing memahami Indonesia sementara mahasiswa Indonesia belum mampu memahami dunia dengan kecepatan yang sama, maka yang terjadi bukan sekadar ketimpangan pendidikan. Yang terjadi adalah ketimpangan pengetahuan strategis.
Dan sejarah menunjukkan, dalam jangka panjang, ketimpangan pengetahuan selalu menghasilkan ketimpangan kekuasaan.
Bangsa yang memetakan bangsa lain lebih dahulu hampir selalu memiliki posisi tawar yang lebih kuat dibanding bangsa yang hanya menjadi objek pemetaan.
Ancaman yang Tidak Datang dari Senjata
Tulisan ini bukan memandang fenomena ini secara paranoid. Karena penulis memahami bahwa mahasiswa asing bukan ancaman. Sebaliknya, mereka adalah aset diplomasi dan jembatan kerja sama internasional. Namun sebagai pengingat, bahwa negara yang bijak selalu mampu membedakan antara keterbukaan dan kelengahan.
Kampus modern merupakan pusat produksi pengetahuan. Di dalamnya terdapat data sosial, penelitian energi, teknologi digital, kecerdasan buatan, sumber daya alam, hingga berbagai inovasi yang memiliki nilai ekonomi dan strategis yang sangat tinggi.
Dalam konteks inilah Indonesia perlu mulai memandang pendidikan tinggi sebagai bagian dari infrastruktur pertahanan negara.
Bukan untuk menutup diri. Melainkan untuk memastikan bahwa keterbukaan akademik tetap berjalan seiring dengan perlindungan kepentingan nasional.
Negara-negara maju telah lama melakukan hal tersebut. Mereka membuka kampus untuk mahasiswa internasional, tetapi tetap menerapkan pengamanan terhadap riset yang berkaitan dengan teknologi strategis, keamanan nasional, dan industri masa depan.
Indonesia harus mulai belajar dari pengalaman tersebut.
Daya Saing Mahasiswa
Menurut Penulis, isu yang lebih mendesak sesungguhnya bukanlah keamanan. Melainkan daya saing.
Kita harus bertanya dengan jujur. Jika mahasiswa Tiongkok bersedia belajar bahasa Indonesia untuk memahami Indonesia, apakah mahasiswa Indonesia memiliki semangat yang sama untuk memahami dunia?
Saat ini banyak lulusan Indonesia masih kesulitan menguasai bahasa asing kedua selain bahasa Inggris. Di sisi lain, mahasiswa Tiongkok yang datang ke Indonesia umumnya telah memiliki fondasi STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) yang kuat, disiplin akademik yang tinggi, dan orientasi karier yang jelas.
Mereka mempelajari bahasa Indonesia sebagai kompetensi tambahan. Kita sering kali masih berkutat pada kompetensi dasar. Inilah tantangan terbesar Indonesia.
Persaingan tenaga kerja masa depan tidak lagi terjadi antara Indonesia dan Tiongkok sebagai negara. Persaingan terjadi antara individu yang menguasai teknologi, bahasa, budaya, dan jaringan global dengan individu yang tidak menguasainya.
Di era kecerdasan buatan, kemampuan teknis dapat dipelajari oleh mesin. Namun kemampuan memahami manusia, budaya, bahasa, dan jejaring sosial tetap menjadi keunggulan strategis yang sulit digantikan. Dan justru pada aspek inilah banyak mahasiswa asing mulai berinvestasi di Indonesia.
Bonus Demografi dan Bonus Geostrategis
Indonesia sering berbicara tentang bonus demografi. Tetapi bonus demografi bukanlah hadiah, melainkan hanyalah peluang.
Peluang itu dapat berubah menjadi keuntungan atau justru menjadi beban.
Apabila generasi muda Indonesia gagal meningkatkan kualitas pendidikan, literasi teknologi, kemampuan bahasa asing, dan daya saing global, maka bonus demografi hanya akan menghasilkan jumlah tenaga kerja yang besar tanpa keunggulan kompetitif.
Sebaliknya, jika Indonesia mampu membangun universitas yang kuat, memperluas riset strategis, memperkuat penguasaan teknologi mutakhir, serta melahirkan generasi yang mampu beroperasi dalam lingkungan global, maka bonus demografi dapat berubah menjadi bonus geostrategis.
Indonesia tidak hanya menjadi pasar. Indonesia menjadi pemain. Tidak hanya menjadi lokasi investasi. Tetapi juga pusat produksi pengetahuan dan talenta.
Belajar dari Mereka yang Datang
Ada ironi yang patut direnungkan. Ketika sebagian anak muda Indonesia memandang Indonesia sebagai tempat yang biasa-biasa saja, justru semakin banyak anak muda dari negara lain datang untuk mempelajarinya.
Mereka belajar bahasa Indonesia. Mereka mempelajari budaya Indonesia. Mereka meneliti ekonomi Indonesia. Mereka membangun jejaring profesional di Indonesia. Mereka sedang membaca masa depan Indonesia.
Mungkin pertanyaan paling penting bukanlah mengapa mereka datang. Pertanyaan yang lebih penting adalah, Apakah kita sudah membaca masa depan Indonesia sebaik mereka membacanya?
Karena dalam dunia yang semakin kompetitif, bangsa yang paling siap bukanlah bangsa yang paling besar, melainkan bangsa yang paling cepat belajar. Dan sejarah selalu berpihak kepada mereka yang belajar lebih dahulu daripada yang lain.
*) Khulfi M. Khalwani, Mahasiswa S3 Konsentrasi Keamanan Nasional, UNHAN RI
Pustaka:
Tan, Y., & Li, J. (2026). Rerouting to Asia: Drivers of Chinese Students’ Shift in International Higher Education Destinations Toward East and Southeast Asia. International Journal of Chinese Education, 15(1). https://doi.org/10.1177/2212585X251413785
