Harga Minyak Turun di Bawah US$ 80, Indonesia Berpotensi Hemat Besar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah menyambut positif perkembangan terbaru di Timur Tengah menyusul meredanya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel serta potensi terbukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak positif terhadap perekonomian Indonesia, terutama penurunan harga minyak dunia di bawah US$ 80 per barel yang dapat meringankan beban fiskal negara.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari mengatakan pemerintah tetap mencermati perkembangan geopolitik global secara hati-hati karena situasinya masih sangat dinamis. Namun, tren penurunan harga minyak dunia saat ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperoleh ruang fiskal yang lebih besar.
“Kita semua bersyukur dengan perkembangan terakhir berkaitan perang Iran, Amerika Serikat, serta Israel di kawasan Selat Hormuz. Walaupun tentu kita tetap harus menyambut ini dengan penuh kehati-hatian karena situasinya sangat volatile,” kata Qodari dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Baca Juga
Trump Klaim Kesepakatan AS-Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak Merosot Tajam
Menurut dia, salah satu dampak paling langsung dari meredanya ketegangan geopolitik adalah turunnya harga minyak dunia. Harga minyak yang sebelumnya sempat menyentuh kisaran US$ 93 per barel kini bergerak turun hingga berada di bawah US$ 80 per barel.
Penurunan tersebut akan mengurangi tekanan terhadap anggaran negara, mengingat Indonesia masih mengandalkan impor energi dalam jumlah besar.
“Ruang fiskal Indonesia akan lebih ringan terutama dengan penurunan harga minyak dunia yang terakhir angkanya di bawah US$ 80 per barel dari sebelumnya sekitar US$ 93 per barel,” ujar dia.
Qodari menambahkan, dengan kebutuhan impor minyak Indonesia yang mencapai sekitar 1 juta barel per hari, setiap penurunan harga minyak akan memberikan penghematan yang signifikan bagi pemerintah.
“Dengan kebutuhan impor Indonesia yang sekitar 1 juta barel per hari, tentu bisa dihitung berapa penghematan yang dapat dilakukan pemerintah. Ini kabar baik yang kita sambut dengan penuh harapan karena akan memberikan ruang fiskal yang lebih bagus,” jelas Qodari.
Selain harga minyak, pemerintah juga melihat sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan perbaikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di atas level 6.000, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali berada di bawah Rp 18.000 per dolar AS.
Baca Juga
Selat Hormuz Siap Dibuka Kembali, Minyak Brent Terjun di Bawah US$ 80
Di sisi fundamental, Qodari menilai kondisi ekonomi Indonesia tetap kuat. Cadangan devisa masih berada pada level yang aman, inflasi terkendali, dan rasio utang luar negeri relatif lebih rendah dibandingkan banyak negara lain.
“Fundamental ekonomi Indonesia sangat baik. Cadangan devisa kita masih di atas lima bulan (kebutuhan impor), inflasi terjaga, dan utang luar negeri kita juga di bawah rata-rata banyak negara lain. Dan tentu yang baik ini akan menjadi lebih baik lagi dengan perdamaian yang bisa dicapai di Timur Tengah,” ujarnya.
